INTERUPSI: Mencatat Singkat Janji Kandidat

Tahun 2011 sudah mendekati akhir. Begitupun BEM FE UI 2011, sudah dekat dengan masa regenerasinya. Ijul yang terkenal keras dan vokal pun harus digantikan oleh cikal bakal ketua baru. Tentu saja calon ketua harus membawa, merevisi, atau memodifikasi nilai dan misi lama menjadi baru dan (kelihatan) segar.

Pemira FE UI 2011 tinggal beberapa hari lagi, tidak salah apabila dilakukan evaluasi terhadap BEM FE UI 2011 dan meninjau seberapa siap kandidat yang maju. Mahasiswa FE UI, yang acuh maupun tidak terhadap perpolitikan kampus, seharusnya tahu apa yang akan diusung oleh para kandidat. Jangan sampai kandidat dipilih menggunakan indikator yang tidak relevan dengan peningkatan kualitas BEM.

Berlaga dalam ajang pemilihan “pesta abu-abu”  tentu tidak hanya dengan memasang  foto ataupun slogan dalam baliho. Jelas harus ada pemikiran yang terwujud dalam konsep ketika terpilih sebagai pemenang laga. Apalagi jika laga yang dimaksud adalah pemilihan pimpinan lembaga eksekutif tingkat fakultas: BEM FE UI 2012. Dua pasang kandidat yang maju, Hamau-Ripa dan Thanthowy-Denis, tentu sudah siap dengan konsep kerja BEM jika nanti memang terpilih. Bak judul lagu “Mau Dibawa Kemana?” adalah pertanyaan besar yang akan dijawab dengan  rencana kinerja yang sudah masing-masing kandidat miliki.

Menilik pada visi, kedua kandidat memiliki kemiripan. Masing-masing kata kunci kedua kandidat yaitu sinergis dan harmonis, jelas hampir semakna. Kandidat Hamau-Ripa dengan sinergisasi, sedangkan kandidat Thanthowy-Denis dengan harmonisasi. Pemikiran senada ini tentu tidak menimbulkan decak heran. Pasalnya, tak pelak “perilaku” BEM yang lalu belum menunjukkan adanya keharmonisan ataupun kesinergisan, atau, memang hanya itu yang bisa ‘dijual’?

Para pemangku jabatan di BEM saat ini menyadari bahwa ada ketidaksinergisan dalam gerakan mahasiswa terkait isu #SaveUI. Ketidakharmonisan BEM juga ditandai dengan banyaknya program kerja yang beririsan dengan badan-badan mahasiswa di tingkat FE. Hal ini hendaknya menjadi bahan evaluasi bagi kandidat calon BEM berikutnya.

Hamau, yang memiliki nama panjang Ilham Maulana, merasa bahwa BEM 2011 telah menjalankan perannya dengan baik di paruh pertama periode 2011. Akan tetapi, pada paruh akhir, BEM mengalami sedikit kemunduran. Selain itu, belakangan juga BEM mengalami konflik dengan BO/BSO yang membuktikan bahwa sinergi yang ingin dilakukan oleh BEM 2011 dinilai belum berhasil. Menurut Hamau, Ijul sebagai ketua terlalu mengutamakan momentum sehingga dalam sosialisasi atas tindakannya menjadi kurang.

Berbeda dengan Hamau, Thanthowy menilai BEM FE UI secara lebih positif. Dalam isu #SaveUI, ia menilai BEM FE UI telah mampu ‘menunjukkan’ dirinya sebagai BEM yang proaktif. Thanthowy juga berpendapat internal BEM telah menjalin komunikasi dan kerjasama dengan baik, terutama antara Ijul-Ijal. “Mereka saling melengkapi, Ijul aktif dalam sosial politik, sedangkan Ijal aktif dalam seni dan budaya,” demikian tutur Thanthowy di sela-sela aktivitas kampanyenya.

Terkait dengan prestasi BEM 2011, Hamau dan Thanthowy sepakat dengan raihan yang lebih baik oleh BEM 2011. Terlihat dengan raihan emas dalam OIM UI, semakin bertambahnya komunitas olahraga, dan diinisiasinya UI’s Studentpreneurs sebagai wadah bagi mahasiswa FE UI. Akan tetapi, raihan yang dicapai BEM FE UI ternyata juga diiringi oleh beberapa benturan yang terjadi antara BEM dengan pihak eksternal yang menurut beberapa pihak sangat disayangkan.

Janji Manis Kandidat

Jika kedua kandidat menganggap BEM masih butuh pembenahan, tentu mereka juga telah siap dengan perubahan yang akan dilakukan nanti saat terpilih menjadi ketua BEM 2012. Misalnya saja,  kandidat Thanthowy-Denis akan membawa rencana kerja Program Pencegahan Drop Out yang terintegrasi. Pasti, implementasi program Pencegahan Drop Out yang terintegrasi ini terlebih dahulu membutuhkan BEM yang juga terintegrasi: harmonis dan sinergis ke dalam dan ke luar karena akan membutuhkan koordinasi dari Biro Pendidikan, konselor fakultas, departemen, BSO Keilmuan, BPM, dan juga

panitia OPK. Tanpa bergerak sinergis dan harmonis, program kerja baru itu bisa jadi macan kertas yang menjadi pemanis riuh kampanye saja.

