Di Antara Udara dan Udara

Kepulan demi kepulan bergumpal. Sebentuk cahaya di ujung malu-malu menyala, menggerogoti lintingan putih yang aku hisap pada ujung lainnya. Kenikmatannya bukan di tenggorokan, apalagi dalam gelambir di bawahnya, tidak. Dia ada di udara, di antara aku dan teman-teman minum kopi di kafe. Hangatnya mengalir lebih dari di darahku, dia bermuara di hati. Orang bilang ini untuk senang-senang. Aku bilang bukan. Nah, kawan, sulutlah satu batang, sambil aku ceritakan.

Hijau makaraku tak sedikitpun mampu meragukan diriku sendiri akan apa yang sering aku baca dari sebuah kertas besar di berbagai tempat akan bahayanya. Hitam-hitam di gigimu, kerut-kerut di sudut mata. Sel-sel tubuhmu bisa berontak, membelah seenak jidat, lalu kau mati, semudah kau mematikan yang kumatikan.

Lantas, apa bedanya ia dengan segala hal yang membunuhmu perlahan-lahan? Minuman bergelitik yang berwarna-warni, mereka menghanguskan lorong-lorong makanan di perutmu. Makanan sedap siap santap, mereka mengerak di kepalamu, menjadikan otakmu sebodoh udang, sampai kau tidak cukup pintar untuk berhenti memanjakan lidahmu dengan sensasi umami.

Mungkin satu-satunya beda, aku tidak pernah dicela karena memakan mereka-mereka yang lainnya, kecuali dia. Bilangnya, tak pantas calon ibu berperilaku demikian. Enak saja! Di mana emansipasi wanita yang selalu mereka isukan? Di gerbong kereta? Di daftar cuti para pegawai negeri? Kalau kau junjung kesetaraan gender, biarkanlah aku telan apa yang aku inginkan. Jangan sok mengatur dan melarang!

Ini bukan masalah butuh atau ingin, bukan masalah pemberontakan identitas seperti kawan-kawan semasa SMP-ku yang larut malam ongkang-ongkang di toko kelontong sebelah sekolah. Benda ini ajaib sekali, seajaib pematik yang menyalakannya. Kadang-kadang bisa membawakanmu kedamaian, namun tidak jarang sesosok asing yang serta-merta mengajakmu bicara dalam bahasa yang tidak kau pahami.

Bagi seorang pedagang asongan, benda ini membawa keberkahan. Bagi seorang sopir bus malam, benda ini menidurkannya dengan mata terbuka. Bagi seorang eksekutif muda, benda ini menonjolkan kelas yang berbeda. Bagi seorang dokter, benda ini dijadikan bulan-bulanan sakit pasiennya. Bagi seorang calonnya, benda ini bisa jadi musuh yang luar biasa, atau malah bahan skripsi yang basi. Bagiku, hanya seonggok tembakau bau saja, saja jika aku sendirian di kamarku, bukan di kafe, kantin, altar perpustakaan, atau di warung kopi.

Candu. Kata mereka ini awal dari semua jenisnya. Mengganggu, merusak segala. Itu mereka, bukan aku, karena aku bukan pecandu. Tantang aku dalam seminggu, separuh bulan, sepurnama sekalian, aku mampu! Sudah aku nyatakan, tubuhku tidak mengidamkannya. Orang-orang ini yang meminta, memaksa setiap yang hidup di dalamku menerima.

Menerima sesusah mengikhlaskan ayahmu kawin lagi, kau tidak kunjung punya pacar, berat badanmu naik, rambutmu rontok karena leukemia, adikmu tawuran, atau IP-mu merosot karena aktivitas kampus yang tidak jelas? Tidak harus begitu. Menerima bisa sesusah mengikhlaskan nilaimu A semua, presentasimu luar biasa, apapun yang kau sentuh jadi istimewa, dan dunia seperti kecil di tanganmu. Sekecil orang-orang memandangku pada paruh pertama kuliah kemanusiaan ini. Aku yang anggun, menawan, tapi klenik untuk disentuh, terlalu klasik bahkan untuk diajak semeja di kantin.

