Dasar Orang Indonesia . . .

Streotype.

Ketika UI memberikan fasilitas sepeda kuning yang bisa digunakan gratis oleh mahasiswa untuk kemudahan mobilitas dari satu tempat ke tempat lain di UI saya pesimis. “Paling bertahan setahun, karena banyak sepeda yang rusak sama mahasiswa,” begitu pikir saya.

Atau ketika tiba-tiba di kampus ada tanda dilarang merokok di beberapa tempat saya juga pesimis. Paling nggak akan lama karena banyak yang melanggar.

Namanya juga Indonesia.

Sifat orang Indonesia yang suka masa bodoh dengan peraturan yang ada, suka nggak peduli sama fasilitas umum, malas (terutama saya), nggak mau maju, suka korupsi, dan macam-macam lagi yang jeleklah yang sering jadi bahan alasan kenapa negara ini nggak maju-maju.

Bisa dilihat dari banyak lelucon dan guyonan tentang ini.

Saya sekarang masih mikir, emang itu bener? Padahal saya sering mengolok-olokkan hal itu sama teman-teman.

Sering lihat di Metro TV atau National Geographic yang isinya sejarah Indonesia, yang di situ diliatin kalau penjajah kita dari Jepang, Belanda, Inggris yang menganggap orang pribumi (Indonesia) itu bodoh dan malas. Mereka nrimo walaupun dijadiin budak, itu yang membuat Indonesia bisa dijajah lebih dari 350 tahun..

Itulah bagi saya streotype yang ditanam oleh penjajah dan masih dipertahankan oleh paham neoliberalisme agar mereka bisa mengeruk kekayaan alam di Indonesia sebanyak-banyaknya.

Buktinya mana? Di koran sering diberitakan anak Indonesia menang berbagai macam penghargaan dalam dan luar negeri, banyak ekspatriat Indonesia yang berhasil di negeri orrang dan bahkan dihormati di sana, banyak petani dan warga lokal yang berinovasi untuk mengembangkan usaha mereka, banyak juga kesadaran dari warga luar dan dalam pedalaman untuk menghijaukan kembali Indonesia.

Orang Indonesia nggak jelek-jelek amat kok.

Tapi kenapa sampai saya sendiri sering ber-streotype negatif sama Indonesia?

Orang Indonesia terbukti mau belajar, mau nabung, dan berhasrat ingin maju, damai lagi kalau nggak terprovokasi sama politik busuk itu. Opini yang jelek-jelek itulah yang sejak dulu dihembuskan dengan gaya ilmiah dan dengan dalih modernisasi sebagai tuduhan oleh kaum kapitalis yang jahat bagi negara-negara miskin dan berkembang.

Masalahnya kemudian orang Indonesia sendiri banyak dibodohi, sering dibuat nggak berdaya, dan dibuat secara konsumtif oleh pasar yang kemudian caranya dipelajarai oleh kami mahasiswa ekonomi.

Kalau masalah Indonesia nggak punya modal, mana? Kekayaan SDA dan SDM kita yang berjibun cukup untuk membuat kita menjadi negara yang terkaya minimal di Asia Tenggara. Indonesia punya semuanya! Masalahnya kita sekarang baru menyadari kalo 10 miliar barel minyak mentah kita sudah digali, lebih dari 70% hutan kita sudah dijarah, jutaan ton batu bara kita sudah dikuras abis, emas dan permata lain sudah dibawa kabur keluar negeri, dan banyak lagi. Jadinya, ya kondisi perekonomian kita yang kaya gini.

Dan sebenarnya Indonesia masih punya banyak modal lagi yang masih belum digali, kesempatan sebenernya belum habis.

Ada yang bilang, ketika kita mengemis dana diluar negeri, banyak dana dalam negeri kita yang ratusan triliun lebih banyaknya yang menganggur (saya nggak punya materinya, jadi nggak bisa buktiin). Dan walaupun APBN kita defisit tapi apa mungkin semua proyek direlisasikan tiap tahun? Nggak kali. Padahal ketika udah terproyeksikan kalo APBN sudah mau defisit, pemerintah langsung nerbitin SUN yang berarti nambah utang lagi, padahal belum tentu semua proyek bakal terealisasi.

Ironis

(Eriza Hanif)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s