Ia juga ingin mengemas perpolitikan kampus menjadi sebuah wadah yang menarik bagi mahasiswa, seperti protes melalui karikatur atau media yang menarik lainnya. Maksudnya baik, untuk meningkatkan kesadaran politik mahasiswa FE. Hal ini berbeda dengan pendekatan politik Ijul yang lebih frontal. Meskipun begitu, akan selalu ada komparasi antara pemimpin saat ini dengan pemimpin sebelumnya. Hal inilah ditakutkan oleh Thanthowy. Apakah Thanthowy yang sekiranya bisa menjadi ketua bisa lebih baik daripada Ijul? Thanthowy sendiri yang akan menjawab apabila ia terpilih nanti.

Untuk internal BEM sendiri, Thanthowy ingin menawarkan program “upgrade kompetensi” bagi anggotanya. Jadi, bagi yang berniat menjadi anggota BEM 2012, silakan buktikan janji Thanthowy ini tahun depan.

Hamau juga menawarkan perubahan di tubuh BEM. Mereka  menjelaskan bahwa jika nanti memimpin BEM FE, mereka akan mengurangi dan “melempar” beberapa proker. Sebut nama, proker UI Booklet dan KMEI. UI Booklet akan ditiadakan sedangkan KMEI akan diberikan kepada universitas lain. Terkait proker, kandidat Hamau-Ripa tidak melakukan penambahan. Dari pilihan Hamau untuk mengurangi proker BEM, kita dapat menarik tanda tanya skeptis “Apakah BEM ingin meningkatkan efektifitas program kerja, atau justru BEM takut ‘banyak program kerja=banyak masalah’?”

Selain itu, Hamau juga berencana untuk mengintensifkan sinergisitas antara BEM dengan BO/BSO. Misalnya, di dalam grand design Hamau terdapat contoh sinergisitas seperti kejasama BEM dengan MSS dalam membangun enterpreneur muda Indonesia. Pernyataan “sinergi” ini juga sudah ada tahun lalu dan buktinya sebagian orang menyayangkan janji manis itu. Hamau mengemban janji “sinergi” turun-temurun dan sebuah sinergi memang akan sulit dicapai apabila tidak ada konsistensi dalam penerapannya.

Saat diwawancara tim Interupsi, Hamau merasa kinerja BEM sekarang menurun akibat sibuknya Ijul dengan aktivitas non-BEM. Untuk itu, Hamau dan Ripa berjanji untuk tidak mengajukan lamaran asisten dosen, tidak akan mengikuti program exchange, dan kegiatan yang akan menghilangkan fokus mereka di BEM jika mereka terpilih nanti. Siapapun mahasiswa FE UI yang mengetahui hal ini harus menagih janji itu apabila Hamau dan Ripa terpilih menjadi ketua BEM 2012. Mereka harus mempertanggungjawabkan setiap ucapan yang terlontar.

Tetaplah Kritis

Tidak salah apabila Thanthowy-Denis ataupun Hamau-Ripa menabur janji sebanyak-banyaknya. Janji mereka adalah warna kampanye Pemira FE UI. Sayangnya tidak banyak yang tahu apa saja yang telah mereka lakukan saat menjabat di BEM periode sebelumnya, apa saja prestasi yang mereka lakukan.  Padahal menurut wawancara tim Interupsi dengan beberapa pihak, faktor track record sangat berpengaruh bagi pandangan publik terhadap kandidat. Namun, kini yang diberikan pada mereka hanyalah opini-opini dari orang dengan follower twitter yang banyak; yang belum tentu memang mengenal mereka dengan dekat. Cukupkah?

Tanpa janji-janji kampanye, memang kita tidak bisa menetapkan standar keberhasilan ketua BEM 2012 nantinya. Salut untuk mereka. Terlepas dari nanti akan ada yang kalah dan akan ada yang menang, mereka punya niat yang baik untuk merubah BEM FE UI untuk menjadi lebih baik. Hal demikian perlu kita utarakan karena menjadi ketua BEM bukanlah urusan mudah. Untuk mendapatkan itu, mereka butuh kepercayaan, butuh suara, butuh waktu, dan memang butuh janji. Sedangkan kita, mahasiswa FE UI butuh bukti, butuh disuarakan, butuh orang yang mampu memegang amanat.

Memandang salut kepada calon ketua dan calon wakil ketua BEM FE UI 2012 bukan berarti kita tidak butuh analisis kritis terhadap para kandidat. Mereka harus diuji oleh mahasiswa FE yang akan memilih salah satu diantaranya. Kita mesti paham seberapa berkualitas kandidat yang maju. Jangan sampai mereka yang terpilih adalah orang yang hanya cerdas berkampanye, tapi blo’on dalam mengurus BEM.

Banyak janji yang sudah dijabarkan oleh Thanthowy dan Hamau. Tugas kita adalah sebagai saksi, apakah mereka yang terpilih nanti hanya mengumbar janji? Apabila terbukti demikian, masyarakat FE UI dipersilakan memberi label “pembual” kepada mereka.

“Pilihlah yang benar-benar pantas!”

(Edo Yuliandra dan Riyan Hidayat)
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s