Aku dan Masa Depan Negeri Ini

Matahari semakin lelah, meskipun lidah apinya membara tetap saja ia akan tenggelam. Tapi aku lebih hebat dari matahari. Meskipun sudah menjelang malam, aku tetap bertahan dengan keras hati menyelesaikan deretan angka-angka ini. Ini semua gara-gara Muhammad Khawarizmi. Coba dia tidak pernah lahir, aku tidak perlu menyelesaikan tugas aneh ini, ya Aljabar. Tapi tidak masalah lah, yang lebih masalah adalah aku harus mengerjakan tugas ini sementara tumpukan kertas lain menuntut untuk segera terjual. Kalau koran-koran ini tidak habis sebelum maghrib, akan makan apa aku malam ini.

Tahukah kakak-kakak cantik yang lalu lalang membawa sebuah kotak aneh yang mereka sebut laptop itu bahwa aku ini ingin seperti mereka suatu saat. Ini bukan impian semata. Sepuluh ribu hingga lima belas ribu yang kudapat setiap hari ini akan kusisihkan sebagian untuk membayar seperti yang mereka bayar juga untuk menuntut ilmu di tempat ini, Universitate La Ondionesia.

Matahari sudah tak tampak lagi. Ibu dan adik-adikku menunggu. Kututup buku kotak-kotak ini dan kususun rapi dalam tas Mount Blanc kw tiga puluh kuadrat. Biarlah tas lusuh, suka-suka aku memberi merek apa toh aku yang memakai, tak ada urusannya dengan kakak-kakak cantik tadi. Sebelum pulang, kusempatkan menyetor uang garapan hasil penjualan kertas-kertas tadi ke induk semangku.

Kalau saja Ki Hadjar Dewantara, bapak pendidikan Ondionesia itu masih hidup, dia pasti pusing melihat keadaanku. Akan dikeluarkannya kertas-kertas saktinya, diundangnya puluhan orang hebat ke rumahnya, dan dikirimnya deretan rekomendasi ke rumah Menteri Urusan Belajar-Mengajar agar menjemputku, memberikan aku buku-buku bagus, tas bagus, sepatu bagus, dan melarangku berjualan kertas-kertas penuh kabar kejadian selingkung negeri ini, yang ternyata mereka sebut koran. Aku tidur.

Ternyata Ki Hadjar Dewantara datang di malam mimpiku, ia menyapaku. “Kau tidak perlu menangis.” Ia hanya berkata itu, tak lebih. Aku bingung dengan mimpi aneh serba aneh tujuh keliling ini. Tak tahu apa maksudnya. Hebat sekali aku ini, bisa bertemu dengan beliau dalam mimpi. Mana ada orang yang bisa bermimpi bertemu dengan beliau. Haha.. aku memang hebat. Sudahlah hari sudah pagi, matahari sudah bertenaga lagi, ia menantangku dan bangku sekolah juga menungguku. Ups, tapi ada satu lagi, koran-koran itu harus kujemput ke tempat Dani, si induk semangku, untuk kemudian aku bawa ke kampus tempat aku sering berjualan. Universitate La Ondionesia.

Guruku meminta agar tugas Aljabar dikumpulkan ke mejanya. Teman-temanku berlarian ke meja depan mengumpulkannya. Wajah mereka ceria sekali, ada yang sambil meloncat-loncat kecil membawa buku tugasnya ke depan. Aku sudah tahu kalau dia mengerjakanya di atas sebuah meja kayu mahoni indah dan mahal itu, didampingi lampu belajar hemat energi. Ketika ia haus, tinggal petik jari, sekejap jus mangga segar hadir dihadapannya. Belum lagi kalau ia gerah dan merasa panas, tinggal dipencetnya saja remote pendingin udara. Tapi aku lebih hebat, meja belajarku adalah pahaku sendiri, lampuku paling terang sedunia, tak akan habis habis, tak perlu listrik pak PLN. Kalau aku haus masih ada air suam yang direbus Ibu sedari subuh tadi di tabung minuman bekas dalam tas Mount Blanc-ku ini. Tas paling mahal sedunia. Oh, kalau aku kepanasan, gampang, tinggal buka satu dua kancing kamejaku ini kemudian kipas-kipaskan saja buku kotak-kotak tadi.

