Malunya Aku!

16 Oktober 2009

Pukul 07.00

Alarm telepon selularku berdering tepat di sebelah telingaku. Sungguh memekakkan sampai-sampai aku mengira itu sebagai sirine kapal laut yang akan segera berlayar. Bagaimana tidak, aku selalu menyetel volume suaranya hingga batas maksimal. Alih-alih untuk bisa membangunkanku malah justru membuat sensitivitas telingaku mungkin semakin menurun untuk mendengar.

Pagi ini tidak biasanya aku menyetel alarm di jam tujuh pagi. Biasanya kehidupanku selalu dimulai dengan angka sembilan. Entah sembilan pagi ataupun sembilan malam. Maklum saja pekerjaanku sebagai pengacara tidak menuntutku untuk bangun pagi, yah setidaknya begitulah menurutku. Motto hidupku, klien datang dan aku pun senang. Tidak peduli sepelik apapun permasalahannya, karena bagiku uangnya lah yang segalanya. Kalah menang yang penting uang di tangan.

Teleponku berdering lagi. Kali ini bukan alarm, tapi telepon dari klienku. Aku baru sadar jika 30 menit berlalu sedari tadi hanya menggeliat dan melamun di tempat tidur. Aku harus cepat-cepat karena hari ini persidangan menungguku.

Pukul 08.45

Percaya atau tidak, aku sudah sampai di pengadilan tempatku beradu argumen nantinya. Tenang saja hal itu bukan karena aku tidak mandi dan langsung memacu mobilku dengan kencang. Terang saja begitu cepat, jarak antara kantorku (yang juga sebagai tempat tinggalku) hanya berjarak satu kilometer. Jadi tidak akan ada yang bisa membuatku telat dengan siginifikan, kecuali jika aku tidak terbangun karena mabuk malam harinya.

Setelah ku parkir mobil mewahku, aku pun beranjak menuju pelataran taman untuk menemui klienku. Rencananya kami akan berdiskusi untuk merencanakan strategi yang akan kami gunakan untuk melawan hakim. Sekedar info, saat ini aku menangani kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh pejabat tinggi negara terhadap anak SMA. Kasus kecil dengan bayaran besar, menarik sekali bukan?

Lima menit sebelum persidangan dimulai, aku menemukan kepelikan yang selama ini kuanggap ringan. Lawan kami rupanya cukup cerdas. Korban pemerkosaan itu menyadari jika hal pertama yang harus dia lakukan adalah pergi ke rumah sakit. Karena dengan tindakan itulah bukti berupa visum yang mengancam klienku akan terlahir. Sialnya, tindakannya lebih dari itu. Ternyata dia mencabut kancing pelaku pemerkosaan itu.

Pukul 09.00

Persidangan dimulai, tidak biasanya aku merasa segugup ini. Para hakim dan jaksa memasuki ruang persidangan dilanjutkan dengan korban beserta kuasa hukumnya. Ternyata shock therapy ku baru dimulai. Sungguh terperanjaknya aku karena kuasa hukum korban alias lawanku ternyata pengacara ternama di negara ini. Bisa diibaratkan dia masuk jajaran top lima pengacara terhebat di Indonesia. Aneh!! Padahal korban pemerkosaan itu hanya anak seorang guru SD, lalu darimana datangnya uang untuk membayar pengacara semahal itu? “Bisa sekolah saja sudah syukur”, pikirku.

Sepuluh menit berlalu, seluruh persiapan pengadilan sudah rampung. Hakim telah mengetuk palunya dan persidangan pun dimulai. Aku beranjak ke tengah persidangan, mulai memberikan pernyataan awal tentang kasus pemerkosaan ini. Dengan suara lantang aku menyerukan pernyataan klienku yang menolak dituduh sebagai tersangka. Pembelaanku berlatarkan track record hidup sang pejabat yang tidak pernah tercoreng sedikit pun di media. Aku pun menyatakan bahwa sebenarnya korban hanya ingin memanfaatkan situasi untuk mendapatkan popularitas dan kekayaan. Terlebih lagi tuntutannya tidak lagi berjumlah milyaran, tetapi trilyunan

Sungguh banyak kulontarkan kata-kata yang aku harap dapat membuat korban terpojok dan merasa malu. Bahasa hukum dan kiasan kasar entah sudah berapa jumlahnya yang ia terima. Aku yakin dia akan menangis dan tidak sanggup lagi meneruskan persidangan. Lebih baik baik berlindung di ketiak ibunya daripada harus dipermalukan seperti itu. Itu sih seharusnya! Tapi apa? Tanpa aku duga duga dia justru berani berdiri dan protes ke hakim akan tindakanku yang mengintimidasinya.

Pukul 10.20

Tiba saatnya aku harus berdebat dengan pengacara terkenal itu. Membela antara yang nyatanya benar dengan orang yang harus kupaksakan menjadi benar. Malaikat versus setan, mungkin itulah judul pertandingan yang akan kuberikan jika hal ini masuk ke area gladiator. Atau angel and demon jika persidangan ini kujadikan sebagai film box office.

Persidangan semakin memanas, interupsi-interupsi mulai terlontar tanpa henti. Berbicara terus sampai tenggorokanku mengering dan hal itu tidaklah sia-sia. Saat ini aku sedang berada di atas angin, karena ternyata saksi yang melihat mobil klienku pada saat pemerkosaan itu tidak hadir. Tentu saja, aku yakin, karena dia pasti sedang meregang nyawa setelah berhadapan dengan orang-orang suruhanku. “Satu masalah terselesaikan”, pikirku.

