Seuntai Catatan dari Gubuk Derita

Aku belajar dari sepetak gubuk. Gubuk mewah yang dimiliki oleh kaum papa yang beralaskan tanah merah dan atap triplek bekas. Dalam dimensi ruang itu, terungkap kenyataan pahit yang harus diterima. Ya, bagi mereka hidup ini sulit sehingga mereka merasa tak mampu berbuat banyak. Aliran Sungai Ciliwung yang mengalir di tengah padatnya perkampungan kumuh Jakarta membuat pemandangan depan rumah kaum papa menjadi semakin tidak menarik untuk dilihat. Airnya sudah menghitam karena tercampur sampah. Tetapi, tetap saja mereka gunakan untuk MCK. Bagaimana mereka tidak terjangkit penyakit yang aneh-aneh? Sanitasinya saja begitu. Sayangnya, mereka tidak tahu dan tidak mau tahu.

Di lorong-lorong jalan, aku melihat keceriaan dari anak-anak marjinal yang bermain dengan mainan alakadarnya. Hanya dengan batu yang mereka pungut serta beberapa kotak penanda di tanah yang digunakan untuk melompat. Mereka tertawa selepas-lepasnya. Dibalik baju lusuh, rambut merah, muka kucel dan tanpa alas kaki, mereka larut dengan kegembiraan yang seolah tak sirna. Dengan bermain begitu saja, terlihat sekali bahwa mereka menemukan dunia ajaib untuk diri mereka. Sungguh sebuah ironi.

Aku berjalan menyusuri titian nestapa mereka. Aku melihat mereka yang tengah berjuang di antara rumah kardus. Mencoba mencari peruntungan dengan mengerjakan apa yang bisa mereka kerjakan.Tak ragu mereka memungut dan mengumpulkan barang-barang bekas perumahan para konglomerat yang terletak di balik jeruji hidup miskin si kaum papa. Tak ada yang bisa dilakukan lagi selain bekerja di tengah puing sampah. Mengais rezeki di tengah kebusukan. Di tengah himpitan kemewahan para konglomerat, sebuah kenyataan struktural terselubung. Keberadaan mereka bagai menunggu bom waktu. Juragan tanah siap menggusur kapanpun dan dengan cara apapun. Yah..nasib..nasib. Rumah yang dulu sudah habis terbakar, sekarang harus rela digusur. Maklum, tanah garapan memang memang menjadi pijakan mereka selama ini. Tanah tidak legal yang mereka manfaatkan untuk bertahan hidup. Jika harus pindah, hendak tinggal dimana menjadi pertanyaan yang sudah tak asing lagi. Nomaden ? Ya, dinamika mereka tak berbeda dengan manusia purba.

Aku melihat mereka memiliki suatu kebanggaan. Kebanggaan yang aneh. Mereka bangga dengan kemiskinan dan kecacatan yang dimiliki. Mereka tak segan menengadahkan tangan dan memasang raut muka sedih hanya untuk meminta belas kasihan orang lain. Anggota tubuh yang tidak lengkap seakan-akan menjadi aset utama dalam mencari perhatian orang lain. Bahkan, tak selamanya kejujuran itu ada. Kaki dan borok palsu siap diperlihatkan untuk membuat orang tergugah merogoh saku. Kreativitas mereka sangat tinggi. Tekanan hidup yang keras memang membuat pemikiran seseorang keluar dari kotak dengan cara yang negatif.

Beberapa diantara anak-anak kecil miskin itu tak lagi punya orangtua. Terpaksa mereka tinggal sendiri atau ada orang yang mengadopsi mereka. Namun, orang-orang yang kelihatannya berniat baik mengadopsi itu  tak sedikit yang tega membiarkan anak kecil tak bersalah itu untuk mencari nafkah di jalan. Akibatnya, anak-anak itu sering melakukan vandalisme dan tak heran pula bahwa wataknya terbentuk menjadi watak preman jalanan. Bentuk eksploitasi terhadap anak-anak jelas tergambarkan disana. Bayangkan saja, anak-anak seusia SD dipaksa menjadi penjual ulekan. Ulekan yang terbuat dari batu. Langkah mereka tertatih-tatih karena bahu mereka harus kuat memanggul beberapa ulekan yang beratnya saja bisa mencapai 5 kg. Melihat itu semua, aku semakin yakin bahwa bukan ulekan lah yang sebenarnya dijual, melainkan raut wajah kasihan si anak yang dijadikan barang dagangan. Sayang, orang yang mempekerjakannya tidak peduli. Yang mereka pedulikan hanyalah bagaimana bisa mendapatkan uang untuk hidup sehari-hari melalui anak miskin yang mereka gunakan. Dari siapapun dan dengan cara apapun.

Anak-anak kecil miskin itu mungkin saja masih punya keinginan untuk sekolah. Tetapi, keinginan itu harus mereka kubur sedalam-dalamnya karena mereka memiliki keyakinan bahwa itu takkan mungkin. Keyakinan yang membuat miris siapa saja yang mendengarnya. Dunia ini sangat kejam rupanya. Tak salah kujuluki mereka dengan mental pengemis. Tangannya senantiasa menyambut uluran bantuan sesama. Hidupnya tak lekang dari ratapan iba orang lain. Mereka tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan sehingga memilih jalan seperti itu.

