Putra Putri Terbaik Bangsa

“Saya benci sebenci-bencinya sama slogan “selamat datang putra-putri terbaik bangsa” yang menyambut kalian saat OSKM1); slogan itu menimbulkan kesombongan tanpa memberikan tanggung jawab.”

Auzan Abirama

Saya masih ingat benar ketika kami para mahasiswa baru ngariung2) di Balairung. Bangga, merasa besar, merasa hebat. Satu per satu dari kami mencoba jaket almamater, menyatut-nyatut diri di depan cermin, lalu berlalu dengan sepaket emblem makara dan kartu mahasiswa di genggaman.

Hari itu kami resmi menjadi mahasiswa UI, universitas yang konon adalah salah satu terbaik di tanah air ini. Seantero kampus tampak gemerlap dengan baliho dan spanduk yang menyambut kehadiran kami, “Selamat datang putra-putri terbaik bangsa.”

Inilah putra-putri terbaik bangsa. Tidak lebih dan tidak kurang dari yang saya temui di bikun, yang saya ajak bicara dan diskusi, atau yang duduk makan di sebelah saya, di warung tegal.

Kata orang, putra-putri terbaik bangsa ini sombong-sombong. Semakin muda angkatannya, apalagi, karena semakin berduit rupanya. Kata abang yang punya FEUI, mahasiswa baru yang mengurus BOPB hanya segelintir saja. Wah, entah mereka tidak tahu ada BOPB, entah mereka memang ber-uang.

Saya tidak menyalahkan, sama sekali tidak mencela apalagi menghujat mereka yang berkesempatan kuliah karena orang tuanya memang berkecukupan. Pada dasarnya, kesejahteraan seseorang (atau keluarga) memang melingkar dengan pendidikan. Semakin baik kesejahteraannya, semakin baik pendidikan yang dapat dikenyam, vice versa. Orang zaman sekarang dapat dengan mudah mengatrol kasta sosialnya, dengan intelektualitas dan pendidikan terutama.

Tapi kita memang perlu sedikit berkaca. Tak jarang, saya mendapati diri saya, dan beberapa mahasiswa UI lainnya yang sedang menunggu kereta di stasiun, dilempari buntelan koran atau disirami dengan air mineral dari mereka yang berjongkok di atas rangkaian kereta ekonomi. Bukan, saya bukan mahasiswa cantik yang sering jadi bahan godaan laki-laki jahil. Toh, hal ini acap terjadi pada siapa saja yang ada di stasiun. Lantas pertanyaannya, “Sebenci itukah mereka terhadap mahasiswa-mahasiswa UI?”

Dan inikah putra-putri yang ceritanya terbaik milik bangsa?

Ini, loh, yang terbaik di bangsa ini. Kalau ada masalah, bercericit di akun Twitter. Kalau mau ngomongin orang, meninggalkan serapahan anonim di kolom-kolom aspirasi. Kalau naik kereta, tidak mengalah pada yang lebih tua. Kalau mau ujian, orientasinya IPK. Kalau kalah, menyalahkan dan mencari kambing hitam. Kalau diberi tahu, merasa paling besar dan benar.

Di mana-mana kita dengar, mahasiswa bergibah tentang dosen-dosennya. Di mana-mana kita lihat, mahasiswa (dan mahasiswi) mengebulkan asap rokok dan knalpotnya dengan tidak sopan. Di mana-mana kita terlibat, dalam sebuah acara yang megah namun entah seberapa besar manfaat yang diberikan kepada rakyat yang menyubsidi kuliah kita.

Di dalam diri kita, kita tahu: kita mau gelar itu, mau nilai itu, mau lulus dengan begitu, mau kerja dengan gaji segitu. Kita juga tahu, kita tidak sebangga itu, atau tepatnya, tidak semembanggakan itu.

Seharusnya, ajang penerimaan mahasiswa baru, selalu bisa menjadi ajang introspeksi baik bagi mahasiswa baru maupun mahasiswa senior. Bagaimana kita menyikapi label ke-terbaik-an tersebut, apa yang harus kita lakukan, dan untuk apa kita melakukannya.

Kampus kita ini miniatur bangsa. Jangan sampai kita hanya menjadi onggokan manusia yang serakah, seperti beberapa petinggi negara di luar sana. Jangan sampai, slogan yang sering dielukan pada kita hanya menimbulkan kesombongan, tanpa adanya tanggung jawab. Kita tidak hanya bertanggung jawab atas nilai dan citra kita, kita bertanggung jawab atas amanah yang diberikan Tuhan, sebagai putra-putri terbaik bangsa. 🙂

Mari menjadi putra-putri terbaik bangsa yang berintegritas: menjalankan kehidupan selayaknya mahasiswa semestinya, dengan penuh tanggung jawab atas kewajiban utama kita: belajar. Dan,

“Belajarlah tidak hanya dari apa yang tertulis di buku, tetapi juga dari ayat-ayat yang tersebar di alam semesta” – Dosen MPKA, Pak Zainal Abidin.

 

1)Orientasi Studi Keluarga Mahasiswa. Semacam OKK di ITB

2)berkumpul

 

(Mutia Prawitasari)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s