Aku . . Aku Tidak Gila!

Wanita itu berpeluh. Duduknya gelisah. Matanya melirik ke sana ke mari. Melihat orang-orang sibuk mondar-mandir dengan urusan mereka sendiri. Sesekali pandangannya kosong, sesekali menunduk lesu. Entah apa yang sedang ada di pikirannya. Masa depan mungkin. Perawakaannya kurus kering. Kulitnya sawo matang terkesan kisut karena terpanggang sinar matahari. Membuatnya nampak tua di atas umur yang sebenarnya. Matanya agak sayu. Badannya letih. Barang-barang bawaannya sangat banyak. Ya, banyak dan berat. Rencananya untuk merantau ke luar negeri selama tiga tahun ke depan.

Agen pemberangkatan TKW tempat dia terdaftar hanya sekedar memberi instruksi-intruksi saja, tanpa memberi pendampingan sama sekali. Menurut beberapa tetangganya yang merupakan mantan TKW, agen tersebut adalah yang paling bagus sekaligus paling murah, tanpa bayar ini itu, langsung berangkat. Hanya bayar uang administrasi katanya. Sambil memandangi kertas mirip karcis–bukan, katanya itu tiket pesawat–dilihatnya huruf-huruf yang tertera di situ. Berangkat pukul 10 pagi, duduk di kursi nomor 18, tujuan Bandara Qataayy di Negara Jazirah. Dalam satu jam lagi dia sudah akan meninggalkan Negara Kesatuan Republik Ini.

Pikirannya melayang ke tempat yang berjarak ratusan kilometer dari tempatnya duduk sekarang. Suatu desa nelayan. Tempat suami dan anak-anaknya berada. Kehidupannya sederhana, tinggal di gubuk seadanya. Penghasilan suaminya tidak tetap, tergantung musim dan untung-untungan. Kalau lagi beruntung, ikan hasil tangkapan suaminya bisa banyak. Kalau lagi sial, jangan ditanya. Bisa makan nasi saja sudah untung. Dia teringat akan orang-orang berdasi pakai jas hitam yang biasanya berkoar-koar di televisi, para petinggi Negara Kesatuan Republik Ini, asik mengumbar janji perbaikan kesejahteraan rakyat kecil sepertinya. Perbaikan kesejahteraan rakyat kecil? Dia hanya tersenyum sinis.

Hal yang paling membuatnya miris dan terpuruk adalah ketika melihat malaikat-malaikat kecil terlelap pulas sekali di dipan teras rumahnya. Ketika dia membelai wajah-wajah polos itu, seketika ulu hatinya seperti diiris parang. Tubuhnya dihempaskan oleh kenyataan pahit tekanan kemisikinan. Wanita itu, walaupun tubuhnya kecil kurus dan sederhana, namun hatinya keras. Tekadnya bulat tak terbantahkan lagi. Aku harus bisa membahagiakan anak-anakku ini. Aku harus bisa membuat mereka kelak di masa depan tidak harus menanggung derita seperti yang orang tua mereka alami saat ini. Aku tahu jalan satu-satunya adalah melalui pendidikan. Tidak sekedar pendidikan kelas rendahan, namun pendidikan kelas tinggi. Aku harus bisa memutus rantai derita ini. Cukuplah saja aku, ibuku, nenekku, dan generasi terdahuluku yang mengalami. Jangan sampai anak-anakku juga merasakannya. Begitulah ikrarku dalam hati.

Pagi itu, hari Rabu pagi. Kampungnya yang biasanya sepi mendadak ramai. Orang-orang berkerumun, dia penasaran. Segera dia menuju kerumunan itu, melongok. Ternyata si Sumi, tetangga sebelahnya sudah pulang. Sudah dua tahun ini dia merantau ke Negara Jazirah. Penampilan si Sumi berbeda sekali. Kalungnya emas, entah kalung atau rantai itu namanya, sungguh besar sekali. Gelang-gelangnya bergemerincing. Seperti sengaja ingin dilihatkan, ia menyibakkan rambut panjang berkilau hasil rebonding. Wajahnya makin bening dan cantik. Bajunya seperti orang kota, modern. Di kanan kirinya terdapat tas-tas besar yang isinya buah tangan dari Negara Jazirah. Si Sumi terus saja mengoceh. Kicauannya begitu menarik. Dia tak henti-hentinya bercerita tentang kesuksesannya “mendulang emas”di Negara Jazirah. Katanya, dia bekerja sebagai asisten rumah tangga di sana. Orang-orang dibuat berdecak kagum oleh celotehan si Sumi.