Berpijaklah aku di atas tanah yang menghujam bumiku ini. Aku pun tertegun sejenak menerawang jauh ke atas langit. Aku pun semakin tersadar bahwa sebenarnya Tuhan senantiasa memberi makan makhluk-Nya tanpa kurang suatu apapun di bawah jagat raya ini. Termasuk untuk mereka si kaum papa. Begitu mulianya Tuhan yang telah menciptakan semesta ini dengan sempurna. Bagaikan ribuan rangkaian listrik seri-paralel yang bersatu padu menghasilkan energi yang berguna untuk hajat hidup orang banyak, Jutaan bahkan trilyunan bulir-bulir air yang bisa membangkitkan generator pembangkit listrik. Ribuan bintang dan planet yang sampai sekarang pun para ilmuwan masih bergulat untuk memecahkan misteri tentang keajaiban luar angkasa yang tidak pernah terperi keindahannya

Sayangnya, si kaum papa tidak peduli hal itu. Mereka tidak punya daya dan upaya apapun. Bahkan, bermimpi saja sulit. Mimpi. Satu kata yang bisa menjadi stimulus bagi seseorang untuk meraih sesuatu. Ya, mereka tidak merasakan dan tidak memilikinya. Bagi mereka, gubuk deritanya sudah cukup. Kenyataan ini sulit, namun harus diungkapkan. Keberadaan mereka bagaikan setitik debu di bawah telapak kaki. Hancur diinjak kedigdayaan hidup ini.

Akan tetapi, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Manusia dianugerahi akal pikiran untuk menentukan hendak dibawa kemana hidupnya kelak. Begitu pula dengan mereka. Hidup mereka seperti itu karena mereka memilihnya demikian. Pilihan yang aneh,memang. Entah sampai kapan akan tetap begitu. Mungkin sampai mereka menghembuskan nafas terakhir dan titel yang terkenang selamanya adalah orang tersusah sedunia. Resistensi begitu melekat dalam diri mereka. Euforia dengan “kenyamanan” itu semakin menjadi-jadi dan akhirnya membunuh mereka sendiri. Mereka terperangkap oleh gua nya sendiri, Tak mampu melihat cahaya di luar karena takut terlalu silau. Itulah yang sebenarnya terjadi.

Hari ini dan seterusnya, aku belajar dari kenyataan bahwa seringkali hidup menjadi tidak adil karena manusia yang mengaturnya demikian. Tidak adil menurut siapa? Ya, bisa saja menurut orang lain yang menilainya. Ironisnya, orang yang mengalaminya belum tentu melihat ini semua sebagai bentuk ketidakadilan yang menimpa mereka. Siapakah yang sesungguhnya paling benar ? Tanyakan saja pada dirimu dan sekelilingmu.

Saat itu, hanya ada refleksi jingga pada awan. Para patriot kemiskinan bergegas kembali ke gubuk. Gubuk yang menjadi pembelajaranku hari ini. Sepetak tak bernyawa yang menyisakan cerita dan derita. Disanalah mereka berbagi canda, tawa, suka dan duka akan banyak hal. Mereka tak mengerti apa yang terjadi di luar sana. Lebih tepatnya tidak pernah benar-benar mengerti. Mereka tidak mengerti postulat kehidupan Albert Einstein bahwa kehidupan adalah 10 % dan sisanya 90 % adalah bagaimana manusia menghadapinya.

Tetapi, aku merasakan suatu hal. Tentang keikhlasan dan ketulusan. Aku mencoba mengerti bahwa di balik beban hidup yang semakin berat dan tindakan mereka yang diluar batas rasionalku, tetap saja mereka adalah manusia yang punya hati. Para orangtua sesungguhnya sangat menyayangi anak-anaknya. Orangtua yang rela berkorban, bahkan rela tidur di luar gubuk asalkan anaknya bisa nyaman dan hangat berada dalam gubuk yang seadanya. Orangtua yang rela tidak makan asalkan anaknya bisa kenyang terlebih dahulu. Orangtua yang rela tidak dapat peluang kerja walaupun itu hanya memulung asalkan anaknya yang sudah berkeluarga mampu memberi makan anak istri dalam sehari itu saja. Ya, orangtua yang selalu mendahulukan anaknya. Melihat anaknya bahagia adalah suatu keinginan berharga dari orangtua di belahan dunia manapun. Di tengah-tengah keterbatasan, terdapat curahan kasih sayang paling besar antara orangtua dan anaknya. Tuhan telah meniupkan suara hati pada orangtua yang senantiasa mendekap anaknya dalam hangat walaupun badai datang mendera hidup.

Aku tak perlu kalkulasi tentang seberapa besar kehendak Tuhan akan makhluk-Nya. Kaleidoskop hidupku dan mereka telah tersusun rapi dalam sebuah fragmen tak berkesudahan. Sebuah pembelajaran penting yang pernah aku terima dari sekelompok makhluk sempurna ciptaan Tuhan.

(Luluk Aulianisa)
*Tulisan pernah dimuat dalam rubrik Igauan pada Economica Papers 44

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s