Bukan Sekedar Isu Larangan Merokok

Bahaya merokok terhadap kesehatan tubuh tentu bukan isapan jempol belaka. Efek negatif dari penggunaan rokok juga telah diketahui dengan jelas. Berbagai penelitian membuktikan bahwa kebiasaan merokok dapat meningkatkan risiko timbulnya penyakit seperti jantung, kanker paru-paru, bronkhitis, dan berujung pada kematian dini. Selain bahaya yang dihadapi oleh perokok aktif, perokok pasif (secondhand-smoke) pun memiliki potensi yang serupa. Artinya, kebiasaan merokok tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang yang berada di sekitarnya. UI menanggapi isu ini dengan memberlakukan larangan merokok yang dilakukan secara bertahap sejak tahun 2008. Lalu, sudah efektifkah pelaksanaan kebijakan tersebut?

Budaya merokok, budaya Indonesia?

Tembakau dan rokok adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan keberadaannya. Sekitar 98% produk tembakau di Indonesia digunakan untuk memproduksi rokok. Hal ini diperparah dengan meningkatnya konsumsi rokok di dunia dari tahun ke tahun. Sebuah penelitian hasil kerjasama antara Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI), Kantor Perwakilan World Health Organization (WHO), serta pemerhati masalah tembakau, meneliti lebih lanjut dampak tembakau dan pengendaliannya di Indonesia. Hasil  penelitian tersebut memaparkan data bahwa prevalensi anak muda usia 15-19 tahun untuk merokok terus meningkat, yaitu sebesar 7,1% di tahun 1995, naik menjadi 12,7% di tahun 2001, dan masih terus meningkat hingga 2004 (data terakhir) yakni mencapai angka 17,3%. Peningkatan angka mengindikasikan masih kurangnya kesadaran generasi muda terkait bahaya merokok yang sekaligus menjadi momok bagi masa depan bangsa.

Kondisi meningkatnya jumlah perokok aktif di Indonesia selain oleh disebabkan oleh kesadaran pribadi yang masih kurang juga upaya pemerintah yang dinilai belum maksimal menekan peningkatan angka tersebut. Fuad Baradja selaku Ketua Bidang Penyuluhan dan Pendidikan di Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), menyatakan bahwa Indonesia adalah negara tunggal di Asia yang tidak memiliki undang-undang atau peraturan yang mengendalikan rokok secara baik dan benar berdasarkan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) tahun 2005 yang diselenggarakan oleh WHO. Indonesia adalah salah satu negara yang tidak mau menandatangani kesepakatan tersebut. Sungguh ironis, padahal Indonesia merupakan negara pengkonsumsi rokok ketiga terbesar di dunia, setelah RRC dan India. Terkait dengan hal ini, organisasi kesehatan sedunia, WHO, telah memberikan peringatan bahwa dalam periode tahun 2020-2030 tembakau akan membunuh 10 juta orang per tahun, 70% di antaranya terjadi di negara-negara berkembang.

Lingkungan keluarga, sekolah dan kampus yang notabene merupakan area pembelajaran terbaik untuk memulai tindakan dini pencegahan merokok, justru menjadi area pembentukan budaya merokok itu sendiri. Contoh sederhananya di lingkungan keluarga, idealnya anggota keluarga dapat memberikan contoh yang baik akan bahaya merokok, namun berdasarkan penelitian Lembaga Demografi FE UI dan WHO, sebesar 71% keluarga Indonesia mempunyai minimal satu perokok. Jika sudah begini, kemana anak-anak generasi penerus bangsa harus mencari panutan yang tepat?

Larangan Merokok di Lingkungan UI

Universitas Indonesia sendiri telah merencanakan “UI Bebas Asap Rokok 2012” sejak tahun 2008. Kebijakan ini dilaksanakan secara bertahap. Beberapa fakultas telah terlebih dahulu menegakkan aturan larangan merokok, kini giliran Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang menggalakkan aturan tersebut. Menyadari adanya pro-kontra mengenai hal tersebut, pada tanggal 17 Februari 2011, BPM FEUI mengadakan diskusi dengan tema “Isu Larangan Merokok di Area FE UI”. Dalam diskusi ini hadir pembicara dari pihak kemahasiswaan FE UI, A. A Ayu Ratna Dewi dan Banu Muhammad.