Pukul 10.45

Dengan bodohnya klienku melakukan kesalahan fatal. Pembelaannya di depan hakim tidak seperti yang kami rencanakan. Celakanya, secara implisit dia justru membenarkan pernyataan korban. Aku sudah merasa pertanda buruk mulai mengelilingi suasana persidangan ini. Benar saja, tidak lama kemudian pengacara korban langsung membombardir pernyataan yang dilontarkan klienku.

Klienku mulai panik! Butiran-butiran peluh mulai jatuh mengalir di wajahnya. Bajunya pun sudah basah seperti cucian yang belum dikeringkan. Aku mulai memutar otak untuk memikirkan tindakanku selanjutnya. Sepuluh menit berlalu dengan perlawanan yang pelik, aku kembali dapat berpikir tenang.

Aku melangkahkan kakiku di depan hakim. Aku memintanya untuk melakukan rehat sejenak karena melihat kondisi klienku yang sangat pucat. Aku berkilah dia memiliki penyakit jantung dan takut jika sesuatu akan terjadi jika persidangan terus dilanjutkan. Dan akhirnya, hakim bodoh itu langsung mengetuk palu untuk menghentikan persidangan sejenak.

Pukul 11.25

Diam-diam aku bertemu dengan hakim yang memimpin persidangan klienku. Aku memang tidak mengenalnya, tapi aku cukup memberikannya pesan melalui kertas yang kuberikan saat ia keluar ruangan. Di ruang yang sekarang dimanfaatkan sebagai gudang, aku berbicara dengannya.

“Kasus ini selesai, dan kau akan dapat 20%. Aku rasa cukup”, ucapku padanya

“Kau yakin? Apa kau tahu seberapa tinggi harga keadilanku?”, jawab hakim itu.

“Tentu tidak lebih besar dari apa yang kusebut kemewahan. Sudahlah, tidak perlu berlagak tidak perlu seperti itu. Aku yakin gajimu takkan bisa membuatmu merasakan apa arti hidup.”, ungkapku berusaha untuk membujuknya.

Lima menit ku berdebat dengan dia, tanpa menemukan titik temu. Aku pun memutuskan untuk membiarkannya menyesal nantinya, ”Toh, nanti aku pasti menang”, pikirku.

Pukul 11.30

Persidangan kembali dimulai dengan agenda penjelasan tentang keambiguan pernyataan yang dilontarkan klienku. Jujur saja, ideku telah terhenti sampai minta kelonggaran waktu dan memberikan uang kepada hakim. Aku melangkah dengan cukup lunglai, yah bisa dibilang tidak sesemangat di awal persidangan.

Aku bingung untuk memikirkan kata-kata yang harus kulontarkan dari bibirku. Entah pembelaan, entah ungkapan meyerah, atau apapun itu. Aku hanya terdiam dengan pose berpikir. Sampai tiba saat hakim menegurku.

“Persidangan baru saja dimulai, lalu kenapa kau hanya tertegun diam?”, ucap hakim

“Maksud anda?”, jawabku

Tentu saja aku bingung, karena tiba-tiba hakim melontarkan kata-kata sefrontal itu. Memang sedari tadi apa yang sudah aku dan lainnya lakukan. “Bukankah persidangan sudah berlangsung sejak tadi? Apa hakim ini sudah gila karena menyesal menolak uang yang kutawarkan?”, pikirku.

Pukul 11.45

Lawanku beranjak dari kursinya. Tidak lama kemudian ia menginstruksikan untuk menghentikan persidangan ini. Polisi pun bermunculan di area persidangan, diiringi dengan pemborgolan di kedua tanganku. Aku sontak kaget, semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Aku pun bertanya kepada hakim tentang maksud semua ini.

Dengan mudahnya lalu ia berkata, “Kau ingat tadi kau bertanya seberapa besar harga keadilanku? Sekarang kau harus tahu, bahwa harga keadilanku tidak akan bisa kau nilai dengan kebebasan yang mungkin akan kau usahakan”,

Kemudian klienku pun bangkit dan berkata hal serupa, “Aku telah berbohong kepadamu karena sebenarnya kasus ini adalah jebakan untukmu. Semua ini hanya fiktif. Orang suruhanmu pun sudah meringkuk dan babak belur tepat di hadapanku. Aku minta maaf karena kebohonganku. Tapi aku tidak akan merugi, karena harga kebohonganku tidak setara disbanding dengan harga keadilan yang selama ini telah kau beli dan salah gunakan”.

Pukul 12.00

Saat ini adalah saat terkelamku dalam hidup. Seluruh kerja keras, harta, dan karierku hancur dalam waktu tiga jam. Tiga jam yang biasanya kumanfaatkan untuk bisa mengeruk uang dengan menang persidangan. Namun kini, tiga jam itu telah membawaku untuk dapat mengukur berapa harga keadilanku. Karena tampaknya tiga tahun saja tidak akan bisa kulewati dengan udara bebas dan lepas.

(Sheny Diah Puspita)
*tulisan pernah dimuat dalam rubrik Igauan pada Majalah Economica 43

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s