Dua Foto

Ia menggambil peci yang tergantung di balik pintu kamarnya. Peci itu tidak lagi sehitam dulu sewaktu ia pakai pertama kali, tapi tetap masih hitam, kusam. Ia berbalik kemudian berdiri di depan cermin dan membenarkan posisi pecinya itu. Di sudut cermin terletak dua buah foto. Salah satunya adalah foto yang mengisahkan perjalanan hidupnya, bahagia dan sedih, pahit manis, asam garam hidup yang ia temui hingga nikmat dunia yang fana dan janji Allah akan keabadian akhirat tersirat dan terangkum di foto itu. Foto pernikahannya. Foto ketika ia bersanding bersama wanita yang tadi malam-malam sekali menyiapkan makan sahur untuknya.

Ramadhan ini berbeda baginya. Ada yang harus  diselesaikan, yang harusnya sudah selesai sedari dulu, tapi tak kunjung juga. Sesuatu yang besar dan hebat. Tapi entah hebat menurut orang lain atau tidak. Tapi ia yakin seyakin-yakinnya bahwa, istrinya juga akan setuju kalau hal yang akan diselesaikan suaminya ini hal yang hebat.

“Aku pergi dulu, sudah ada yang menunggu di luar,” suami yang sangat mencintai istrinya itu pamit sambil berjalan menuju pintu. Ia telah ditunggu kawannya yang juga akan ikut bersamanya menyelesaikan hal hebat tadi. “Doakan aku,” sambungnya ketika berhenti sebelum sampai di pintu dan melirik istrinya sejenak.

“Hati-hati Kanda, aku selalu mendoakanmu,” istri yang sangat taat pada suaminya ini selalu mendoakan suaminya dalam setiap langkah, tindakan dan pilihan yang dilakukan sang suami. Sebagai istri yang solehah ia juga yakin keridhoan suami adalah ridho Allah. “Kalau sudah selesai, cepat pulang, hari ini berbukalah di rumah.”

“Assalamualaikum,” laki-laki separuh baya itu pamit.

Lelaki ini, berjalan bersama kawannya yang sudah menunggu di depan rumah. Mereka sama-sama memakai peci, pakaian pun sama warnanya, namun bentuknya saja yang sedikit berbeda. Tapi peci sang kawan tidak. Mereka lanjut berjalan menuju tempat dimana mereka akan melakukan hal hebat pada hari itu.

Ia berjalan sedikit di depan, bersama tongkat yang ia bawa, bukan untuk memapah tapi hanya untuk dipegang-pegangnya saja. Kadang ia selipkan di ketiak. Tidak ada orang yang tahu kegunaan tongkat si lelaki ini. Konon banyak orang di sekitarnya percaya tongkat itu memiliki kemampuan mistis yang sungguh luar biasa. Bisa memberi isyarat kalau-kalau ada yang berencana baik atau buruk terhadap si pemilik tongkat. Bisa memberi isyarat apabila akan terjadi sesuatu yang berbahaya disekitar pemilik tongkat.

Selain itu, tongkat sakti itu juga akan terjatuh dari tangan apabila si pemilik dan orang-orang sekitarnya sudah terlampau jauh berbuat kesalahan, berbuat hal-hal dosa dan zalim. Pertanda bencana. Untuk mencegah terjadinya bencana yang diisyaratkan atau memperbaiki apabila benar-benar terjadi, tidak ada jalan selain berdoa dan berusaha. Tongkat itu hanya mampu memberi tanda, namun tidak memberi jalan keluar. Tapi sebagai seorang muslim, seorang yang taat akan ajaran Rasulullah, ia tidak percaya dengan hal-hal semacam itu. Ia yakin pertanda celaka ataupun bencana sudah diberitahu Allah dalam Al Quran. Seperti yang disampaikan dalam surat Al-Zilzalah dan Al-Qari’ah. Tapi ia percaya, bencana dan malapetaka akan didatangkan kepada suatu kaum ketika kaum itu sudah jauh menyimpang dari norma-norma dan ajaran agama.

