Antara UI, Ventura, dan Optimalisasi Pendanaan yang Terabaikan

BOP (Biaya Operasional Pendidikan) merupakan pendanaan sejak dari awal diterapkan selalu menjadi polemik di Universitas Indonesia. Setiap tahun BOP menjadi pembahasan wajib bagi mahasiswa Universitas Indonesia. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa Universitas Indonesia juga memiliki unit usaha yang juga menjadi salah satu alternatif pendanaan potensial di samping BOP.  Masalahnya adalah, unit usaha atau yang biasa disebut dengan ventura, hingga saat ini masih belum terdayagunakan secara optimal. Apakah memang kondisi ventura belum mampu untuk menjadi lahan yang bermanfaat dalam pendanaan operasional UI? Ataukah UI yang belum mampu mengoptimalkan potensi ventura yang ada, baik itu dalam hal akademis ataupun komersial?

 

Sebagai sebuah universitas besar di Indonesia, UI membutuhkan pelayanan pendidikan yang berkualitas baik. Hal ini berbanding lurus dengan misi UI untuk menjadi universitas kelas dunia. Usaha untuk mencapai misi ini terlihat dengan banyaknya pembangunan, baik fisik maupun non fisik di kawasan UI. Misalnya saja, pembangunan Perpustakaan Pusat baru dengan fasilitas dan koleksi buku yang lebih baik dari sisi kuantitas dan kualitas, pembangunan FK dan FKG beserta rumah sakit, dan pembangunan lain di sejumlah fakultas. Untuk mencapai universitas kelas dunia, tentu UI membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Pemenuhan pembiayaan terbesar UI dipegang oleh peran BOP yang dipungut dari mahasiswa. Besarnya BOP menuntut adanya peran pendanaan dari unit usaha yang ada di UI agar bisa lebih dioptimalkan. Namun sangat disayangkan, keberadaan unit usaha tersebut masih belum membantu pendanaan UI. Bahkan, bila dilihat dari proporsi sumbangan finansial, ventura hanya memberikan kontribusi sangat kecil dalam persentase penerimaan UI.

Sebagai sebuah unit usaha, faktor finansial bukan hanya menjadi target dari unit usaha UI. Pada dasarnya, unit usaha yang ada di UI terbagi atas tiga, berdasarkan tujuannya. Pertama, unit usaha akademis yang menunjang kegiatan akademis seperti penelitian, namun bersifat nirlaba. Kedua, unit usaha komersil yang dibentuk untuk menjadi sumber pendanaan tambahan bagi UI.  Ada dua unit usaha komersil yang dimiliki oleh UI, yaitu PT Daya Makara dan PT Makara Mas. PT Daya Makara bergerak di bidang konsultan, sementara PT Makara Mas bergerak di bidang perdagangan umum. Ketiga, unit usaha penunjang yang meliputi usaha seperti fotokopi dan kantin. Unit usaha penunjang tidak menjadi andalan UI sebagai sumber pendanaan, melainkan hanyalah bentuk pelayanan tambahan dari universitas untuk mahasiswa.

Ventura Dulu dan Sekarang

Salim Siagian, dosen sekaligus pengamat ventura UI, angkat bicara mengenai permasalahan ini. Salim menuturkan, berdasarkan PP No. 152, ketiga ventura ini memiliki fungsi masing-masing sebagai kesatuan terpisah. Selain itu, ventura juga memiliki fungsi karena masih berada di bawah naungan Universitas Indonesia. Tentu diharapkan ventura dapat “menyumbangkan” sejumlah dana guna menunjang bagi operasional UI. Meskipun pada kenyataanya, menurut Salim, sudah sejak lama ventura milik UI nyaris tidak memberi sumbangan pendanaan kepada UI.

Apabila dilihat sejarahnya, pada tahun 70-an, ventura melembaga dengan baik di UI, terutama ventura yang berada di bawah naungan Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, dan Fakultas Psikologi. Lembaga-lembaga tersebut memiliki peranan besar, termasuk dalam sumbangsih sebagai sumber dana bagi UI.  Tentu saja ventura ini memiliki reputasi dan kualitas yang tidak bisa dipandang sebelah mata.  Misalnya saja, dulu, Lembaga Manajemen  yang ada di FEUI, termasuk lima besar perusahaan konsultan manajemen di Indonesia.

