Ironi Malam Minggu

Dunia ini tidak diisi oleh satu jenis manusia saja. Dunia ini juga terlalu luas untuk diisi oleh hanya satu golongan masyarakat. Berbagai jenis manusia, berbagai aktivitas, berbagai kegiatan. Namun, ada beberapa aktivitas yang agak lucu, atau mungkin ironis, ketika disandingkan bersamaan.

Sabtu malam, atau yang lebih populer disebut dengan malam minggu, adalah waktu yang paling membahagiakan di penghujung minggu bagi sebagian orang, terutama kaum muda-mudi. Malam minggu adalah saat yang tepat untuk melepas penat yang sudah tertumpuk selama seminggu penuh. Malam minggu adalah malam yang istimewa karena pada malam itu kita bisa terlelap sepuasnya tanpa takut untuk bangun kesiangan keesokan harinya.

Sayangnya, hal itu tidak berlaku bagi sebagian orang. Ada beberapa orang yang dengan terpaksa harus melewatkan malam minggunya sama seperti malam-malam lainnya. Mungkin mereka bahkan sudah terlupa, atau tidak sadar, kalau malam itu adalah malam minggu, karena toh tidak ada  bedanya bagi mereka.

Suatu malam minggu pernah saya lewatkan sebentar di kereta ekonomi jurusan Bogor-Kota. Hanya sejenak memang saya melewatkan waktu di kereta itu, namun pemandangan yang saya lihat cukup membuat saya merasa agak tersindir.

Saya sering merutuk-rutuk tentang berbagai aktivitas di FE UI yang sering kali saya anggap merampas waktu luang saya. Tidak jarang saya mengeluhkan bahwa penghujung minggu saya harus dihabiskan di depan laptop demi setumpuk makalah dan tugas. Namun, ternyata banyak orang lain– bahkan yang usianya jauh lebih muda daripada saya–yang harus melewatkan malam minggunya untuk mencari sepeser uang untuk melanjutkan hidupnya dan hidup keluarganya.

Walaupun seringkali dihabiskan untuk mengerjakan tugas, setidaknya saya melakukan aktivitas tersebut di rumah yang nyaman dan didampingi bertumpuk cemilan yang disediakan oleh kedua orang tua saya. Tak jarang pula orang tua saya turut menemani sambil berbagi canda tawa hangat. Namun bagi mereka–termasuk anak-anak itu, malam yang seharusnya indah mereka lewatkan tetap dengan mendorong keranjang-keranjang berisi air minum, rokok, jeruk, atau ditemani dengan sebuah gitar lusuh. Tanpa lelah mereka menjajakan barang-barang dagangannya kepada orang-orang di sepanjang kereta itu. Beberapa cukup tertarik dan membeli sebagian dagangan mereka, namun sebagian besar acuh tak acuh.

Gerbong yang saya naiki adalah gerbong paling ujung di kereta itu. Seharusnya, ketika para pedagang tersebut sudah mendorong keranjangnya sampai di gerbong saya, mereka pasti merasa kelelahan dan berhenti sejenak untuk setidaknya menarik napas panjang sembari berdiri tegak, berhenti membungkuk untuk mendorong keranjang. Namun tidak, beberapa pedagang langsung memutar balik dan melanjutkan mendorong dagangannya ke arah sebaliknya, tanpa kenal lelah. Seorang anak seusia sepuluh tahunan bahkan tampak berkejaran bersama seorang bapak tua. Keduanya sama-sama mendorong keranjang dagangannya sambil tersenyum ceria. Mungkin itu ayahnya. Mungkin ia sedang bermain. Mungkin malam minggu mereka tidak seburuk itu dalam perspektif mereka. Saya hanya bisa tersenyum miris.

