Benar-Benar Benar

Saya bingung. Sumpah, saya bingung dengan segala yang ada di diri saya, semua yang ada di sekitar saya, semua yang ada di kepala saya.

Saya sungguh tidak begitu tahu mana yang benar dan mana yang ‘dikondisikan’ untuk benar sehingga harus saya percayai.

Jelas, saya harus mempercayai diri saya sendiri, saya ada di sini dan berpikir hal demikian, berarti saya tidak bohong kalau saya ada! Dengan banyak hal yang bisa saya berikan bagi semua orang di sekitar saya, tidak mungkin jika saya tidak ada.

Saya tundukkan kepala, melihat secara fisik ada dua kaki yang berpasangan, dua tangan, perut yang semakin membesar, dengan kepala yang masih bisa menoleh setiap melihat wanita cantik yang lewat di depan saya. Saya manusia!

Kodrat saya yang mengharuskan saya memilih, merasakan, mempunyai nafsu, berpikir segala macam, oportunis, ingin menang, segala yang mengurangi rasa sampah kemanusiaan itu tidak akan mengurangi sifat saya sebagai manusia.

Saya mengatasnamakan Tuhan atas segala sesuatu, entah yakin atau tidak. Ibadah-ibadah-Nya saya lakukan, walupun lebih karena perasaan malu pada teman. Di luar kerajaan langit yang saya percayai, saya tidak bohong walaupun mungkin tidak yakin.

Jelas saya lebih baik dari mereka, beberapa pemprotes yang harus bertengkar satu sama lain, atau dengan yang lainnya atas dasar kearoganan karena mereka percaya dan yakin.

 

Saya hanya mengetahui satu rahasia dunia, kebenaran tidaklah universal.

Itulah yang membuat saya bisa mendaki hingga puncak karier saya sekarang. Saya hanya memberikan banyak kebenaran yang ‘benar’ menurut mereka. Saya tahu, itulah yang membuat mereka senang.

Pekerjaan saya hanyalah rapat-rapat yang tidak jelas karena ilmu yang saya dapatkan saat SMA tidak sebanding dengan yang mereka bicarakan. Saya tinggal mengikuti alur yang harus saya katakan dari partai tempat saya bernaung, mudah kan? Dari situ saja saya sudah kelihatan pintar.

Bullshit! Itu orang-orang  ahli di depan yang katanya lulusan universitas ternama, saya semalam sudah mengobrol banyak dengan mereka.

“Saya memang memerlukan orang-orang macam mereka.”

 

Hahahaha, lihatlah diri kalian, memakai jaket yang melambangkan kebanggaan, berteriak-teriak hal yang miris, padahal kalian hanya mengetahui dari satu sudut pandang! Mempercayai apa yang orang bodoh bicarakan, padahal kenyataan ada di dalam tas berat yang kalian bawa pada saat menjelang ujian.

Yang kalian lakukan hanyalah mengorbankan kebenaran yang seharusnya kalian dapatkan hari ini untuk sebuah ketersia-siaan.

Sumpah, kalian yang dibawah saya masih berteriak-teriak soal kebenaran. Kebenaran yang kalian teriakkan itulah yang sebenarnya adalah kebohongan! Kebohongan dari para orang-orang yang tidak senang dengan kebenaran yang kami berikan, yang lalu kalian percayai.

Kalian yang berteriak-teriak di depanlah yang tidak menyadari kebenaran. Memprotes kebenaran yang kalian anggap sebuah kebohongan. Padahal mereka tidak menyadari, bahwa ketika kebenaran yang mereka inginkan kami beri, ada kebenaran lain yang lebih menyakitkan dari ini.

Tentu saja saya tahu, karena banyak mengikuti rapat yang kalian tuntut pada kami, saya menjadi lebih pintar sejak sebelum mencalonkan diri.

“Kalianlah yang bodoh, tapi jujur, saya suka.”

 

Kesalahan yang sebenarnya ada pada sumber kepercayaan kalian yang hanya menyukai beberapa kebenaran yang kami berikan, dengan sangat jarang mengekspos kebenaran lain yang kami beri, karena itulah yang kalian sukai!