Aku ini lebih sibuk dari menteri. Pulang sekolah saja aku harus berjualan koran. Hitung-hitung membantu pergerakan roda perekonomian bangsa ini dan mengurangi angka pengangguran. Sementara, Menteri Urusan Uang tidak terlalu sibuk tampaknya. Membatasi subsidi BBM saja ia tak berani, aku dan ibuku jugalah yang akan menderita dibuatnya. Kalau subsidi emas hitam itu ia terapkan dengan baik, maka aku tidak perlu berjualan koran ini. Koran yang salah satu beritanya tentang kebingungan Menteri Urusan Uang itu sendiri. Kalau subsidi berjalan dengan baik, maka roda perekonomian akan bergerak makin cepat, lebih cepat dari kontribusiku yang hanya berjualan koran, dasar Menteri. Tapi sebelum aku jadi menteri, aku harus belajar dulu. Belajar dan terus belajar, seperti kakak-kakak cantik disana.

Hari Pendidikan Nasional baru saja lewat. Hari yang mendeklarasikan bahwa tidak boleh lagi ada warga negara yang terhambat dari segi apapun untuk mencicipi pendidikan. Hari yang khidmat, di setiap sekolah akan dilangsungkan upacara pengibaran Sangsaka Merah Putih. Seremonial saja tampaknya. Buktinya aku belum merdeka sepenuhnya mengenyam pendidikan. Entah siapa yang berdosa, yang jelas aku belajar sajalah dulu, soalnya aku mau jadi menteri.

Sebenarnya cita-citaku tidak hanya jadi menteri. Menjadi pemain tim nasional sepak bola Ondionesia adalah cita-citaku juga. Banyak memang cita-citaku ini si penjual koran. Tak usah diributkan, mau jadi apapun aku, yang penting belajar dulu. Tapi apa aku disediakan tempat untuk belajar dengan biaya yang tidak jauh lebih besar dibanding penghasilanku dari berjualan koran? Tak tahu.

Koran-koran yang aku jual beraneka ragam. Koran ekonomi, koran olahraga, sampai koran yang isinya tips-tips aneh untuk kaum wanita yang menjadi favorit kakak-kakak cantik tadi. Harganya tak jauh beda, tapi yang beda adalah pembagian keuntunganya. Si induk semang dapat setengah lebih, sementara aku hanya dapat seperempat kurang. Tapi kakak-kakak cantik tadi beserta kawan-kawannya tidak peduli tampaknya. Mereka hanya membeli koranku saja, tidak memikirkan aku dapat untung berapa. Ada juga yang sudah susah payah aku tawarkan tapi dia masih saja tidak mau membeli.

Urusan dunia perkoranan ini sudah aku tekuni semenjak tiga tahun yang lalu. Silih berganti manusia yang aku temui di Universitate La Ondionesia ini. Tapi kalau dulu aku hanya menjual saja, sekarang aku sudah harus belajar sambil berjualan. Aku kan sudah kelas dua belas SMA. Tak heran kalau setiap hari kakak-kakak sekalian melihatku terlihat sangat rajin mengerjakan tugas, membolak-balik buku dan menggunakan ruas jari-jariku untuk menghitung. Tak ada sempoa dan kalkulator, ruas jari pun jadi.

Sekarang aku tidak lagi berjualan koran, sudah terlalu menyita waktuku untuk belajar. Aku harus menghadapi Ujian Nasional. Sekarang tahta jual menjual koran diambil adikku yang nomor tiga. Aku lima bersaudara, adikku yang nomor tiga ini satu-satunya perempuan, dan aku yang paling besar diantara mereka. Nanti setelah aku selesai UN, baru lanjut menjual koran lagi. Mungkin kalau aku diterima di kampus ini aku akan berjualan koran sambil kuliah. Tak perlu malu, toh ini tidak haram. Tapi tak tahulah kalau Menteri Belajar Mengajar, mungkin dia malu melihat aku dan wajah pendidikan negeri ini seperti ini. Mungkin ia berbagi malu bersama bapak kepala suku Universitas Ondionesia ini. Aku tak tahu, aku belajar sajalah, kan mau jadi menteri (dan pemain sepakbola tentunya).

Sekarang aku mengerti maksud ucapan Ki Hadjar Dewantara lewat mimpiku itu.

 

(Jombang Santani Khairen)

*tulisan dimuat dalam rubrik Igauan pada Economica Papers 51

Advertisements

One response to “Aku dan Masa Depan Negeri Ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s