Ketika UI dan Warga Tidak Sejalan

Memiliki Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), namun pengabdian yang dilakukan justru tidak terasa merakyat. Bukan sekedar kalimat yang ingin meniupkan isu, justru hal ini terlontar dari warga sekitar. Lantas bagaimana sesungguhnya peran UI dalam menyikapi masalah sosial yang timbul sebagai akibat dari eksistensinya?

Perkembangan awal Depok jelas tidak lepas dari sejarah pendirian Universitas Indonesia. Pendirian kampus UI memiliki kontribusi besar dalam perkembangan Depok sebagai kota sub-urban. Saat itu, pendirian kampus UI merupakan solusi dalam pengembangan Depok menjadi kota sub-urban. Namun, dampak negatif dari perkembangan kota akan terlihat jika berbagai pihak tidak siap dengan perkembangan tersebut. Munculnya masalah khas kota urban tidak bisa dihindari jika tidak ada perencanaan dini. Masalah seperti kemacetan, kriminalitas, anak jalanan, kesejahteraan masyarakat golongan bawah, polusi, minimnya ketersediaan ruang publik, hingga kesemrawutan tata ruang kota akan datang seiring dengan perkembangan kota yang ditandai dengan pertumbuhan penduduk yang cepat.

Menurut situs resmi Pemerintah Kota Depok dalam kurun waktu lima tahun yaitu dari 2000 hingga 2005, terjadi peningkatan penduduk sebesar 447.993 jiwa. Di tahun 2005, jumlah penduduk kota Depok sebanyak 1.374.522 jiwa. Dengan luas wilayah sebesar  200,29 km2, maka kepadatan penduduk mencapai 6863 jiwa/km2. Sementara untuk tahun 2010 diperkirakan penduduk Depok berjumlah sekitar 1.610.000 jiwa. Bisa dibayangkan kepadatan Depok saat ini. Masifnya peningkatan penduduk ini juga bisa dilihat dari angka penduduk pendatang per tahun yang mencapai 7.396 jiwa di tahun 2004 – yang terdiri dari penduduk datang sebesar 11.899 jiwa sedangkan penduduk pergi sebesar 4.503 jiwa.

Seiring dengan pertambahan penduduk, pembangunan kawasan permukiman, perkantoran , dan perniagaan akan terus terlaksana tanpa struktur yang jelas. Kesemrawutan itu dapat dilihat di sepanjang Jalan Margonda. Sebenarnya, dalam  Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Kotamadya Depok 1995-2005, Jalan Margonda  diatur menjadi dua zona, yakni zona barat sebagai kawasan perkantoran dan zona timur sebagai kawasan perniagaan. Namun, perencanaan ini tinggal wacana sehingga tata kota Depok pun semakin amburadul.

Tata kota yang tidak teratur ini menyebabkan terkosentrasinya kegiatan penduduk di satu titik. Efek dari hal ini adalah terganggunya lalu lintas – terutama pada jam-jam sibuk di berbagai titik di Jalan Margonda. Lalu lintas yang terganggu dapat membangkitkan efek domino untuk permasalahan sosial: timbulnya stres, yang berakibat pada kecenderungan untuk berperilaku destruktif, dan dapat berujung ke kriminalitas.

Padatnya aktivitas di sekitar Jalan Margonda salah satunya disebabkan oleh keberadaan kampus UI.  Kawasan sekitar kampus UI telah menjadi tempat usaha bagi berbagai kalangan warga karena keberadaan mahasiswa menjadi pasar tersendiri bagi mereka. Hal ini dapat menimbulkan timpangnya kepadatan penduduk, dan lagi-lagi, menimbulkan masalah sosial, khususnya kriminalitas. Terkait dengan tingkat kriminalitas, Divisi Penelitian BO Economica mengadakan penelitian terhadap warga sekitar kampus UI. Dari 89 responden (random sampling) yang mencakup wilayah Kukusan Teknik, Kukusan Kelurahan, Pondok Cina, Kober, serta Barel, sebanyak  46%  responden menyatakan UI memiliki perngaruh yang signifikan terhadap meningkatnya angka kriminalitas di sekitar kampus UI. Sementara 38% responden menyatakan  UI tidak memiliki dampak terhadap tingkat kriminalitas. Sisanya meyatakan keberadaan UI berdampak positif terhadap penurunan angka kriminalitas (Diagram 1).

