Irreversibility

Semua orang ingin sejahtera. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dibutuhkan aktivitas perekonomian yang menggeliat dengan lincahnya menuju arah yang yang lebih produktif dan terus berkembang. Aktivitas perekonomian dapat berjalan dengan lancar apabila necessary condition telah dicukupi, yaitu adanya capital, baik berupa physical maupun human capital. Capitals tersebut dapat dibentuk dan akan ada, apabila terdapat infrastruktur yang mendukung. Infrastruktur yang dibutuhkan tersebut berkaitan dengan pembangunan fisik yang ada dan secara alamiahnya merupakan trade off yang dipilih terhadap environment preservation. Jikalau bukan karena lahan hijau yang kian sempit, maka keburukan lain yang akan muncul adalah udara yang semakin kotor karena terkena polusi, air sungai yang tercemar, dan berbagai persoalan environmental degradation lainnya.

Manusia merupakan makhluk yang kompleks dengan berbagai macam kebutuhannya yang tidak sedikit. Mereka seharusnya bersinergi dengan alam di samping hanya mendengarkan dan mematuhi kebutuhan dan keinginan duniawi yang kasat mata, karena alamlah yang menyediakan berbagai macam kebutuhan manusia tersebut. Hal itu bukan berarti lingkungan memiliki daya dukung yang tidak terbatas.

Pembangunan gedung-gedung dan berbagai fasilitas yang diharapkan mampu meningkatkan kapabilitas suatu daerah dan manusia-manusia di dalamnya seharusnya juga memperhatikan fenomena ekologi di sekitarnya. Terdapat teori yang menunjang argumen tersebut.

Sumber Daya Alam yang Irreversible

(Sumber: Widyono Soetjipto, FEUI)

 Irreversible adalah kondisi di mana sumber-sumber alam yang telah diubah menjadi suatu komoditas siap jual/ barang produksi, tidak akan bisa diubah kembali ke bentuk asalnya (sumber daya alam). Komoditas yang dimaksud tidak saja hanya berupa final goods yang akan dikonsumsi secara langsung, melainkan dapat juga berupa gedung-gedung yang dibangun. Once the land is developed, it is almost impossible to restore it to the initial condition. Teori tersebut juga menggambarkan mengenai salah satu tantangan yang dihadapi oleh Indonesia dalam pengelolaan areal lahan hijau dalam upaya memaksimalkan potensi lahan yang ada.

Fenomena tersebut dapat direfleksikan dari kurva di atas, di mana ketika terjadi kenaikan barang yang diproduksi dari G1 menuju G2, maka Amenity pun akan turun dari A1 ke A2. Terjadi perubahan Production Possibility Frontier dan Indifferent Curve. Ketika kita mengubah hutan-hutan menjadi lahan areal komersil dengan pembangunan gedung-gedung, real estate, dan sebagainya, maka kita tidak bisa mengembalikannya lagi ke dalam bentuk hutan yang natural seperti sedia kala, sunk cost. Kemampuan alam untuk memberikan utilitas bagi manusia pun berkurang sejalan dengan penggerusan sumber-sumber daya lahan yang digunakan untuk pembangunan.       Utilitas yang dimaksud adalah kepuasan akan hal-hal yang secara natural dihasilkan oleh lahan hijau seperti udara bersih dan keindahan alam, bukan dalam perihal land rate.

Yang kita inginkan adalah agar meminimalisir sekecil mungkin biaya sosial dan biaya lingkungan yang kemungkinan akan muncul. Paling tidak apabila proyek penggerusan areal hijau terbuka ini direalisasikan, maka benefit yang didapat akan melebihi cost yang dikeluarkan. Pada titik ini diperlukanlah evaluasi analisis biaya dan banfaat (cost and benefit) sehingga dapat diketahui apakah nantinya proyek tersebut nantinya akan memiliki keuntungan yang lebih besar daripada biayanya atau tidak.  Perbandingan di antara kategori manfaat dan biaya pun dapat jadi memungkinkan. Setelah itu dapat dilakukan perhitungan nilai peubah indikator pembanding seperti Net Present Value.

Ketika menentukan apakah akan melakukan pembangunan atas lahan hijau, maka menganalisis NPV dari pemanfaatan lahan dan preservasi serta membandingkannya menjadi salah satu langkah penting. Preservation vs. development/ extraction. Pembangunan dapat dilakukan apabila NPVdevelopment/extraction > NPVpreservation . Perhitungan NPV ini adalah dengan turut memperhitungkan biaya lingkungan yang terjadi.

Perusahaan harus memasukkan biaya sosial dan biaya lingkungan kedalam analisis finansialnya. Analisis finansial yang akan dilakukan memiliki tujuan untuk menilai apakah suatu kegiatan tertentu dilaksanakan adalah layak secara financial dan dapat memberikan keuntungan finansial bagi perusahaan. Dalam mengambil keputusan berdasarkan penilaian kelayakannya, harus memperhitungkan semua biaya dan manfaat yang relevan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan tersebut.

(Al Khansa Shalihah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s