Pengumpat, Tak Lebih dari Pecundang

“Bangsat!”

Ya, aku baru saja merutuk. Bagaimana tidak? Di saat kurang dari setengah jam lagi aku harus mengumpulkan makalah kepada dosenku, printer di rumahku ngadat.

“Sialaaan!” Dua kali merutuk, ketika kulirik jarum jam terus bergerak. Kupukul printer laknat itu, sudah berulang kali aku susah dibuatnya. Printer yang satu ini memang selalu sukses membuatku jengkel di saat yang tepat, di saat aku benar-benar membutuhkannya. Aku semakin geram ketika ingat dosenku itu terkenal tegas. Tak mau menerima keterlambatan dengan alasan apapun. Dan lagi, aku masih di rumah. Waktu tempuh ke kampus saja akan memakan waktu 45 menit.

“Aaaaaargghhh…!! Sudahlah! Bodo amat ah…” Aku segera mematikan komputer dan printer, meninggalkan makalahku begitu saja untuk beranjak masuk ke kamar.

“Ah, bego banget sih! Masa begini doang nggak bisa?!” ucapku setengah berteriak. Adikku baru saja menyodorkan PR matematikanya, bertanya padaku bagaimana cara menyelesaikan dua persamaan linear. Lalu kujawab dengan cibiran. Aneh, masa soal semudah itu pun dia tak bisa mengerjakan. Sejenak, pandanganku beralih kepadanya. Kulihat adikku tak berani menatapku, ia terus menunduk.

“Kamu lihat cara mengerjakannya di buku paket dulu, sana!” kali ini agak kurendahkan suaraku. Adikku mudah tersinggung kalau aku mulai berkata kasar kepadanya. Padahal yang barusan kuucapkan tak sepenuhnya ejekan, hanya sepenggal heran mengapa ia tak bisa mengerjakan soal semudah itu.

Ya, aku memang selalu merutuk, mengumpat, memaki siapapun atau apapun yang membuatku kesal. Sudah cukup sering pula orang-orang terdekatku mengingatkan tentang hobi burukku itu, namun aku tak terlalu ambil pusing. Kurasa hal yang wajar jika aku melontarkan makian. Aku hanya ingin melampiaskan kekesalanku, mengeluarkan energi negatif dalam diriku ketika amarah menguasaiku. Sangat manusiawi, kan? Lagipula bukan aku saja yang selalu merutuk, masih banyak orang-orang di luar sana yang juga tak henti-henti mengumpat saat berada dalam masalah. Jadi, untuk apa dipermasalahkan?

Aku justru tak habis pikir kalau melihat orang-orang yang selalu tersenyum sepanjang hari, bahkan ketika menghadapi masalah. Mereka selalu berusaha terlihat ramah dan ceria dalam menjalani hidup. Terlalu naif bagiku. Mereka terus berusaha untuk tetap terlihat tegar, tapi di mataku, mereka justru terlihat terlalu memaksakan diri. Untuk apa bersusah-susah memasang senyum lebar di wajah ketika kita memang tak menghendakinya? Usaha yang percuma. Toh, tersenyum pun tak membuat voila… masalah selesai sekejap mata! Menurutku, kalau memang amarah sedang di puncak ubun-ubun, keluarkan saja! Untuk apa ditutup-tutupi? Percaya bahwa selalu tersenyum hanya menunjukkan kepura-puraan, kuputuskan mengumpat jadi pilihan yang tepat bagiku. Sosok yang baru saja kubicarakan, tak lain adalah temanku sendiri, Daffa. Ia selalu melihat segala sesuatu dari sisi positifnya. Bertolak belakang dariku. Ibaratnya aku hitam, dan ia putih; kami sebuah kontras. Dialah orang yang, menurutku, terlalu memaksakan diri. Bahkan ia masih bisa tersenyum cerah, meski di malam sebelumnya ia baru diusir dari rumah oleh ayahnya. Keluarga Daffa memang bukan keluarga harmonis. Ayahnya yang temperamental dan ringan tangan sering menyulut konflik keluarga. Tapi ketika kutanya apakah ia benci kepada ayahnya, Daffa justru menggeleng, “Nggak juga kok. Lagipula karena keluarga gue seperti itu, gue tambah dekat dengan kakak gue…,” seulas senyum sempat tergambar di wajahnya.

You just try too hard…,” balasku kemudian.

“Daffa! Tadi gue ditelepon Pak Imam, PR Manager PT Perdana Multicitra, dan dia langsung memarahi gue!” aku berseru pada Daffa.

“Haah? Memangnya dia siapa? Ada apa sih Wang?” tanya Daffa. Lalu aku bercerita, mengingatkan Daffa bahwa PT Perdana Multicitra pernah kami tawari untuk menjadi sponsor acara seminar, di mana aku dan Daffa menjadi panitianya. Daffa menjadi penanggungjawab urusan sponsorship, sementara aku wakilnya. Akulah yang dulu rajin menghubungi PT Perdana Multicitra, menanyakan apakah perusahaan tersebut tertarik untuk menjadi sponsor. Tapi kemudian tawaran tersebut hanya berujung gagal. Lebih dari satu bulan Pak Imam menggantung jawaban kesediaannya kepada panitia. Dan menurutku itu berarti sebuah penolakan. Anehnya, barusan Pak Imam menghubungiku dan meminta bukti kontraprestasi PT Perdana yang telah menjadi sponsor. Terang saja, aku bingung. Menurut beliau, PT Perdana justru telah mentransfer sejumlah uang ke rekening panitia sebagai tanda setuju menjadi sponsor. Aku lalu membantah pernyataan beliau dan mengaku tidak pernah menerima uang darinya.