Lain dulu, lain sekarang. Kinerja serta sinar kejayaan ventura perlahan redup, mungkin nyaris mati.  Hal ini dibenarkan oleh Salim. Salim juga menyampaikan bahwa terdapat tiga masalah yang dihadapi oleh ventura UI.

Permasalahan pertama justru sudah sering muncul sejak tahun 70-an.  Permasalahan tersebut selalu saja diredam, lalu dibiarkan tanpa penyelesaian atau solusi.  Permasalahan ini pada intinya adalah karyawan ventura yang tidak memiliki hak atau tidak berhak memegang saham kepemilikan atas ventura UI.  Kalau saja karyawan berhak memiliki saham ventura, rasa kepemilikan karyawan terhadap ventura akan semakin tinggi, yang berdampak positif terhadap peningkatan produktivitas ventura.

Kedua, arah pengembangan ventura UI dinilai kurang tepat dan kurang fokus. Salim menekankan, “Rumusan visi dan misi ventura UI tidak mantap. Tujuannya juga tidak jelas. Misalnya saja ventura komersil, sebagai lembaga yang bersaing di pasar, diperlukan praktisi yang hebat, bukan profesor yang hebat, sementara kita tidak tahu yang mau dicapai itu praktisi yang hebat atau profesor yang hebat”.

Ketiga, lingkungan yang terus berubah. Dahulu peranan senior UI di kursi pemerintahan masih relatif kuat. Banyak “pentolan” UI yang memiliki jabatan di pemerintahan sehingga membuat komunikasi pihak ventura UI dengan pemerintah relatif lebih mudah.

Rektorat Ikut Campur

Dilihat dari keberadaan ventura yang masih di bawah rektorat, tentu sokongan dari pihak rektorat bisa membantu operasional ventura. Campur tangan rektorat yang mungkin bisa membantu ventura bangkit dari keterpurukannya, ternyata ditampik oleh Salim.  “Campur tangan mereka belum banyak. Bahkan, campur tangan mereka yang sedikit itu pun membuat lebih banyak kerugian karena mereka sendiri sebenarnya bukan orang-orang yang punya keahlian di bidang-bidang tersebut.  Kalau ditambah lagi, malah makin merusak,” demikian tutur Salim.

Salim menambahkan, “ Sumber daya manusia yang baik dan profesional di bidangnya adalah hal yang dibutuhkan oleh ventura UI untuk berkembang, bukan uang. Meski pihak rektorat memberikan bantuan berupa tambahan modal yang lebih kepada ventura-ventura yang ada di UI, itu tidak akan memberikan perubahan yang signifikan dalam pengelolaan ventura UI.”

Namun, pandangan berbeda diberikan oleh Elok Tresnaningsih, Manajer Ventura Fakultas Ekonomi UI. Elok merasa bahwa rektorat memiliki hak untuk ikut campur karena setiap ventura yang ada di UI menyandang nama UI. Kebijakan dari rektorat untuk meminta bagian dari penerimaan ventura adalah hal yang wajar menurut Elok.

Elok berpendapat, permasalahan ada pada komunikasi antara pihak UI dengan ventura. Tampak dari bagaimana sebuah kebijakan yang ditujukan bagi ventura untuk menyumbangkan lima persen penerimaannya kepada UI. Besarnya sumbangan yang mesti disisihkan ventura dirasa memberatkan karena pada kenyataannya untuk memperoleh keuntungan saja, ventura sudah tunggang langgang.

“Hal yang lumrah apabila pihak universitas meminta sedikit bagian dalam penerimaan ventura, akan tetapi besarnya bobot sumbangan yang sebesar 5% ini sangat memberatkan di mata sebagian besar ventura. Penentuan besarnya angka persentase ini pun tanpa adanya pertimbangan dan komunikasi terlebih dahulu dengan ventura,” ucap Elok.

“Apabila pembiayaan ini ditambahkan pada biaya dalam tender, hal ini akan sangat signifikan dan bisa jadi kita kalah dalam tender. Kecuali proyek yang diterima adalah proyek yang diturunkan dari UI sendiri. Di sinilah masalahnya. Meski hanya lima persen, akan tetapi pengaruhnya sangat besar,” tambahnya

Elok merasa ada kesalahan pemikiran dari pihak universitas. Pihak universitas sepertinya menganggap ventura UI masih seperti masa kejayaannya dulu. Hal ini akan masuk akal apabila ventura UI masih mampu bersaing di pasar, tidak seperti sekarang.

