Ujian Nasional, Akankah Menjadi Riwayat?

Setiap tahun ujian nasional dilaksanakan dalam rangka menguji kemampuan para siswa setelah melalui proses pendidikan selama 6 tahun untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) dan 3 tahun untuk jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).  Tak pelak pula setiap tahun sering kita baca, dengar dan lihat, berbagai pelanggaran yang dilakukan perihal ujian nasional oleh berbagai oknum di media kita, baik cetak maupun elektronik.  Hal ini membuat ujian nasional menjadi salah satu kebijakan pemerintah yang kontroversial, karena pada dasarnya ujian nasional yang bertujuan untuk mengevaluasi hasil proses kegiatan belajar dan mengajar (KBM), justru menjadi momok tersendiri bagi siswa yang menimbulkan banyak kecaman.  Pada akhirnya, sebagai rakyat Indonesia yang peduli terhadap pendidkan Indonesia patut untuk mempertanyakan apakah kebijakan ujian nasional merupakan kebijakan yang layak untuk dipertahankan?  Jika pun sudah tidak efektif lagi, adakah kebijakan yang pantas untuk menggantikan ujian nasional?

Alasan Untuk Menolak

Ada dua hal besar yang membuat banyak kalangan menolak ujian nasional sebagai parameter kelulusan.  Dua hal ini pun saling berhubungan satu sama lain.  Kedua hal tersebut adalah: tekanan psikologis dan pelanggaran yang terjadi saat ujian nasional.

Ujian nasional dari tahun ke tahun  menyebabkan sebagian siswa stres.  Tahun lalu Yeni, salah satu siswi Madrasah Aliyah Albadri, Gumuksari, harus dirawat di Instalasi Rawat Jiwa Rumah Sakit Daerah Soebandi, Jember karena mengalami depresi berat setelah menyelesaikan ujian nasional.  Bahkan pada tahun 2009, Evy Tyaswati, seorang dokter di rumah sakit tersebut, menangani sedikitnya lima pasien dengan keluhan yang sama dengan Yeni.

Tekanan psikologis yang berupa stres berlebihan ini berpotensi menimbulkan penyakit lain yang lebih parah.  Seperti yang dilansir Majalah Mingguan Tempo, sebut saja Diana -bukan nama sebenarnya- mengalami serangan stroke sepulang dari mengerjakan ujian nasional.  Diana yang semula adalah siswi yang berprestasi, mendadak menjadi seperti orang kebingungan menjelang hari-H ujian nasional.  Ia makin sering mengeluh khawatir kalau–kalau nilainya jeblok.

Stres timbul karena siswa merasa kurang siap dengan persiapan yang dilakukan dan takut tidak lulus lantaran nilai yang tidak mencapai standar kelulusan yang dirasa terlalu sulit.  Pihak sekolah pun terkadang berlebihan dalam “menyambut” ujian nasional.  Misalnya saja sekolah dimana Diana menuntut ilmu, mengadakan uji coba ujian nasional hingga 20 kali dan hampir setiap hari nyaris selalu ada kegiatan berdoa bersama yang justru membuat Diana tegang, ditambah pula dengan adanya papan hitung mundur mulai 20 hari menjelang ujian.

Ketika siswa stres dan tidak fokus dalam mengerjakan ujian nasional, kemungkinan besar siswa tersebut akan tidak lulus ujian nasional.  Belajar dari pengalaman sebelumnya, siswa yang hendak menghadapi ujian nasional cenderung mencari jalan pintas untuk melalui ujian nasional.

Pelanggaran bukan menjadi barang langka dalam pelaksanaan ujian nasional.  Pelanggaran yang dilakukan memiliki beberapa modus, seperti penjualan soal, penjualan kunci jawaban, penyebaran kunci jawaban melalui handphone.

Selain pihak tertentu yang menjual kunci jawaban, terkadang pihak sekolah juga turut bermain dalam ujian nasional.  Berharap handphone berhasil dibawa masuk oleh siswa kedalam ruang kelas, para guru yang telah menyiapkan kunci jawaban menyebar jawaban melalui sms.  Disini terlihat bahwa pengawasan dalam pelaksanaan ujian nasional tidak maksimal, pengawas kecolongan atau mungkin membiarkan siswa membawa handphone kedalam kelas, padahal dalam tata tertib ujian peserta ujian dilarang membawa handphone, kalkulator, dan sebagainya.

Lalu bagaimana caranya pihak eksternal (diluar pihak sekolah) dapat mendapatkan soal sehingga mampu mengirim jawaban soal ujian jauh sebelum siswa menyentuh soal ujian?  Hal ini patut untuk diinvestigasi, dimana sebenarnya ujung pangkal dari masalah kecurangan-kecurangan dalam ujian nasional.

Kedua hal tersebutlah memberi pertimbangan kepada sebagian elemen masyarakat menolak keberadaan ujian nasional.  Karena selain memberi dampak negatif terhadap kesehatan siswa, ujian nasional juga mengajarkan ke siswa untuk bertindak tidak jujur, serta mencoreng kesucian pendidikan yang sejatinya mengajarkan sifat yang luhur kepada siswanya.

Setelah ditolak, lalu?

Pertanyaan timbul ketika ujian nasional benar-benar dihapuskan, adakah kebijakan lain yang lebih efektif untuk menggantikan ujian nasional sebagai parameter kelulusan siswa?

Sehingga, haruslah dikaji secara mendalam sebelum pemerintah menuruti untuk mencabut kebijakan ujian nasional.  Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah tingkat kesulitan ujian nasional, pengawasan terhadap pelaksanaan ujian nasional, serta metode yang dapat menggantikan ujian nasional ketika ujian nasional akhirnya dicabut.

(Bayu Tegar Perkasa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s