Tiba di Stasiun Kota, saya disambut oleh semarak kembang api dari arah museum Fatahillah. Cantik, sungguh cantik langit malam itu ditemani benderang kembang api membuat saya bertanya-tanya sedang ada perhelatan apa di area museum Fatahillah. Setelah sejenak berjalan, saya melihat sekumpulan orang berbaju putih duduk memenuhi pelataran Fatahillah. Ternyata sedang ada serangkaian acara pengajian untuk memperingati acara maulid nabi. Entah saya yang ketinggalan jaman atau apa, saya baru tahu kalau pengajian saat ini juga dirayakan dengan semarak kembang api.

Orang-orang berbaju putih itu hanya memenuhi sebagian kecil dari pelataran Fatahillah, mungkin dalam area 10 x 10 meter. Mereka duduk tenang sembari memanjatkan doa, yasin, maupun mendengarkan ceramah dari pada da’i-nya. Di sekelilingnya, tersebar dalam keremangan malam, banyak sekali pasangan muda-mudi yang bergandengan tangan, berdiri memandangi orang-orang berbaju putih tersebut.

Tak jarang dari para pasangan itu yang wanitanya mengenakan jilbab. Bukannya bermaksud men-stereotype-kan para perempuan yang mengenakan jilbab, saya hanya bertanya-tanya dalam hati, adakah peperangan batin di benak mereka mengenai tempat seharusnya mereka berada. Di tengah kerumunan orang-orang berbaju putih tersebut, memanjatkan doa kepada Yang Maha Kuasa, atau berada di samping sang kekasih, bergandengan tangan dan hanya terdiam menyaksikan orang-orang yang berdoa itu?

Di pinggir-pinggir museum, yang areanya telah berubah menjadi seperti pasar malam, muncul ironi-ironi lainnya. Berjajar para peramal nasib yang sedang bersaing mengadu peruntungannya. Para peramal nasib itu tampaknya cukup beruntung malam itu. Banyak muda-mudi yang minta dibacakan peruntungan nasib, maupun cintanya, baik melalui garis tangan ataupun dengan bantuan kartu tarot. Beberapa dari para peramal nasib itu adalah bapak-bapak yang mengenakan peci dan berbaju putih. Baju mereka mirip dengan orang-orang yang sedang melakukan pengajian. Namun, siapa sangka, baju mirip, bukan berarti aktivitas harus sama. Mungkin kepercayaan mereka juga berbeda.

Hari itu, tanggal 26 Maret 2011, juga bertepatan dengan kegiatan Earth Hour. Ada yang bilang, tempat-tempat pariwisata memang tidak wajib melaksanakan Earth Hour, tapi saya penasaran. Benar saja, ketika jarum jam tangan saya telah menunjukkan pukul 20.30, tidak ada perubahan aktivitas apa pun di area museum Fatahillah. Orang-orang yang mengikuti pengajian tetap gencar dengan suara speaker-nya mengalunkan ayat-ayat Allah. Para pedagang kaki lima pun tetap semarak diterangi minimal oleh satu lampu di setiap kiosnya. Mungkin ada lebih dari seratus kios di area itu, berarti lebih dari seratus bola lampu menyala, sementara di bagian lain Jakarta sedang senyap menikmati sejenak kehidupan tanpa listrik.

Ya sudahlah, mungkin saya yang salah tempat. Kalau memang ingin menikmati keredupan Earth Hour, ya jangan berada di tempat keramaian seperti itu. Tapi saya tidak menyesal, malam minggu itu saya bisa mendapat banyak pelajaran–setidaknya pengalaman. Banyak ternyata potret-potret kehidupan yang sungguh berbeda namun berjalan berdampingan di ibukota negara ini. Mungkin lain kali, saya akan berusaha untuk tidak merutuk ketika harus melewati malam minggu saya di rumah, di depan laptop dengan setumpuk tugas. Karena masih banyak anak-anak lain yang harus melewati malam minggunya diterpa angin, atau bahkan hujan, demi mencari sesuap nasi.

(Desti Maharani)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s