INTERUPSI: Kesadaran Berpolitik Mahasiswa, Perlukah?

Dengar-dengar, kampus ini mau punya pesta besar. Beritanya tersebar bersama wajah-wajah baru yang mendadak jadi follower di Twitter atau minta jadi teman di Facebook. Baliho-baliho dipasang berjajar–mengadu desain, kata-kata perayu, bahkan mungkin ketampanan dan isi kantong mereka yang ada di dalam gambar. Si tuan rumah mengundang rakyatnya dengan heboh, berasumsi acara ini begitu meriah, megah, hingga semua orang pasti berbondong-bondong datang. Lalu di selasar, perpustakaan, student center, kafe, kopetri, ruang kelas, mahasiswa tetap berpesta–pesta tiap hari–dengan kesibukan masing-masing. Si tuan rumah juga tetap berpesta, dengan rakyatnya, tidak semua, mungkin segelintir saja.

 

Mahasiswa, Pesta, dan Pilihan

Ajang pemilihan ketua organisasi mahasiswa, baik berskala fakultas maupun himpunan, selalu menjadi isu yang menarik untuk diamati. Pasalnya, sejak badan-badan ini didirikan, pastilah perlu kepiawaian berpolitik untuk bisa menjadi bagiannya, apalagi menjadi pemimpinnya. Berkaca pada pemerintah di negeri kita, pesannya sudah jelas: ”Yang berani terjun ke politik, siap-siap kotor.”

Tidak salah kalau momen ini disebut sebagai pesta. Sebagian orang berpesta karena tanggung jawab “pengabdiannya” berakhir, atau bisa juga karena mereka siap “meloncat” ke posisi-posisi lain. Calon-calon pemimpin dan keroconya pun berpesta. Kalau mereka berhasil menang pemilu, pestanya berburu jabatan dan makan-makan. Namun kalau kalah, tetap makan-makan. Yang tampak tidak berkepentingan namun sebenarnya menumpang, juga pasti berpesta. Free rider macam ini bisa mendapatkan lebih dari kesenangan dan kebahagiaan. Jelata lainnya pun berpesta, masing-masing punya satu tiket masuk bilik pemilihan, menyumbang suara untuk masa depan.

Demikianlah bagaimana pesta ini menjadi besar. Bukan dari banyaknya baliho yang dipasang, rentengan yang dipajang, atau ramai-ramai di selasar dan batang, melainkan dari akumulasi titik-titik kesadaran berpolitik para mahasiswa, rakyatnya, jelatanya. Namun, adakah sebenarnya ukuran kesadaran berpolitik tersebut?

Lakon-lakon utama pesta ini boleh mengklaim dirinya sendiri memiliki kesadaran berpolitik yang tinggi. Lebih dari sekadar sadar, mereka betul-betul “peduli.” Namun, ketika hak memilih diberikan kepada publik, hak untuk tidak memilih ikut pula di dalamnya. Ini seringkali luput dari kesadaran berpolitik tersebut. Golongan yang abstain seringkali dituduh apatis. Padahal, ada juga yang mengaku netral, walaupun tidak jelas apakah ia benar-benar peduli.

 

Apatisme vs. Netralisme

Dewasa ini, fenomena apatisme mahasiswa terhadap pemimpinnya sekilas tampak semakin menggurita. Entah pemimpin negara, pemimpin daerah, atau pemimpin organisasi kemahasiswaan. Beberapa orang kecewa atas kondisi ini karena dinilai mengindikasikan kemunduran moral. Namun, bagi segolongan yang lain, hal ini menunjukkan kemajuan. Mereka beranggapan bahwa organisasi mahasiswa pun penuh dengan intrik politik dan konflik, sehingga sebaiknya diabaikan.

Apatisme umumnya berhulu pada kekecewaan atas kondisi lingkungan yang tidak memenuhi harapan. Sikap ketidakpedulian terhadap lingkungan lahir sebagai akibatnya. Pada pemilu, misalnya, orang-orang ini muncul sebagai golongan “yang-tidak-tahu-dan-tidak-mau-tahu, abstain.”

Pada hakikatnya, golongan apatis tidak dapat dipersalahkan. Setiap orang di nuraninya tentu memiliki kepedulian. Hanya saja, bagi mereka, isu politis seperti pemilu mungkin tidak menarik, sehingga menjadi tidak penting untuk dipedulikan. Mereka merasa lebih berharga menghabiskan energi mereka untuk sesuatu lain. Hal ini dapat menjadi renungan tersendiri bagi para pemangku jabatan dan kepentingan.

Bagaimanapun, terlepas dari definisi normatif apatisme, para (calon) pemegang jabatan perlu lebih dari sekadar menghargai keberadaan golongan ini. Mereka toh sama-sama manusia yang aspirasinya perlu ditampung. Masalahnya, selama ini pemimpin-pemimpin hanya berkapasitas untuk mewadahi aspirasi (sebagian) mahasiswa dan belum mampu secara utuh menyalurkannya kembali untuk mewujudkan ekspektasi.

Idealnya, golongan apatis itu tidak ada. Golongan netral, yaitu mereka yang peduli namun tidak memihak dan memberikan suara pada calon manapun, mungkin lebih baik. Mereka tidak memilih namun tetap aktif menyuarakan aspirasi. Demikian idealnya. Kita semua menyumbang suara, dalam bentuk dukungan bagi calon, atau kalau tidak, suara aspirasi. Diam kadang berarti emas, namun diam yang kosong tidak berarti apa-apa bukan?

 

Yang Polos (Tidak) Bodoh

Golongan apatis sampai kapanpun tetap memiliki hak untuk tidak memilih, begitu pula dengan yang mengaku netral. Prinsipnya, jangan sampai apatisme lahir tanpa dasar, walaupun alangkah lebih baik jika ide-ide diutarakan. Demikian halnya bagi pemilih. Jangan sampai pilihan jatuh karena persepsi sekilas dari baliho dan rentengan. Eksplorasi yang dalam tentu diperlukan, kalau kesadaran berpolitik itu memang ada.

Kesadaran berpolitik pada dasarnya penting karena setiap orang membutuhkan trik-trik politis untuk eksis di kehidupan sosialnya. Kesadaran ini bisa meliputi kemampuan berdiplomasi dan menjual diri. Namun, kesadaran berpolitik juga tetap harus dalam porsi yang sesuai. Jangan sampai berlebihan sehingga justru disetir oleh tumpangan kepentingan dan niat-niat yang tidak tulus. Sudah jelas pesannya dari awal: “Yang berani terjun ke politik, siap-siap kotor.”

Berpolitik mirip dengan bermain bola di tengah hujan. Kalau mau dapat bola, ya harus berlari dan basah. Kalau mau menang, ya harus siap dengan kemungkinan cuaca terburuk.

(Mutia Prawitasari)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s