Mereka berdua berjalan menuju ke suatu tempat. Sesuatu yang hebat sudah menunggu untuk segera diselesaikan, di ujung jalan tempat yang mereka tuju. Matahari begitu terik, meskipun belum jam dua belas tepat, bahkan saat itu masih layak disebut masih pagi. Haus mulai menganggu mereka. Ditambah lagi sedang bulan Ramadhan, rasa hauspun makin menyekat hingga tenggorokan. Bibir kedua lelaki itu bak padang pasir, gersang dan sangat butuh disentuh air. Tapi mereka harus berpuasa hingga matahari terbenam. Itu kewajiban mereka sebagai muslim dan mereka sadar. Apalagi mereka hendak melakukan sesuatu yang hebat. Paling tidak, hebat menurut mereka sendiri dan tentunya yang akan mereka lakukan bukan tindakan kebatilan, melainkan memberikan manfaat. Melakukan sesuatu yang memberikan manfaat tentunya akan mendapat pahala dan karunia dariNya, apalagi di bulan Ramadhan, pahala itu akan dilipatgandakan. Baiklah harus ditahan rasa haus ini, mereka terus berjalan.

“Akan jadi apa aku setelah hari ini?” kawannya bertanya. “Yang jelas, esok akan lebih baik dari hari ini, dan akan banyak pekerjaan yang menunggu,” si pemilik peci kusam menjawab. “Apakah kita tidak salah jalan? Kau tahu akan berbahaya hidup kita setelah ini, hidup keluarga kita, istri dan anak-anak kita akan terancam keselamatannya.”

“Kawan, kau jangan khawatir, niscaya hal yang kita lakukan ini sudah benar, dan tidak salah jalan. Lagipula apakah kau akan terus menunggu? Kasihan anak cucu kita, makin susah nanti hidup mereka, lebih susah dari kita yang sudah tua ini, yang sebentar lagi akan dikirim ke liang lahat. Kalau soal keluarga kita yang terancam, bukankah banyak juga yang akan melindungi mereka nantinya jika tugas kita hari ini selesai dengan baik? Kenapa tiba-tiba kau meragu seperti ini? Bukankah kau sendiri yang bersikeras, berjuang sekuat tenaga meyakinkan aku untuk hari ini? Bukankah kau yang telah melakukan banyak hal demi hari ini?” lelaki bertongkat itu membalikkan basa-basi kawannya yang pura-pura ragu itu. Ia tahu kalau kawannya ini memang seperti itu, suka menguji nyali dengan gaya ketidakpercayaan dan keragu-raguan. Gaya bicara yang sebenarnya bertujuan membakar semangat, agar semakin mantap untuk menyelesaikan tugas besar yang sudah menunggu di depan mata. Kawannya ini memang pintar. Akhirnya mereka sampai di tempat itu.

***

Lelaki bertongkat tadi telah sampai bersama kawannya di tempat yang  dituju. Tetap dengan formasi seperti dari tempat mereka berangkat, si kawan berdiri di belakang sebelah kanan. Ia kembali membenarkan peci kusamnya, menyelipkan tongkat di ketiaknya, dan menggenakan kacamata hitam yang sudah ia pakai sedari tadi ketika hampir sampai di tempat tujuan. Setelah ia merasa mantap, kemudian diselipkannya tangannya ke bagian dalam jas safari warna putih yang ia kenakan.

“Proklamasi!” dengan lantang dan gagah ia mengucapkan kata pembuka dari teks yang sehari sebelumnya telah ia siapkan bersama kawannya yang daritadi seiring dengannya. Sebelum melanjutkan, ia menatap sejenak ke depan, ribuan manusia khidmat mendengar. Para calon manusia-manusia bebas, dan dalam satu menit ke depan, mereka akan benar-benar menjadi manusia-manusia bebas. Bebas dari belenggu penjajahan, bebas dari belenggu perbudakan, bebas dari penistaan kaum mereka, yang telah dialami oleh nenek moyang mereka ratusan tahun lamanya. Bebas untuk merdeka.

