Ilusi Potensi

Potensi, sebuah kata sakti yang seringkali diucapkan di negeri ini. Semenjak kecil kita terus diyakinkan bahwa negara ini mempunyai potensi yang sangat besar. Masih lekat di ingatan saya, di setiap buku Ilmu Pengetahuan Sosial SD selalu dikatakan bahwa lokasi Indonesia di dunia sangat strategis karena berada diantara dua benua dan dua samudera, Benua Asia-Australia dan Samudera Hindia-Pasifik. Indonesia mempunyai tempat wisata yang indah, tanahnya subur, komoditas kelautannya melimpah, pulaunya melimpah, sumber daya alamnya melimpah, dan penduduknya pun melimpah. Begitulah yang sering disampaikan buku-buku wajib masa Sekolah Dasar, terutama Pendidikan Kewarganegaraan dan Ilmu Pengetahuan Sosial. Sebanyak itu potensi-potensi yang Indonesia miliki, sebanyak itu kelimpahan, tetapi 31 juta masyarakatnya masih berada dibawah garis kemiskinan. Seiring dengan berjalannya waktu kita disadarkan bahwa segala macam potensi-potensi tersebut banyak yang berujung pada keironisan.

Fakta yang ada di Indonesia memang tak semenarik apa yang disajikan di buku-buku SD. Banyak fakta-fakta miris, entah ditutup-tutupi atau memang jarang disadari keberadaannya di Indonesia, yang tidak diajarkan kepada generasi-generasi muda. Misalnya, potensi pariwisata Indonesia dihalangi oleh susahnya aksesibilitas dan fasilitas yang tidak memadai. Kesuburan tanah di Indonesia dibarengi dengan keberadaan gunung-gunung berapi teraktif di dunia. Daratan Indonesia pun merupakan salah satu yang paling labil di dunia karena berada diantara tumbukan tiga lempeng, India-Australia, Eurasia, dan Pasifik sehingga rawan sekali bencana gempa bumi. Laut seluas 7,9 juta km2, atau sekitar 81% dari total luas negara ini, ternyata belum dapat mensejahterakan masyarakatnya. Justru, sering kita lupa bahwa keadaan geografis kita sebagai negara kepulauan sebetulnya menimbulkan tantangan lebih untuk program pemerataan kesejahteraan karena biaya transportasi yang dibutuhkan bisa berkali-kali lipat mahalnya dibandingkan dengan daerah yang menyatu dalam satu daratan. Sumber daya alam yang Indonesia miliki memang melimpah, tapi berapa persen yang masih dikuasai lokal atau negara? Lebih dari 50% dikuasai asing. Bahkan menurut data Walhi, hampir 90% minyak bumi kita dikuasai perusahaan-perusahaan asing.

Mudah bagi kita untuk mengutuk mengapa pemerintah tidak bisa menguasai perminyakan di bumi pertiwi ini sendiri, namun tidak semua orang mudah untuk menerima bahwa kita memang tidak mampu secara finansial untuk mengolah minyak bumi kita. Total diperlukan sekitar 150 juta dolar untuk mengakuisisi satu ladang minyak saja, mulai dari perizinan sampai pembuatan sumur, belum tentu pula ada gas atau minyaknya. Mana ada perusahaan pembiayaan keungan di Indonesia yang mau menggelontorkan dana segitu besar untuk resiko yang sangat besar pula? Maka dari itu pihak asinglah yang kuat untuk mengakuisisinya. Mirisnya lagi, cadangan minyak Indonesia sudah kritis dan diperkirakan hanya cukup untuk 12 tahun kedepan. Cadangan gas bumi Indonesia diperkirakan hanya bertahan untuk 63 tahun, sementara cadangan batubara untuk 77 tahun.

Indonesia memang merupakan negara berpenduduk terbanyak ke empat sedunia, tapi apakah kuantitas tersebut berbanding lurus dengan kualitasnya? Faktanya, 56% angkatan kerja kita hanya lulusan SD ke bawah. Kualitas penduduk Indonesia berdasarkan pengukuran UNDP saat ini berada di peringkat 111 dari 182 negara di seluruh dunia, jauh di bawah Singapura (23), Malaysia (66), dan Thailand (87). Penrtumbuhan pesat kuantitias penduduk yang tidak dibarengi dengan pertumbuhan kualitasnya akan dapat menjadi bom waktu bagi Indonesia, karena apbila hal ini tidak diatasi, maka keuntungan ekonomi dari pembangunan habis tersedot untuk mengatasi kemiskinan dan membiayai kesehatan. Melihat fakta-fakta tersebut, mungkin tidak ada salahnya kita melihat Indonesia dari sudut pandang lain.