“Sebenarnya larangan merokok tidak hanya diterapkan di FE UI, tetapi di Universitas Indonesia secara keseluruhan sejak tahun 2008. UI akan menolak BOP mahasiswa yang orang tuanya menggunakan rokok dan beasiswa yang diajukan oleh perokok maupun tawaran pemberian beasiswa dari perusahaan rokok,” terang A.A Ayu Ratna Dewi di awal diskusi.

Beberapa pertanyaan pro-kontra pun bermunculan dalam diskusi tersebut. Salah satu diantaranya cukup menarik. “Perokok sudah membayar cukai rokok sehingga bebas menikmati rokoknya, sementara mereka yang tidak merokok memang tidak membayar cukai rokok sehingga tidak ada hak untuk melarang seseorang merokok,” lontar seorang mahasiswa di tengah diskusi.  “Berdasarkan hasil penelitian Abdillah dan kawan-kawan dari Lembaga Demografi FE UI menunjukkan bahwa cukai rokok tidak menutup eksternalitas negatif dari rokok,” Banu Muhammad meluruskan. A.A Ayu Ratna Dewi menambahkan pernyataan yang kiranya dapat dijadikan bahan perenungan, “Jangan menggunakan hak minoritas untuk kepentingan mayoritas sehingga merasa ekslusif. Seseorang berhak untuk merokok tetapi hargai juga hak orang yang tidak merokok terutama penegakan aturan larangan merokok di lingkungan akademik.”

Kebijakan yang Sulit Ditegakkan

Fuad Baradja mengatakan bahwa dirinya tidak heran jika penerapan aturan larangan merokok di lingkungan kampus sulit dilaksanakan. Pertama, masih kurangnya pemahaman masyarakat kampus tentang bahaya asap rokok dimana yang merokok tidak sadar dan yang tidak merokok juga belum sepenuhnya mengerti bahwa dirinya sedang dalam posisi yang berbahaya akibat asap rokok orang lain. Kedua, dia meyakini adanya usaha industri rokok untuk menggagalkan usaha tersebut dengan memberikan sponsor untuk acara acara kegiatan mahasiswa, seperti musik, pentas seni dan lain-lain. Industri rokok mengharap dukungan agar smokefree campus tidak bisa dijalankan karena menjadi ancaman bagi keberlangsungan pemasaran rokok kepada para remaja atau mahasiswa yang diharapkan menjadi calon-calon pelanggan tetap. Ketiga, masih banyaknya dosen yang merokok sehingga sering mementahkan usaha menjadikan kampus yang bebas asap rokok ini.

Solusinya hanya Sinergitas dari Seluruh Sivitas Akademika

Jika menilik kembali pelaksanaan kebijakan bebas rokok di lingkungan UI, sejauh ini belum ada sanksi tegas bagi perokok di lingkungan FE UI, hanya sebatas teguran dari satpam dan pihak-pihak berkepentingan. Sebaliknya, aturan yang lebih ketat mengenai larangan merokok diterapkan di beberapa fakultas lain, salah satunya oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) UI dimana terdapat sanksi berupa denda bagi orang yang merokok di lingkungan fakultas.

Budaya yang ada di tiap fakultas berbeda-beda, konsekuensinya pihak Universitas Indonesia harus menjalankan kebijakan bebas asap rokok dengan perlakuan yang berbeda-beda pula jika ingin kebijakan ini diterapkan di seluruh fakultas Universitas Indonesia. Di sisi lain, seluruh sivitas akademika, sudah sepantasnya menyadari bahwa kebijakan ini tidak akan mewujud jika salah satu komponen saja menolak untuk berpartisipasi.

 

(Alia Noor Anoviar & Vimala Dewi Nurcahyani)

*tulisan dimuat dalam rubrik Dialektika pada Economica Papers 50

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s