Kebijakan Bea Cukai Distribusi Film Impor: Perspektif Dua Sisi Mata Koin yang Berbeda

Merupakan suatu rahasia umum jika sebagian besar masyarakat di Indonesia lebih memilih utuk menikmati film asing, terutama film Hollywood daripada film lokal. Kenyataannya, film asing memang memiliki kualitas yang lebih bagus. Baik dari segi alur cerita, kualitas pemain, maupun teknologi yang digunakan. Bukannya bermaksud untuk tidak menghargai film buatan sineas lokal, namun selama ini citra positif perfilman Indonesia sering tercemar oleh  film berbau horor ataupun komedi yang sama sekali tidak mendidik. Bahkan seringkali, hanya menonjolkan adegan vulgar demi popularitas semata. Memang, tidak semua dunia perfilman Indonesia seperti itu. Film Laskar Pelangi yang sukses di pasaran bahkan hingga mencapai pasar internasional membuktikan bahwa Indonesia punya potensi untuk menghasilkan film-film berkualitas. Dilihat dari apresiasi yang tinggi terhadap film Laskar Pelangi, sebenarnya masyarakat Indonesia haus akan film-film lokal yang bermutu.

Penetapan bea masuk atas distribusi film impor yang secara efektif telah diberlakukan dari bulan lalu pada awalnya tidak terlalu membuat kehebohan masyarakat. Hingga pada akhirnya, tanggal 18 Februari 2011 kemarin, setelah disiarkan di berbagai media bahwa Motion Pictures Association (MPA) yang merupakan asosiasi produser film Amerika menghentikan peredaran film Hollywood ke Indonesia. Keresahan masyarakat seperti tak terbendung lagi, banyak kekhawatiran apakah masyarakat akan bisa menikmati tontonan favorit mereka. Sebagian besar kecewa, sejumlah kecil mendukung, sebagian lagi tenang-tenang saja. Yang kecewa adalah mereka pecinta film asing, penghobi film bioskop, yang tidak pernah melewatkan untuk langsung menonton film segera setelah film dirilis. Yang mendukung adalah mereka yang melihat bahwa kebijakan ini sebagai suatu kesempatan untuk meningkatkan potensi perfilman Indonesia. Yang biasa-biasa saja adalah mereka yang jarang menonton film, baik film asing atau Indonesia, atau mereka yang suka film Korea, Bollywood, Thailand, atau juga mereka yang rela untuk menunggu beberapa bulan setelah film Hollywood dirilis hingga DVD bajakannya keluar.

Seputar pro kontra fenomena ini sangat menarik untuk dibahas. Selama ini, film-film Hollywood telah menjadi alternatif hiburan masyarakat metropolis. Di saat ruang gerak di  perkotaan semakin sempit dan tekanan hidup semakin berat, tontonan bioskop dapat dijadikan sebagai pelarian sejenak dari aktivitas sehari-hari. Dan juga, hiburan ini terjangkau, mudah dicapai dengan menjamurnya bioskop di berbagai sudut kota. Yang menjadi favorit biasanya adalah film-film Amerika yang dengan suksesnya telah membius masyarakat. Belum lagi dengan adanya film sekuel yang selalu ditunggu-tunggu kelanjutannya, seperti Harry Potter 7 Part 2, yang pastinya tidak dapat mereka tonton lagi secara langsung di bioskop, pasti akan menjadi suatu beban berat di hati para pencinta film. Sebagai rakyat kecil, penonton hanya bisa pasrah dan berharap kebijakan ini secepatnya direvisi agar produsen film Amerika bersedia memasarkan film mereka di Indonesia. Untuk sementara waktu, mungkin mereka bisa memanfaatkan DVD bajakan/original, TV kabel, sebagai penghibur sementara. Akan tetapi, konsekuensi jangka panjang yang ditakutkan apabila kebijakan ini tetap dilaksanakan dan MPA tetap bersikukuh tidak mau mengedarkan film mereka di Indonesia adalah DVD original film Hollywood yang dinantikan mungkin saja akan punah dari pasaran. Sementara itu, TV kabel sendiri dirasakan tidak terlalu menjadi substitusi kehadiran bioskop karena film yang diputar terkadang tidak langsung up to date, harus menunggu beberapa minggu kemudian. Kerugian juga tidak hanya akan mendera masyarakat penikmat film, namun industri bioskop pasti akan merasakan dampak yang cukup signifikan dari kebijakan ini. Pendapatan usaha bioskop dapat dipastikan, setidaknya untuk jangka waktu pendek, akan menurun drastis. Bukan tidak mungkin, banyak bioskop yang akan gulung tikar. Jika fenomena ini terjadi, apakah pendapatan negara yang diperoleh dari bea cukai akan sepadan dengan kerugian usaha bioskop-bioskop serta implicit loss yang mendera masyarakat?

Di balik setiap kebijakan yang kontroversial dan menekan masyarakat sekalipun, pasti terdapat sisi positifnya. Dalam tiap pertentangan yang terjadi, ada secercah sinar harapan yang menerangi kelamnya industri film Indonesia. Dengan adanya kebijakan bea cukai distribusi film impor ke Indonesia, maka film-film Hollywood yang selama ini menjadi pesaing berat film Indonesia akan menghilang (walaupun sebenarnya film Indonesia masih harus bersaing dengan film asing seperti Bollywood maupun film Korea). Hal ini tentunya akan menciptakan peluang lebih besar bagi sineas film Indonesia. Jika sineas film Indonesia jeli melihat peluang ini, mereka harusnya berlomba-lomba untuk menciptakan film bermutu tinggi yang bisa merebut hati masyarakat. Setidaknya, optimisme mereka untuk bersaing di industri perfilman Indonesia makin besar. Sebaliknya, jika sineas film hanya jalan di tempat memproduksi film yang mengecewakan, sudah dapat ditebak, industri film Indonesia akan kehilangan kepercayaan dari masyarakatnya sendiri, terpuruk, dan hancur. Jadi, semua tergantung produsen film Indonesia dan pemerintah apakah mereka dapat memandang sisi positifnya untuk memperbaiki citra  dan memajukan perfilman lokal atau tidak.

Bukan hal yang mustahil kan jika industri perfilman Indonesia suatu saat dapat disejajarkan dengan Hollywood?

(Afin Afini)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s