Apa gunanya optimisme yang besar jika tidak dibarengi dengan aksi yang besar pula? Kadang lebih ampuh diberi bayang-bayang neraka untuk kembali ingat Tuhan dibanding dijanjikan kemulukan surga. Kadang merasa kurang, merasa bodoh, atau merasa tidak punya adalah hal yang justru membuat kita terus berusaha. Discontent is the first step of progress, kata Oscar Wilde. Apalah kekayaan alam yang dimiliki Jepang, Singapura, Swiss, atau Belanda? Jika diibaratkan manusia, Indonesia terlahir jauh lebih beruntung dibandingkan negara-negara tersebut.

Singapura dulu hanyalah negara pelabuhan seukuran Jakarta yang kotor, semrawut, dan penduduknya pun minim. Namun, mengetahui bahwa mereka kurang akan potensi sumber daya alam, kualitas penduduknya pun dinaikkan semaksimal mungkin. Dikatakan Lee Kuan Yew bahwa penduduk Singapura merupakan aset terpenting yang mereka punya. Sekarang, Singapura merupakan negara termakmur di ASEAN dan sektor finansialnya merupakan salah satu yang paling maju di Asia.

Hampir separuh kawasan Belanda berada 1 meter di bawah permukaan air laut, menimbulkan resiko sangat tinggi untuk terjadinya banjir ketika pasang surut laut. Sekarang Belanda merupakan negara mahaguru teknik perairan di dunia karena berhasil menjaga wilayahnya bebas banjir.

Jepang pernah diluluhlantakan bom atom, sumber dayanya minim, dahulu dicibir pula produk-produk buatannya oleh negara-negara barat karena dianggap gampang dibeli dan gampang dibuang. Dalam kurun waktu 60 tahun, Jepang menjadi salah satu poros ekonomi dan merupakan pemimpin pasar elektronik dunia dengan kualitas yang tidak diragukan pula.

Swiss tak punya pohon-pohon cokelat tumbuh di pekarangannya. Namun, ia terkenal menjadi negara pembuat cokelat olahan terbaik di dunia, seperti yang kita tahu bukan main pula mahalnya cokelat-cokelat asli buatan Swiss.

Bill Gates pernah berkata, ”If you’re born poor, that’s not your problem. But if you die poor, that’s your problem.” Jangan sampai negara ini menjadi negara yang “born rich, die poor,” miris sekali. Pragmatis sajalah kali ini, tidak usah membawa-bawa nasionalisme semu, akui saja bahwa Indonesia berada di keadaan yang tidak layak, bahkan memalukan, untuk sebuah negara yang terlahir kaya. Hanya kita, rakyatnya, yang bisa disalahkan atas ini. Mayoritas kurang berpendidikan, egois, berpikir pendek, masih bermental jajahan, dan terbiasa dimanjakan kekayaan alam.

Kita seharusnya mengubah segala kebiasaan dan mentalitas tersebut demi menjauhkan Indonesia menjadi sebuah failed state. Maka dari itu, bisakah semenjak kecil kita dikenalkan pada kekurangan-kekurangan negara ini sehingga kita terbiasa untuk melakukan tindakan-tindakan preventif? Bisakah buku-buku IPS Sekolah Dasar bukan hanya menekankan kestrategisan Indonesia yang berada diantara dua benua dan dua samudera, tetapi juga kerawanan Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik dan ring of fire gunung berapi sehingga program pencegahan bencana menjadi sebuah budaya di masyarakat kita? Bisakah kita tidak hanya membanggakan fakta kuantitatif bahwa Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, tetapi juga mengakui bahwa hal tersebut sebenarnya sebuah tantangan besar untuk program pemerataan kesejahteraan sehingga kita dapat kerap mencari solusi atas hal ini semenjak dini? Bisakah kita lebih dini menerima fakta bahwa sumber daya alam kita hampir habis, kalaupun ada sisanya kebanyakan justru dikeruk pihak asing, agar kita bisa lebih kreatif mencari sumber pemasukan lain?

Potensi bagai dua sisi koin logam, sebuah random variable dalam statistika, sebuah unrealized gain dalam konteks akuntansi. Potensi sukses bukan sebuah kemutlakan sehingga ia tetap mempunyai potensi untuk gagal, hasil yang didapat pun tidak sepenuhnya bergantung pada potensi awal yang kita miliki, dan sebesar apapun potensi yang ada tidak akan pernah bisa kita nikmati jika tidak ada usaha untuk merealisasikannya.

(Pungky Agusta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s