Sumbangan yang diberikan rutin oleh ventura kepada pihak UI rencananya akan digunakan untuk menunjang operasional ventura. Namun, sampai saat ini masih belum dilihat dan dirasakan sejauh mana dana tersebut digunakan.

Tindak Lanjut, Molor

Tim Economica Papers pun mencoba melihat bagaimana tanggapan dari rektorat mengenai permasalahan ventura. Untuk itu, kami menemui Soenanto Roewijoko, Direktur Pengembangan Aset dan Ventura UI. Melalui wawancara ini, didapat informasi bahwa rektorat ternyata tidak tinggal diam.

Pihak rektorat pun menyadari permasalahan ventura ini dan berupaya memperbaikinya. Ada tiga tindak lanjut yang akan membantu dalam penyelesaian masalah ini. Pertama adalah, rektorat berniat untuk melegalisasi keberadaan ventura dengan SK Rektor. Dengan begitu, ventura mesti melaporkan kegiatan mereka dan keuntungan usaha, termasuk mewajibkan ventura agar perjanjian dengan pihak ketiga diketahui oleh rektorat. Kedua, rektorat ingin mendorong ventura dan kegiatan usahanya menjadi lebih maju melalui evaluasi kegiatan usaha dan pemberian latihan. Terakhir, rektorat memiliki niatan untuk mengatur masalah kontribusi keuntungan ventura terhadap keuangan UI.

Terkait rencana tersebut, di akhir tahun 2010 diharapkan sosialisasi peraturan yang dibuat pihak rektorat sudah selesai, kemudian tahun 2011 dilakukan pembinaan kelembagaan, dan tahun 2012 ventura-ventura sudah secara riil melaksanakan SK Rektor yang dibuat tadi. Akan tetapi, rentang waktu ini molor terkait kisruh masalah status UI yang belum jelas. Terkait status UI yang masih belum jelas, cara antisipasi dari pihak rektorat adalah mengupayakan agar nantinya apapun status UI, akan tetap ada wadah yang melegalkan keberadaan ventura dalam aturan status UI yang baru.

Selain itu timeline juga molor karena sulitnya sosialisasi peraturan ini. Belum ada kesepakatan bersama untuk mengembangkan ventura secara bersama. Terkait oknum yang belum bisa menerima atau memahami keinginan pihak rektorat untuk mengembangkan ventura secara bersama, pihak rektorat tidak bisa melakukan penertiban selama oknum tersebut tidak meninggalkan tanggung jawab akademik.

Meskipun ada itikad baik untuk memperbaiki sistem pengelolaan ventura, keseriusan untuk benar-benar melaksanakan penyelesaian adalah yang terpenting. Akankah ventura akan terus menjadi organ tak terberdayakan dengan baik? Atau suatu hari nanti ventura akan menjadi organ penting yang dapat diandalkan sebagai sumber daya pendukung yang ada di dalam UI. Yang pasti, jika ventura dapat menjadi sumber pendanaan utama UI, maka diharapkan BOP yang dibebani kepada mahasiswa tidak akan membengkak.

(Edo Yuliandra, Afin Afini, Riyan Hidayat, dan Bayu Tegar Perkasa)

*tulisan dimuat dalam rubrik Tulisan Utama pada Economica Papers 53

Advertisements

One response to “Antara UI, Ventura, dan Optimalisasi Pendanaan yang Terabaikan

  1. Jadi gimana kinerja rektorat mengenai status lembaga aset dan ventura,kalau sampai detik ini lembaga tersebut belum di legalisasi,Berati Direktur Aset dan Ventura hanya jabatan yang belum jelas dan masih illegal,bagaimana status unit kerja yang dibawah naungan ventura itu sendiri !!!!!!!,Seperti kami dari unit kerja Wisma Makara yang sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai status kami bekerja,Banyak hak-hak kami yang tidak di perjuangkan oleh beliau-beliau”,Maka dari itu kami dari seluruh pekerja yang ada di Wisma Makara ingin menyakan status kami yang masih gantung-tung tung,sementara kewajiban kami selama bekerja d wisma makara sudah kami jalan kan tetapi hak hak kita blm di dapat secara reall contoh 4 orang pekerja makara d resaing begitu saja tanpa alasan yg blm jelas .statusnya dan tidak mendapatkan pesangon selama dia berkarya. ….terimakasih bosss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s