Selain itu, pertambahan jumlah penduduk tentu akan berdampak pada perubahan fungsi lahan. Kawasan yang dulunya merupakan kawasan hutan, daerah resapan air, serta kawasan pertanian lambat laun akan berubah fungsi menjadi kawasan perumahan, industri, dan usaha non pertanian. Kondisi seperti inilah yang tengah dialami Kota Depok.  Hingga saat ini, menurut data  Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok, jumlah lahan terbuka hijau Depok masih diatas 30%. Lahan terbuka hijau sendiri sangat berguna sebagai daerah resapan air yang akan menyimpan cadangan air hujan.  Sementara itu, menurut Yayan Ariyanto, Kepala Bina Marga dan Sumber Daya Air Kota Depok , sebanyak 80% warga Depok menggunakan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.

Besarnya penggunaan air tanah dan terus berkurangnya daerah resapan air menjadi permasalahan tersendiri bagi Kota Depok. Saat itu, pendirian kampus UI bisa dikatakan mampu memecahkan masalah percepatan pembangunan Depok sebagai daerah sub-urban. Berdasarkan kesemrawutan yang kerap dijumpai,  Depok sebagai kota penyangga ibukota belum siap menghadapi sekelumit permasalahan khas kota urban – padahal pembangunan telah dilaksanakan. Lalu adakah kontribusi UI untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini?

Lalu Harus Bagaimana?   

Seperti telah disinggung dalam Tulisan Utama, konsentrasi UI dalam bidang pengabdian masyarakat memiliki sinkronisasi dengan riset, sehingga apa yang disumbangkan UI untuk masyarakat adalah kegiatan yang berlandaskan riset – sesuai dengan kapabilitas UI sebagai world class university. Sayangnya, hal ini justru membuat beberapa masalah sosial yang laten menjadi tidak tersentuh dan dibiarkan berkembang.

“Selama saya tinggal disini sih UI gak pernah ngasih bantuan apa-apa,” tutur Ali, warga Kukusan Teknik yang berprofesi sebagai pedagang gorengan dan sudah berdomisili di sana selama 13 tahun, “malah lebih banyak kontroversinya, kayak pintu Barel yang ditutup. Bahkan dulu pintu Kutek mau ditutup. Kalo gitu gimana kita hidup, coba? Saya kan pindah dari Indramayu ke sini buat cari makan.”

Lebih lanjut Ali menceritakan, “Ya, emang sih pas UI di sini rezeki jadi tambah banyak, anak-anak kita juga jadi semangat sekolah, soalnya tinggal di daerah kampus. Tapi gara-gara ada UI juga di daerah Kutek kalo hujan gede suka banjir. Entah salurannya mampet apa emang disini udah kebanyakan kost-kostan, jadi ga ada lagi lahan buat menyerap air.”

“Saya sih ngarepinnya UI buat sesuatu biar daerah Kutek gak terlalu panas,” cerita Anisa, warga Kukusan Teknik pemilik ‘Warung Anisa’ yang sudah tinggal di Depok selama 12 tahun, “tapi buat hal kecil kayak gitu aja enggak ada dari UI sama sekali,”

Memang, keberadaan UI memberi dampak yang besar untuk kota Depok. Namun, UI kadang melupakan bahwa ada warga-warga yang secara langsung menyandarkan kehidupannya di UI, dan benar-benar merasakan langsung baik-buruknya keberadaan UI bagi kehidupan mereka.

“Untuk distribusi kegiatan pengabdian masyarakat ini kita memang tidak mengkhususkan di daerah-daerah sekitar UI (Kutek, Kukel, Pocin, dll), tapi ke seluruh Indonesia,” tutur Bachtiar Alam, Direktur Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM) UI. “Mungkin karena itu warga sekitar menganggap perhatian UI kurang untuk kesejahteraan mereka.”

Sebagai universitas yang memiliki target sebagai world research university, langkah pengabdian masyarakat yang ditempuh UI sangat bagus dan mendukung. Tapi, UI tidak boleh lupa bahwa keberlangsungan stakeholder-nya (mahasiswa) juga disokong oleh warga-warga yang tinggal begitu dekat di sekelilingnya, sehingga sepatutnya ada porsi pengabdian masyarakat yang dikhususkan untuk meningkatkan kesejahteraan warga sekitar, dan wujud pengabdian masyarakatnya pun juga disesuaikan dengan kebutuhan warga sekitar. Hal ini tentu bertujuan agar hubungan UI dan masyarakat sekitar menjadi lebih baik, sehingga terjalin keharmonisan antara UI dan masyarakat sekitar.

 

(Sabrina Nurul Afiyani, Riyan Hidayat, dan Cacih Rusmiyany)

*tulisan dimuat dalam rubrik Dialektika pada Economica Papers 51

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s