Lelaki itu, kawannya, dan ribuan orang-orang yang menginginkan kebebasan mutlak untuk berbangsa dan bernegara, mereka semua berjanji pada hari itu. Janji pada Tuhan dan janji pada diri sendiri. Janji untuk menjaga ibu pertiwi, janji untuk bersatu tanpa pandang bulu tanpa pandang suku dan agama, janji itu mereka pegang teguh.

Mereka, ribuan manusia itu yakin, anak cucu mereka akan terus memegang janji-janji suci itu. Tidak akan ada pertumpahan darah di tanah pertiwi ini. Pertumpahan darah antar sekawan, antar suku, antar agama. Mereka begitu yakin dan mantap, karena anak cucu mereka adalah orang-orang yang akan menjaga janji suci yang dipatrikan dalam-dalam di lubuk hati mereka, terhitung hari ini, hari di pertengahan bulan Ramadhan ini.

Ribuan orang itu juga yakin, begitu juga dengan dua sekawan tadi, bahwa tidak akan ada lagi kemiskinan merajalela di negeri ini setelah hari ini. Tidak akan pernah ada kaum mereka yang meminta-minta belas kasihan di pinggir jalan. Tidak akan ada yang tinggal di kolong-kolong jalanan. Tidak ada lagi yang mati karena tidak mampu membayar obat, tidak ada lagi yang mati kelaparan karena tidak mampu membeli pengisi perut. Dan semua keyakinan atas janji-janji mereka hari ini mereka teruskan dalam bentuk doa, doa pada Ilahi. Mereka yakin, puluhan, ratusan tahun lagi, kaum mereka ini akan menjadi kaum tanpa kemiskinan. Kaum yang disegani di dunia karena kesejahteraan rakyatnya, beserta kekayaan alamnya yang melimpah. Kaum yang merajai intelektualitas di dunia, kaum yang menjadi panutan berbagai bangsa. Kaum yang teramat sangat disegani, penentu arah dunia.

***

“Perasaanku bercampur aduk, antara senang, takut, bangga, galau, pokoknya campur aduk. Kita benar-benar melakukan hal hebat hari ini. Hal hebat yang telah kita susun dengan jutaan hal hebat sebelumnya, baiklah kalau begitu aku pamit dulu.”

“Setelah sholat Ashar, kembalilah kemari. Banyak yang harus kita kerjakan. Sekalian berbuka puasa di sini bersama beberapa orang yang akan turut membantu kita. Istriku juga sudah menyiapkan makanan untuk berbuka nanti.” Ia yakin tidak ada alasan bagi kawannya untuk menolak ajakan ini.

“Insya Allah, kalau ada umur,” lelaki dengan peci lebih hitam itu berjalan pergi.

Sesampai di kamar, dilepaskannya jas putih safarinya, digantinya dengan yang lebih enteng. Peci tadi juga ia kembalikan ke tempatnya, namun tongkatnya tetap ia pegang. Ia kembali berdiri di depan cermin, melirik dua foto yang ada disitu. Salah satunya ia ambil, foto yang lebih lusuh, tapi bukan foto pernikahannya.

Dalam hati ia berkata “Anak-anak kecil ini, dan anak-anak kecil setelah mereka nanti, akan tumbuh menjadi orang-orang yang bangga dan menghargai apa yang baru saja aku lakukan, bersama kawan-kawanku. Mereka akan melanjutkan perjuangan yang juga aku lanjutkan dari orang-orang sebelum aku dengan cara mereka. Aku yakin dunia akan digemparkan oleh kehebatan-kehebatan negeri ini di tangan mereka. Ketika tanggung jawab dan kepercayaan menjaga negeri ini mereka pegang teguh dan bersungguh-sungguh. Aku yakin semua impian, harapan dan janji-janji yang kami patrikan hari ini akan tercapai, suatu hari di tangan mereka aku yakin.”

Tongkat lelaki itu terjatuh.

(Jombang Santani Khairen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s