Writer’s Block

Halaman kosong. Hanya sebentuk reka kertas putih yang muncul di layar komputer. Saat satu dua kata mulai menggamit yang lainnya, rasa tidak percaya diri mendorong telunjuk kanan menyapu kembali awal-awal tulisan. Lalu, halaman bohong-bohongan itu bersih kembali. Terjaga seperti kedua mata, begitu terus sampai pagi.

Kebahagiaan terbesar seorang penulis adalah ketika ia menyelesaikan alenia pertamanya. Tentu saja, kita paham. Kebahagiaan itu bak kesuksesan. Garisnya telah dikukuhkan Tuhan. Paling tidak, sedikit darinya pasti akan datang, kalau kita mau bersabar. Tapi, kita juga punya pilihan untuk menghampirinya.

Sayang, seorang penulis tidak punya pilihan. Adakah secuil bahagiamu mendapati waktu menenggat tanpa secarik karya? Kalau kebahagiaan-menyelesaikan-alinea-pertama itu dibiarkan mencari tuannya sendiri, ia hanya akan berpulang pada masa depan. Berbalik menanti dijemput kita!

Memang, ada kalanya kita terjebak pada suatu writer’s block, situasi yang entah apa alasannya menjadikan jemari kita kering dan beku di atas mesin pengetik. Kadang otak kita memang sedang kopong. Lain kali, pikiran kita malah sedang asyik berkelana, brutal, dan liar. Namun, tak kunjung satu paragraf pun rampung. Seperti tak bisa mengucapkan nama guru SD-mu, tertahan di ujung lidah rasanya.

Apapun itu, bohong besar kalau hanya kertas putih yang bisa dilihat, ketika dua mata melekat di monitor. Kenyataannya, satu dua kata selalu bisa lahir. Lalu sering, satu dua kata dibunuh sendiri. Begitulah penyakit penulis yang paling parah. Menghapus kalimat-kalimat pertama. Kebiasaan ini, gawatnya lebih dari tulisan yang tidak selesai. Pelan-pelan, kepercayaan diri ikut terhapus. Ujung-ujungnya, bisa kapok dan mandul menulis.

Jurnalis, sebagai penulis yang punya kode etik setingkat lebih terdefinisi, memiliki tantangan cukup besar dalam menghadapi writer’s block. Tuntutannya pun beda, sedikit kejam, mesti bisa memenuhi ekspektasi pembaca kalau ingin eksis. Tulisan harus renyah dibaca, berbobot tinggi, namun mudah diteguk pesannya.

Tapi, tidak ada toh yang benar-benar harus? Salah besar kalau impresi – apa yang orang interpretasikan tentangmu dari tulisanmu – dijunjung terlalu tinggi ketimbang ekspresi – luapan pikiran dan perasaan yang berasal dari hati. Keduanya perlu dikawinkan, karena sederajat, betul. Bagaimanapun, tetap saja kita harus mengingat tujuan awal menulis kita. Berekspresikah, membebaskan emosi?

Ketika tangan bergerak menulis, tangan itu diperintahkan oleh otak, sedangkan otak diperintahkan oleh hati. Hati memerintah karena kebutuhan menulis saat itu. Bolak-balik menghapus tulisan sendiri, sama saja mematahkan perintah hati. (Khairul Jasmi)

Menulis itu bukan sebuah ilmu, melainkan keterampilan. Tidak ada gurunya selain diri sendiri. Tidak bisa dipelajari kalau tidak dengan dilakukan.

Lupakan semua aturan, kau punya editor. Lupakan apa yang ada di benak pembaca tentang tulisanmu, karya akan menemukan sendiri penikmatnya. Lupakan siapa kamu, jujurlah dan menulislah.

Sudahkah kamu menyelesaikan alinea pertamamu hari ini?

Ayo terus berkarya! Untuk Indonesia yang lebih cerdas.
(Mutia Prawitasari)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s