Mahalnya Harga untuk Berbagi

Every Seat is a Courtesy Seat for those who needs…

Berbagi. Kini agaknya hal ini menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Sungguh, tidak bermaksud mengeneralisir, hanya saja realita inilah yang belakangan sering saya jumpai di angkutan kesayanganku, KRL Jabodetabek. Apakah urat kepekaan sudah mengeras? Apakah sulit untuk berkorban pada yang patut menerima haknya? Apakah kepedulian akan sekitar mulai menurun?  Jawabannya masih berputar dibenak saya, hingga kenyataan yang menjawab kadang membuat miris hati.

Tempat Duduk Prioritas (TDP) sedikit banyak bisa menggambarkan karakter seseorang untuk mengerti dan berbagi. Dalam KRL, TDP adalah tempat duduk yang berada di setiap sudut kereta, diperuntukkan untuk ibu hamil, manula, ibu dan balita serta orang berkebutuhan khusus lainnya yang membutuhkan area ini. Yang duduk di area itu seharusnya adalah orang yang benar-benar membutuhkan karena itu adalah hak untuknya. Namun, tak jarang hak mereka dirampas secara halus bahkan kasar oleh orang-orang yang urat kepekaannya terlanjur mengeras.

 

Yang Asyik dengan Dunianya…

Pakuan Ekspress, Stasiun Bogor, Januari 2011

Siang itu gangguan persinyalan lagi-lagi terjadi. Imbasnya, kereta Pakuan Ekspress yang kunaiki tergolong lebih penuh dari biasanya. Ketika kereta datang, aku sempat duduk sejenak di gerbong khusus wanita, tentu bukan di TDP karena aku bukanlah orang yang perlu diprioritaskan. Tak berapa lama kemudian, tiga orang Ibu menggendong balita memasuki gerbong ini pasrah melihat semua tempat duduk sudah penuh. Aku berdiri untuk yang lebih membutuhkan. Satu Ibu mendapat duduk, dua lainnya masih kebingungan.

Pandangan menyusur ke sekeliling gerbong, beberapa TDP memang sudah terisi, tapi banyak juga wanita muda yang duduk asik ‘ngebeib’ dalam gerbong ini. Miris, mereka begitu asyik dengan dunianya sampai tak melihat dua ibu berhak mendapat tempat duduk. Tidakkah mereka melihat sosok Ibu yang menggendong balita itu lebih berhak mendapatkan duduk daripada mereka yang segar bugar tanpa beban dipikul.

 

Yang Tidak Sadar untuk Berbagi…

Ekonomi AC, Stasiun Depok, Mei 2011

Memasuki Stasiun Depok kereta yang ku tumpangi, kondisinya terbilang cukup penuh. Aku berdiri di tengah gerbong khusus wanita dan mendapati Ibu hamil memasuki kereta yang kondisinya terbilang penuh. Aku pun memberikannya jalan agar mudah menjangkau tempat duduk terdekat. Semoga ada yang memberikan duduk untuknya, harapku dalam hati.

“Bu, kalau mau duduk di pojok aja, ada tempat duduk untuk ibu hamil.”

Astaga! Mendengar ada perempuan yang berkata seperti ini, miris rasanya. Untuk bisa masuk ke dalam kereta yang terbilang penuh saja, ibu hamil ini sudah butuh perjuangan, terlebih diminta untuk jalan menuju ke sudut gerbong mencari tempat duduk. Tidakkah kau perempuan yang berada di depannya terduduk manis dan berkata seperti itu yang seharusnya berdiri. Ada yang lebih membutuhkan dari pada kau.

 

Yang Menyuruh untuk Tertib…

Ekonomi AC, Stasiun Pondok Cina, Mei 2011

Memasuki Stasiun Pondok Cina, aku melihat dua ibu hamil memasuki gerbong khusus wanita posisi pintu tengah. Keduanya tampak terburu-buru karena tanda pengingat kereta akan berjalan sudah berbunyi.

“Ibu hamil itu mestinya tertib, naiknya dari pintu yang dipojok, biar langsung dapet tempat duduk”

TDP untuk ibu hamil memang benar berada di setiap sudut gerbong. Lantas, jika ibu hamil tidak masuk dari sudut gerbong berarti ia dan buah hati dalam kandungannya harus berdiri sepanjang kereta berjalan? Ironis. Tidak habis pikir, sesulit itukah untuk berbagi pada yang lebih membutuhkan? Dan semudah itukah memberi komando di tengah himpitan hak orang yang terampas.

 

Potret betapa mahalnya harga untuk berbagi belakangan semakin sering ku jumpai dalam perjalanan ku bersama kereta. Mereka yang tergolong sehat fisik, segar bugar, senang ceria terkadang masih sulit untuk berbagi pada yang lebih membutuhkan. Tak jarang mereka yang sudah mengeras urat kepekaannnya pasang raut acuh, tak peduli bakan sesekali menggerutu jika diminta untuk berbagi. Aku harap ini hanya potret sebagian kecil ironi di kehidupan kereta, bukan gambaran degradasi etika secara massal. Percayalah, berbagi itu indah, berbagi itu mulia, dan berbagi itu pahala. Muliakanlah hidup ini dengan saling peduli pada sekitar. Hal sekecil debu menjadi secercah nikmat bagi mereka yang membutuhkan.

(Vimala Dewi Nurcahyani)

Advertisements

One response to “Mahalnya Harga untuk Berbagi

  1. suka dengan tulisan ini. tapi andai saja penulis juga menceritakan bagaimana keadaannya saat naik kereta ekonomi (non AC), meskipun tak ada kursi khusus, namun ketidakpedulian orang-orang sangatlah ketara di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s