Vice Versa

Aku Medusa dan dia Rasputin.

Maka aku tidak bisa membunuhnya, karena ia tidak bisa mati.

Bukan, bukan karena aku ingin membunuhnya. Tapi orang bilang cinta dan benci begitu tipis. Maka, mungkin bisa saja aku ingin membunuhnya, tapi tidak bisa.

Ada kalanya malam-malam ketika dia bermain dengan ular-ular di kepalaku, menari seolah ular itu jinak. Namun, ada kalanya malam-malam ketika dia datang dengan belati di tangan, menantang aku terang-terangan.

Tapi tetap saja, aku Medusa, dan dia Rasputin. Maka aku tidak bisa membunuhnya, karena ia tidak bisa mati.

Kami juga sering memisalkan diri, berimajinasi dan tertawa dalam sepi. Dia bilang kami Bonnie dan Clyde. Aku bilang kami Jack dan Sally. Dia punya segudang argumen, aku punya sejuta alasan. Dan semuanya berujung pada derai tawa yang mendamba, dan menentramkan.

Tapi rasanya itu semua sudah lewat, karena kesabaran aku sudah sekarat. Dan cinta aku mungkin sudah berkarat. Benci kini mengudara, nafsu membunuh membara.

Karena apa? Tidak tahu. Mengapa? Entah. Bagaimana? Apa?

Maka, setiap hari aku racuni tehnya. Aku selipkan pisau di pinggang, curi-curi kesempatan untuk menikamnya. Dan karena cinta masih membelenggu, variasi membunuh aku jadi buntu. Tapi rasa ingin menghabisi begitu menguasai, meracuni ubun-ubun, menghantui kalbu.

Ih, bikin bingung.

Lalu malam datang, malam yang selalu menjadi milik kami. Dan kali ini memberani keberanian. Untuk menuangkan sianida ke dalam anggurnya. Untuk menembakinya dengan selongsong peluru. Untuk memburunya hingga ke laut yang dingin, dan mengikatnya untuk menenggelamkannya.

Aku kira, dia mati.

Tapi ia menggapai langit malam, seolah ingin menjamah bintang. Lalu beringsut mendekat, mendekat, mendekat. Membuat aku tercekat. Kemudian ia berdiri dan menatap aku lambat-lambat sambil berbisik,

“Aku Rasputin, dan kamu Medusa. Maka kamu akan membunuh aku, karena aku pasti mati.”

Lalu ia rubuh, jatuh. Aku terhenyak, dan dia tidak bergerak. Aku melolong, karena raganya sudah kosong.

Aku Medusa, dan dia Rasputin. Maka aku akan membunuhnya, walau dia tidak bisa mati.

(Sabrina Nurul Afiyani)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s