“Dan parahnya Daf, dia bilang kita ini persis anak ingusan yang nggak becus urusan kepanitiaan! Emosi dong gue dihina begitu!” ceritaku pada Daffa dengan berapi-api.

“Tapi lo nggak balas menghina Pak Imam kan?” Daffa sedikit curiga dengan apa yang akan aku lakukan selanjutnya.

“Karena gue tersinggung, ya gue bilang aja kalau dia itu penipu yang mencoba mengelabui panitia! Dia kira memangnya gue bodoh apa?!” ujarku masih dengan berapi-api. “Pak Imam semakin marah setelah gue bilang begitu, dan akhirnya dia berniat menuntut panitia. Dia mengancam, dalam waktu dekat ini dia akan mengadukan panitia ke pihak fakultas dulu,” akhirnya ceritaku mencapai akhir.

“Ya ampun Awang! Apa lo nggak bisa ya marah tanpa berkata-kata kasar?” Daffa mengecamku.

“Ah paling dia cuma menggertak Daf,“

“Wang, yang harusnya tadi lo lakukan itu bukan balas menghina, tapi mencari jalan keluar! Lo sadar nggak sih kalau makian lo justru memperkeruh masalah? Dari tadi lo cuma bisa menghina Pak Imam, atau kalau sudah bosan menghina, paling lo berganti mengeluh…,” Daffa menggantung kalimatnya

Aku cukup tersentak mendengar Daffa bicara seperti itu. Jarang ia berkomentar pedas ke orang lain, apalagi kepadaku, salah satu teman baiknya. “Ya wajar dong Daf, namanya juga lagi kesal. Ah lagian lo kayak nggak kenal gue deh,” jawabku enteng. Daffa memandangku tajam kali ini, lagi-lagi tak seperti biasanya. Selang beberapa menit, kami terus terdiam.

“Jadi begini ya cara lo menyelesaikan masalah? Lo justru hanya memperkeruh masalah,” akhirnya Daffa memecah diam lebih dulu.

“Maksud lo apa sih Daf?” tanyaku, tak kalah sengit.

“Dengar ya Awang, lama-kelamaan gue sadar, kebiasan buruk lo mengumpat itu membuat lo tak lebih dari seorang pecundang. Pecundang yang tak punya jalan keluar saat menghadapi masalah. Lo nggak tahu apa yang harus lo lakukan, makanya lo mengumpat dan mengeluh. Iya kan?” aku geram mendengarnya.

“Kalau lo nggak bisa atau mungkin nggak mau berubah, lo bisa menjadi seperti bokap gue nanti. Selalu melampiaskan kemarahan kepada anak-anak lo kelak…,” sempat terdengar Daffa menghela nafas di ujung kalimatnya. Daffa tidak ingin ada lagi anak yang merasakan seperti apa yang ia rasakan. “Lo boleh membenci gue karena ini, tapi gue katakan ini demi kebaikan lo, Wang,” dan Daffa segera berlalu meninggalkanku.

Shit!” ucapku pelan.

Harus kuakui, aku sangat jengkel mendengar ocehan Daffa tempo hari lalu. Beberapa hari ini aku dan Daffa tak lagi saling menyapa. Urusan dengan PT Perdana Multicitra pun kuhiraukan. Tapi terkadang aku mulai bertanya-tanya, apakah benar yang dikatakan Daffa? Apakah aku memang seorang pecundang? Apa aku hanya sedangkal itu?

Seperti yang pernah kuungkapkan, aku mengumpat hanya untuk mengelurkan amarahku. Aku cuma ingin merasa lega. Memang, rasa legalah yang kudapatkan kemudian. Tapi apa aku pernah memikirkan apa yang orang lain rasakan atas semua umpatanku? Toh, aku pun selalu emosi jika ada yang mencaciku. Saai itulah aku tersadar, aku selalu mengorbankan orang lain untuk meredakan amarahku. Aku bahkan tak mampu menguasai emosiku sendiri. Aku tak kuat menahan sesaknya gumpalan kemarahan dalam dadaku, sehingga aku harus menyemburkannya ke sekelilingku, ke orang-orang terdekatku. Aku baru merasa lega jika aku merutuk, mencaci, dan mengeluh. Keluhanku sejatinya ialah ungkapan ketakberdayaanku menghadapi masalah. Ya, aku kalah melawan diriku sendiri. Bodoh sekali aku selama ini, justru berbangga hati di saat sebenarnya aku tak berdaya. Pantaslah kalau Daffa menyebutku seorang pecundang.

Musuh terbesar setiap manusia tak lain ialah dirinya sendiri. Begitu sulit untuk menaklukkan diri sendiri. Tapi aku akan mencobanya. Aku akan buktikan bahwa aku bukan lagi pecundang yang tak bisa lampaui amarah diri. Aku bukanlah pengecut yang tidak sanggup menghadapi sulitnya hidup. Mulai saat ini aku akan belajar untuk mengganti luapan emosiku dengan sebuah senyuman ketika ada masalah, persis seperti Daffa. Oya, aku teringat dulu aku pernah bertanya pada Daffa apa yang membuatnya selalu tersenyum, dan dia menjawab, “Dengan senyuman, entah kenapa, gue jadi lebih mudah menyelesaikan masalah.”

Aku pasti bisa menyelesaikan kesalahpahaman dengan Pak Imam. Dan aku mengawalinya dengan sebuah senyuman!

(Ratih Dwi Rahmadanti)
*Tulisan pernah dimuat di rubrik Igauan pada Economica Papers 39

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s