Karena sedikit kebenaran kami akan memancing hal-hal yang akan terus diceritakan kepada kalian, meraka tak akan kehabisan bahan karena itulah yang mereka harapkan.

Mereka harus pandai-pandai memancing dengan hanya satu umpan karena kalian para ikan sudah bergerombol berebutan memakannya dan mempercayai bahwa umpan yang diberikan itu sudah satu keseluruhan.

Karena apa jadinya jika seluruh umpan mereka berikan? Mereka tidak akan bisa memancing lagi, sudah habis kalian minta.

“Payah kalian, tapi saya senang.”

 

Sialan, lama-lama kesal juga, kenapa kalian terus berteriak? Soal Bank Century? Soal skandal pajak? Jumlah pengangguran? Pertumbuhan ekonomi? Kemiskinan? Soal KPK? KPU? Itu bukan kebohongan! Kami hanya menjelaskan yang perlu kalian ketahui. Dampak sistemik jika kalian tahu lebih dari ini tidak akan bisa kalian bayangkan!

Sumpah, kami tidak bohong. Yang kami lakukan hanyalah memilih mana kebenaran yang paling mengenakkan untuk kalian, dan itulah yang kami ceritakan!

Justru yang kami berikan itulah kebenaran! Saat orang-orang menyadari bahwa tidak ada hal yang benar-benar benar, maka dia akan mencapai tahap kebenaran tertinggi, bahwa saat ini sudah tidak ada hal yang namanya benar.

Saya selalu makan yang namanya kebenaran, begitu juga dengan kalian. Bedanya saya dalam bentuk realita yang saya lihat dan alami setiap hari dan kalian hanya muncul secara tersirat dalam banyak text book yang hanya kalian baca sekali-sekali.

 

Bukankah kalian terbiasa dengan kebenaran ini? Kalian menyukai janji-janji kami, kata-kata gombal kami, dan kalian tetap memilih kami! Siapapun yang berada di posisi saya sekarang akan melakukan kebenaran yang saya lakukan sekarang, kalian tidak usah berteriak-teriak!

Banyak kebenaran yang ada malah menjadi buah cibiran dan sorakan bagi kalian. Karena kalian justru lebih menyenangi kebenaran seperti ini. Produk-produk yang berpromosi dengan kebohongan malah kalian beli, artis-artis yang selalu berbicara kebohongan malah kalian sukai. Karena kebenaran yang seperti ini akan lebih menarik untuk kalian cermati!

 

Saya tahu, kalian sama seperti saya. Akan memikirkan pantat sendiri-sendiri ketika duduk di sebuah kursi yang panas. Akan mencoba menyelamatkan diri sendiri ketika ada di sebuah permasalahan. Akan membela golongan sendiri-sendiri ketika menjelang pemilihan, akan memikirkan apa yang akan kalian dapatkan atas apa yang kalian berikan, akan mencoba memberi dengan sepenuh hati ketika ditawari sesuatu hal yang kalian inginkan, akan mempercayai sesuatu ketika kalian memang memikirkan hal itu, benar bukan?

Saya bingung, kalian yang sebelum berteriak-teriak maju, duduk merokok sambil tertawa-tawa dalam beberapa menit berubah menjadi orang-orang bak pahlawan. Diluar sebuah keyakinan atas dasar ketidak tahuan kalian, saya salut pada kalian! Karena saya harus mempelajari itu bertahun tahun dahulu sebelum bisa melakukan itu untuk bisa menjadi seperti ini!

Jangan bilang kalau kalian meneriakkan hal ini atas dasar ilmu yang kalian dapatkan. Justru kungkungan studi kalianlah yang membuat kalian tidak membuka mata atas kebenaran yang kami berikan! Dari sedikit buku kontroversial dan omongan beberapa provokator yang kalian anggap benar  itulah yang kalian jadikan pijakan. Justru karena sempitnya ilmu saya bisa menjadi seperti ini, sama dengan kalian.

“Tapi saya tetap senang.”

 

Kalian akan jadi orang yang lebih hebat dari saya, kalian tahu?

 

(Eriza Hanif)

*tulisan dimuat di rubrik Igauan pada Economica Papers 50

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s