Wanita itu iri, ingin seperti si Sumi yang sukses. Dia bergegas pulang, merenung dan berpikir. Terpikir wajah anak-anaknya. Terbersit untuk mengikuti jejak si Sumi. Tak lama setelah suaminya pulang, dia segera mengutarakan maksud hatinya untuk merantau ke Negara Jazirah. Suaminya tak setuju, dia bilang dia masih bisa membiayai keluarganya. Namun, setelah wanita itu menjelaskan pikiran-pikiran yang mengganggunya tiap malam, suaminya pun tak kuasa menolak. Dengan berat hati, suaminya memberi izin. Keesokannya, wanita itu segera menemui si Sumi. Banyak bertanya dari awal sampai akhir.

“Ting tong ting tong, pesawat tujuan Negara Jazirah akan berangkat 15 menit lagi. Mohon persiapkan diri.” Wanita itu kaget, berjingkrak. Suara dari speaker itu membuyarkan lamunannya. Segera dia menuju terminal A, dan masuk ke pesawat.

Melalui perjalanan yang melelahkan selama 12 jam. Begitu turun, dia terkesima. Betapa Negara Jazirah ini megah sekali. Namun, dibalik kemegahan dan kemewahan itu, negara ini adalah negara keras. Negara teokrasi berbentuk kerajaan. Dipimpin oleh raja berpendirian keras dengan peraturan yang kaku. Salah sedikit, cambuk. Salah sedikit, potong tangan. Salah sedikit, pancung. Wanita dilarang bepergian seorang diri dan harus memakai baju tertutup rapat.

Malam kian larut. Wanita itu berkaca, tubuhnya biru lebam. Kepalanya memar. Matanya bengkak. Bekas-bekas hangus nampak nyaris di sekujur tubuh. Sudah 13 bulan dia bekerja di tempat majikannya sebagai asisten rumah tangga. Selama 13 bulan itu pula dia tidak pernah berkirim kabar pada keluarga di kampung. Dilarang majikan. Jabatan asisten rumah tangga yang berkelas itu ternyata hanya impian. Harapan mendulang emas berakhir dengan kenyataan dia hanya mendulang derita di sini. Gaji besar pun tak pernah terbayarkan. Belum lagi trauma psikologis akibat perlakuan majikan yang tak manusiawi. Semua mimpi manis yang dia inginkan satu tahun lalu berubah menjadi pahit. Nasibnya tak akan pernah sama dengan nasib si Sumi. Malam ini, tak seperti malam-malam biasanya. Malam ini adalah  malam yang menegangkan baginya. Sudah 3 minggu ini dia telah mempersiapkan semuanya. Dia telah melakukan perhitungan, merencanakan strategi di setiap  detailnya. Malam ini adalah malam yang tepat. Malam ini atau tidak sama sekali. Dia yakinkan dirinya. Rencana pelarian ini tidak boleh gagal. Jantungnya berdegup kencang dan adrenalinnya berpacu.

Dari kejauhan, hamparan pantai yang bersinar-sinar diterpa sinar matahari sore tampak samar. Sungguh dia sangat merindukan tempat itu. Tempat penuh kedamaian sekalipun serba kekurangan. Setidaknya di tempat itu dia bisa menemukan kenyamanan, tak perlu ketakutan ketika dia membuka mata di pagi hari. Tempat itu adalah kampung halamannya. Orang-orang yang menyadari kehadirannya segera berlarian kearahnya. Hendak menyambut. Namun, bukan kebahagiaan, tawa gembira, serta celotehan kesuksesan yang terdengar. Sebaliknya, orang-orang menyambutnya dengan murung dan sedih .

Namaku Rukhmi, aku merantau ke Negara Jazirah untuk memperbaiki hidup. Namun, kenyataan yang kuhadapi adalah sebaliknya. Jujur, aku tidak tahan dengan semua siksaan dan perlakuan tidak pantas dari majikannku. Akhirnya, aku berhasil keluar dari semua itu. Namun, entah kenapa majikanku yang kejam itu dapat mengikuti sampai ke kampung halamanku. Mereka selalu mengejar-ngejar aku untuk menyiksaku seperti yang selalu mereka lakukan di Negara Jazirah.

Aku selalu berteriak minta tolong untuk diselamatkan dari cengkeraman mereka. Namun, orang-orang di sekitarku, suamiku, anak-anakku. Semuanya diam. Tak bergeming. Aku bersumpah serapah. Gila apa mereka! Aku sudah mau disiksa seperti ini, mereka malah diam saja! Aku berteriak minta tolong. Kadang berteriak marah karena tidak ada yang menolongku untuk bebas dari cengkeraman majikanku. Sampai suatu saat, aku mendengar bisik-bisik tetanggaku yang mengatakan aku sudah gila. Mentalku terganggu. Semua yang aku alami hanya halusinasi. Aku marah dan emosiku langsung meluap seketika. Dasar kalian orang gila! Tidak lihat apa, kalau aku selalu dikejar-kejar majikanku setiap hari! Berusaha menyiksaku lagi! Aku Rukhmi! Dan aku tidak Gila! Seketika mereka membisu dan meninggalkanku acuh tak acuh.

(Afin Afini)

*tulisan dimuat dalam rubrik Igauan pada Economica Papers 52

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s