“M”

“Kamu siapa?”

Aku datang dalam gelap, mengendap-endap. Semoga tidak ada yang dengar, semoga tidak ada yang sadar. Tapi kamu melihat, dan kamu tercekat. Kemudian aku diam.

Dan kamu ikutan diam.

“Kamu siapa?”

Suaramu terdengar lagi, berdentum-dentum di telinga. Aku terus mengabaikan, tapi kamu enggan teralihkan. Maka saat tanganmu terjulur untuk menyentuhku, aku berkelit dan membuat tanganmu menggapai udara kosong.

“Kamu siapa?”

Rupanya aku mengusik keingintahuanmu, membangkitkan rasa penasaranmu. Sayang sekali aku tak peduli, karena aku memang tak mau peduli. Lalu kamu turun, beringsut sedikit demi sedikit, bergerak setitik demi setitik.

“Kamu siapa?”

Tak bosankah kamu bertanya? Mempertanyakan apa yang belum kujawab. Tak lelahkah kamu bergerak? Mengejar sesuatu yang belum bergerak. Maka aku menghetikan langkah, memandangmu sampai kamu salah tingkah, dan mengeluarkan suara lemah,

“Aku rahasia dari kotak misterimu.”

Suaraku berayun seperti lagu nina bobo; halus, lembut bagai beledu yang menggelitik ulu hatimu. Kamu diam, tak menyangka mendapat jawaban. Aku diam, terkejut  karena memberi jawaban. Ah, salahkah aku? Maka saat tanganku terjulur  untuk menyentuhmu, kamu berkelit dan membuat tanganku menggapai udara kosong.

“Aku isi dari kotak pandoramu.”

Kamu membangkitkan rasa, kamu menyalakan bara. Alih-alih berlalu, aku menantangmu–aku berdiri lurus di depanmu, menatap bola matamu yang berpendar-pendar seperti bohlam soak. Kamu begitu kecil, begitu mungil. Begitu… Ah, kata-kataku sudah habis.

“Aku teka-tekimu yang belum terpecahkan.”

Kali ini aku bisa merasakan dirimu seutuhnya; bunyi nafasmu, ketakutanmu, peluh yang menetes menelusup di balik bajumu. Kemanusiaanmu menyeruak, membuncah, dan aku tak sanggup menampungnya. Tapi kamu membangkitkan rasa, menyalakan bara. Aku pun tetap di tempat, berusaha mencecap semua yang bisa kucecap. Aromamu. Dambamu. Semangatmu. Dan keraguanmu.

“Kamu siapa?”

Kamu kembali bicara, didorong rasa ingin tahu yang luar biasa. Aku bisa merasakannya, mengalir lancar lewat pembuluh darahmu, menghidupimu, menjadikan dorongan dasarmu untuk bernafas. Tak cukupkah jawabku tadi? Tak jelaskah kejelasanku tadi? Kau buatku ingin menghampirimu dan mengganggumu dengan sejengkal keabadiaan, menyirammu dengan keriuhan yang fana, dan memboyongmu terbang ke nirvana. Lihat jiwamu, lemah dan rapuh. Sudah lembek diterpa jahat, baik, jahat, baik. Lihat ragamu, reyot dan ringsek. Sudah somplak diterjang kerja, tidur, kerja, tidur.

Aku mengasihanimu, aku tak tega. Namun keingintahuanmu yang memaksaku; dan waktu terus berdetak, seirama dengan detakan jantungmu.

“Kamu percaya Karma?’

Ketika aku bertanya, matamu mengikuti arahku, membuatku merasa dibuntuti. Kamu kira aku tak kan tahu gerak-gerik kecilmu? Takkan peka dengan perubahan-perubahan mikromu? Aku bisa merasakan udara yang tersedot saat kamu mengambil nafas, ketakutan yang tersebar di sekelilingmu, harapanmu yang kembang-kempis, dan asa yang kabur bersamamu. Dan aku merasa sia-sia bertanya, karena toh jawabannya ku tahu sudah.

“Percaya,”

“Bahwa ganjaran itu nyata?”

“Karma memberitahu kalau yang baik dibalas yang baik, yang buruk dibalas yang buruk,”

Jawabanmu polos, membuat ketidaktegaanku makin menjadi-jadi. Aku bergerak ke arahmu–nyaris melayang–benar-benar disedot oleh ketakutanmu. Ketakutanmu memanggilku, waktumu meneriakiku, namun keberanianmu…. Keberanianmu membuatku tak tega. Maka kucapai telingamu dan kubisikkan sedikit kata,

No temptation except what all people experienced has laid hold on you, and God is faithful, who will not permit you to be tempted beyond your ability but will at the time of temptation, provide a way out, so that you will be able to stand it,*”

Kamu lemas. Tak berdaya. Mungkin sudah kuserap habis sarimu saat kudekatkan bibir di telingamu; mungkin sudah kujilat tandas dirimu saat kurasakan hangatnya telingamu. Maka saat mata kami kembali bertatapan dan bisa kurasakan jemarimu secara nyata, kuucapkan kata yang hanya bisa dimengerti oleh kami berdua,

“Aku kematian,”

Kamu terkejut, pasrah. Aku tahu kamu pasrah, karena bisa kurasakan jiwamu rebah bersamaku. Lalu segera kugandeng tanganmu, untuk melihat bagaimana Karma menyapamu.

Dan bagaimana Karma menyapaku.

 

*dikutip dari Alkitab

 

(Sabrina Nurul Afiyani)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s