Benda ini tidak menonjolkan dan mengotakkan siapa-siapa. Ia bisa melepas isolasi yang melilitmu, seperti label “calon mahasiswa sempurna berprestasi yang sebaiknya tidak kau temani karena pasti ambisius dan hanya memikirkan diri sendiri”. Ia mengajarkanmu arti saling berbagi, makna saling mengisi. Mengubah sosok asing tadi menjadi teman, paling tidak aku bisa menyebutnya demikian.

Ia lebih dari sekadar jembatan pembicaraan. Ia bak bentuknya, panjang dan tak pernah habis aku telusuri. Aku selalu diantarkannya kepada wajah-wajah baru, atau kisah-kisah lama dengan pelajaran baru. Menyeretku bertualang, mengepompong dan terbang sebagai “calon mahasiswa hampir sempurna berprestasi yang sebaiknya kau temani karena pasti akan menyodorkan setengah bungkus miliknya untuk dibagi di meja kedai kopi”.

Inilah ilmu kemanusiaan yang seharusnya! Tidak hanya mengobok-obok yang ada dan diselimuti kulit, tetapi juga yang terselubung jauh di dalamnya. Mengenal alasan untuk setiap keadaan, bukan untuk membenahi, tapi memahami. Lebih dari sekadar memahami, bisa juga berempati.

Ah, kata orang, perempuan-perempuan sepertiku ini tidak tahu tata krama. Mendirikan cerobong instan di mana-mana. Membuat jelaga di piring-piring, keramik-keramik, bahkan melelehkan meja plastik. Itu mereka, bukan aku! Aku tidak sembarangan seperti itu. Tempatku hanya di kafe umum, di angkringan atau di warung kopi. Sebentuk cerukan tanah liat selalu kubawa, kalau-kalau tidak ada wadah lain untuk menampung debunya.

Tapi pernah suatu hari aku menikmati hisapan-hisapan rasa mentol di pinggir jalan. Tiba-tiba seorang Bapak melintas, lalu pura-pura batuk seperti ada nasi yang tersangkut di kerongkongannya. Tangannya menampar-nampar udara, supaya sesuatu itu berbaur lebih cepat dengan yang lain rupanya. Tatapannya membunuh. Aku balas saja dengan geraman. “Ini jalan besar, Pak! Kalau mau hidup seperti milik sendiri, ya jangan ke tempat umum,” umpatku dalam hati.

Semua bilang asapnya menyebalkan. Padahal, asal kamu tahu, keberadaanmu di manapun pasti menyebalkan. Suara berisikmu sering mengganggu orang. Satu telepon genggam yang kamu punya mengurangi keleluasaan orang lain untuk berselancar di langit. Satu lagi orang dengan mobil pribadi membuat jalan semakin sesak, macet tidak keruan. Setiap habis makan daging, kau membuang metana bersama kotoranmu. Bahkan nafasmu, menipiskan banyak oksigen di udara.

Apa? Mereka telah bayar untuk itu semua? Aku juga kawan. Tidakkah kau tau ke mana perginya uang-uang yang ditukar untuk segel-segel di bungkusannya? Ada yang ke rumah sakit, untuk makan orang-orang yang keseringan menghisap buanganku. Ada juga yang masuk kantong para koruptor. Haha. Mana aku peduli. Aku sudah bayar.

Sudahlah, tidak perlu berlagak seperti Tuhan. Bilang ini salah, itu benar. Di mata kita cuma ada baik dan kurang baik. Tidak ada itu buruk. Einstein saja tidak menyebut ada dingin, yang ada hanya ketiadaan panas. Kalau kita berbeda, ya begitulah hidup. Kalau kau mau hidup sendiri, ya belilah dunia ini.

Aku bukan menuntut plan-plang larangan itu ditutup. Sama sekali tidak. Toh, aku selalu tahu diri, tahu tempat, tahu waktu. Kau pikir orang-orang sepertiku akan berhenti kalau disodori gambar-gambar menakutkan dan peringatan-peringatan tentang kematian? Ayolah, jangan berlagak seperti Tuhan. Terimalah kami apa adanya, kebiasaan itu bisa saja menghilang. Bisa, kalau kau tidak hanya menyudutkan, tetapi juga memberi kami ruang.

(Mutia Prawitasari)

*tulisan dimuat dalam rubrik Igauan pada Economica Papers 53

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s