Antara Belalang Keji, Semut Tertindas, dan Pelajaran Hidup

Masih ingat kata-kata pamungkas seorang Hopper kepada anak buahnya para belalang, dalam film A Bug’s Life yang dirilis tahun 1998?

You let one ant stand up to us, then they all might stand up! Those puny little ants outnumber us a hundred to one and if they ever figure that out there goes our way of life! It’s not about food, it’s about keeping those ants in line. That’s why we’re going back! Does anybody else wanna stay?

Saya yakin siapapun yang mendengarnya pasti akan terpesona dengan caranya merangkai kata dan mengucapkannya dengan intonasi dan tekanan yang tajam bak peluru namun berwibawa layaknya seorang pemimpin sejati. Paling tidak kalimat itu akan membuat siapapun berpaling untuk menyaksikan siapakah yang sebenarnya sedang ‘berkata’ seperti itu?

Anyway, dari penggalan kalimat di atas, saya bisa menarik dua poin yang cukup menarik untuk kita perhatikan.

Bagi bangsanya, menurutku Hopper adalah seorang pemimpin yang patut dicontoh walaupun dengan sifatnya yang keras. Pada akhirnya ‘keras’nya itu pun pastilah untuk kebaikan bangsa mereka sendiri, para belalang. Hopper bergaya sebagaimana seorang pemimpin semestinya berbuat. Ia tegas, memiliki visi, dan konsisten dengan apa yang menjadi tujuannya. Ia membakar semangat anak buahnya agar hendak kembali ke pulau para semut untuk merampas makanan hasil jerih payah mereka, ketika para belalang mulai merasa malas untuk kembali. (Tentu saja disini bukan maksud saya memotivasi kalian untuk merampas makanan). It’s not about food, it’s about keeping those ants in line. That’s why we’re going back! Ini adalah kalimat yang paling membuat saya tersentak. Walaupun saya tidak suka akan apa yang dinamakan merugikan orang lain, saya tetap terpana dan merasakan kekaguman akan sosoknya. Terdapat dua jenis orang yang akan didengar: seseorang yang luar biasa baik dan seseorang yang begitu jahat dan terkutuk. Konsisten akan sesuatu yang ia inginkan untuk terjadi, konsisten akan menjalankan apa yang ia rasa perlu dilaksanakan. That is exactly how a leader should be. He doesn’t quit on his people; therefore, he must not quit on himself and his plans to be conquered. Itulah bagaimana seharusnya sikap seorang pemimpin. Dia tidak menyerah dan mengecewakan anak buahnya; untuk itu dia tidak boleh menyerah pada dirinya sendiri dan rencana-rencananya yang harus dilaksanakan.

Hal kedua yang ingin saya soroti adalah bentuk refleksi dari potongan kalimat Those puny little ants outnumber us a hundred to one and if they ever figure that out there goes our way of life! Hal pertama yang kubayangkan setelah mendengar bait itu adalah: INDONESIA. Ya. Indonesia terdiri dari dua ratusan juta penduduk yang tersebar di seluruh pulau yang jumlahnya pun tidak sedikit, layaknya semut-semut yang jumlahnya banyak itu. Namun apa yang terjadi? Masih seperti semut-semut itu, kita masih ‘tertindas’, entah itu oleh orang-orang kita sendiri, maupun oleh pihak luar negeri. Rakyat banyak yang miskin, padahal aset, baik jumlah sumber daya manusia maupun alamnya begitu melimpah. Kita masih ‘terkekang’ oleh negara-negara lain yang sering menjadikan Indonesia sebagai ‘target’ komersial dan pelunturan budaya lokal oleh budaya-budaya mereka. Banyak pihak yang memanfaatkan kekurang pekaan kita untuk their own personal/ country’s sake. Padahal, kalau Indonesia bersama-sama, bersatu, dan bangkit untuk maju dan membenahi negara ini, mungkinlah jika Indonesia akan menjadi salah satu negara yang disegani di dunia ini. Sadarlah akan kekayaan aset yang dimiliki bangsa. Bersatulah. Lalu buat dunia tercengang akan seberapa jauh Indonesia bisa melangkah!

Indonesia needs to step up its game! Kita mempunyai berbagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan, terlebih jumlah sumber daya manusia yang jumlahnya banyak dan banyak dari kita yang berpendidikan. Dunia tidaklah hitam putih. Di satu sisi Indonesia terlihat begitu luar biasa-pendidikan, kerja keras penduduk, kerja keras pemerintah dalam menjalankan tugasnya terlebih dalam pembangunan infrastruktur yang begitu ‘bertanggungjawab’. Tapi di sisi lain masih terdapat beberapa hal yang cukup bagiku untuk mengkategorikannya sebagai sebuah ironi-masih terdapat banyak slum area. Tapi memang, pembangunan fisik bukanlah satu-satunya parameter pembangunan daerah yang berhasil. India menurutku cukup baik dengan di encourage nya pemuda-pemudi untuk terus belajar (dengan murahnya harga pendidikan di sana namun kualitas tetap baik). Menurut saya Indonesia sedang bangkit! Stay positive to think that we are! Momen seperti ini harus dijaga dan dijalankan secara berkelanjutan. Pemimpin-yang menjadi isu utama postingan ini-pun harus selalu mereka yang peduli dan benar-benar mencintai Indonesia. Agar pembangunan kota kita tercinta ini tidak stagnan atau bahkan mundur.

Saya tidak akan repot-repot berkoar-koar menyuruh kalian atau pemerintah untuk membenahi diri dan merubah segalanya seakan-akan perbuatan normatif itu dapat dengan mudah dilakukan layaknya membalikkan telapak tangan. Saya hanya akan memperbaiki diri. Akan  saya toreh sejarah dalam versi saya sendiri. Biarlah orang tergerak dengan sendirinya melihat kesuksesan ‘para pemimpi’ lain seperti saya di kemudian hari, dan dengan sendirinya mereka akan terpacu untuk melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Bayangkan bila itu semua terjadi kepada seluruh manusia di muka bumi Indonesia. Luar biasa!

(Al Khansa Shalihah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s