Investment Grade BBB- dan Percepatan Perkembangan Perekonomian Indonesia

Sejarah baru telah terukir. Setelah krisis 1997-1998, Indonesia naik peringkat. Namun, kabar gembira itu, yang membuat riuh acara makan siang di kafe-kafe di Jakarta, tak diketahui sama sekali oleh para penggali pasir di Bengawan Solo sana.

Banyak informasi baru yang tidak terdistribusi dengan baik di Indonesia. Naiknya investment grade Indonesia, belum tercerna dengan baik oleh banyak kalangan. Bahkan, ada yang tidak tahu-sama sekali. Pernah mendengar, tapi tidak peduli. Apakah realitas media dengan realitas masyarakat tidak sama, seperti dalam kasus politik dan cuap-cuap pengamat di televisi?

Teman saya di Sumatera mengaku tidak membaca “selimut” Harian Kompas  (28/12), padahal pagi itu di Depok kami sudah menyantapnya, mendiskusikannya dan kemudian melupakannya. Inilah untuk pertama kali ada iklan semacam itu, dalam dunia periklanan di Indonesia. Juga dalam dunia perekonomian di negeri ini. Kalau iklan produk memang sudah sering, tapi iklan ini BUMN yang punya rupanya. Kalimatnya genit, jangan-jangan ide kreatif ini muncul setelah Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan meminta agar BUMN lebih renyah.

“Indonesia Mengecewakan”

Kalimat dalam iklan itu sangat menggoda.

Tergelitik Kita

Beberapa waktu lalu (15/12) Fitch Rating, salah satu lembaga pemeringkat utang terkemuka di dunia, mengumumkan bahwa Indonesia sudah “naik kelas” dari non-investment grade BB+ dengan outlook positif, ke BBB- dengan outlook stabil. Tentunya hal ini akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Peringkat BBB- yang naik itu dapat diterjemahkan bahwa negara ini semakin baik untuk dijadikan lahan investasi. Para pemodal baik dari dalam maupun luar negeri tidak perlu terlalu khawatir lagi akan gagal kredit.

Pengertian dari investment grade itu sendiri adalah kategori bahwa suatu negara atau perusahaan dianggap memiliki kemampuan yang cukup untuk membayar utangnya. Investor cenderung memilih negara atau perusahaan dengan rating investment grade karena dapat berinventasi dengan aman.

Perekonomian Indonesia yang semakin terpacu oleh hal itu tentu akan menyentuh berbagai ranah ekonomi, khususnya sektor riil. Perusahaan-perusahaan manufaktur akan meningkatkan produksinya. Untuk meningkatkan jumlah produksi, maka diperlukan tambahan tenaga kerja dan juga peningkatan penggunaan teknologi. Dalam jangka panjang, Indonesia akan semakin merajai perekonomian dunia. Tidak hanya di perekonomian, namun juga di dunia sosial, dalam hal ini sumber daya manusia serta teknologi.

Dari sektor mikro, roda-roda kecil pembangun perekonomian seperti UMKM harusnya mampu pula mengambil kesempatan dari kabar baik ini. Para pemilik UMKM bisa mendapat modal dan pinjaman dari berbagai pihak dengan lebih mudah dengan tingkat suku bunga yang lebih bersahabat. UMKM sendiri adalah penyumbang terbesar terhadap GDP sekitar 50%-51%. Bahkan itu sebelum Indonesia mendapat rating BBB-.

Bank dan para pemilik modal juga tidak akan terlalu khawatir terhadap investasi yang mereka tanamkan. Dengan pengelolaan pinjaman yang baik dan lebih jelas dalam urusan regulasi dan birokrasi, pemilik modal dan bank hendaknya merasa lebih aman dengan dana yang mereka salurkan, khususnya terhadap UMKM. Dalam hal ini, UMKM juga akan semakin terpacu untuk mempercepat pertumbuhan usaha mereka.

Akumulasi dari itu semua tentu akan berdampak terhadap ekonomi secara makro. Meningkatnya investasi, yang merupakan salah satu penyusun PDB, tentu akan meningkatkan PDB. Peningkatan investasi berarti pula peningkatan akumulasi produksi. Untuk meningkatkan produksi dibutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak sehingga dampaknya pengangguran menurun dan pendapatan masyarakat meningkat. Melalui peningkatan pendapatan, kemampuan masyarakat untuk melakukan pengeluaran pun meningkat dan semakin banyaklah barang serta jasa yang dibeli. Secara keseluruhan, dampak yang diharapkan adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Tidak hanya UMKM, masyarakat luas sebagai pelaku ekonomi harus bisa mengambil langkah awal yang baik seiring semakin terpercayanya negara ini untuk menjadi lahan investasi. Maskapai penerbangan Indonesia, baik swasta maupun milik pemerintah, bisa dipacu untuk menjadi maspakai yang baik dan layak bersaing di level internasional. Produksi pakaian, tas, sepatu, celana, dan sektor tekstil lainnya harus bisa mengalahkan persaingan dengan Cina dan India. Pertambangan, pertanian, dan kehutanan, tentunya juga harus ikut menyambut baik rating BBB- ini dengan pemanfaatan modal yang lebih jelas. Para pedagang kaki lima dan pedagang asongan pun hendaknya bisa segera mungkin untuk gulung tikar dan berganti lahan bisnis dengan membuka warung atau retailer.

Siapkah Kita?

Tentunya, pemerintah juga harus mengambil langkah tepat dan sesegera mungkin atas rating investment grade BBB- ini, misalnya dimulai dengan ketersediaan infrastruktur yang memadai. Dengan makin banyaknya aliran modal asing langsung yang akan masuk (diperkirakan 81 triliun rupiah menurut Gita Wirjawan, Menteri Perdagangan RI), maka intensitas pergerakan ekonomi akan lebih cepat. Setiap sektor perekonomian akan mengambil langkah masing-masing. Pada akhirnya kesejahteraan ekonomi akan terus meningkat dan hal tersebut takkan bisa tercapai tanpa perkembangan dan ketersediaan infrastruktur.

Regulasi dan birokrasi juga harus dikondisikan sebaik, seramping, dan seefektif mungkin agar tidak bertele-tele dan tidak menghabiskan waktu serta biaya yang terlalu besar. Praktik KKN pada ranah regulasi dan birokrasi ini harus dapat diberantas melalui pelaksanaan hukum yang baik dan benar. Selain dua hal itu, sumber daya manusia Indonesia juga harus makin meningkat kapabilitasnya. Meningkatkan kualitas pendidikan merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan.

Indonesia, dalam bidang perekonomian bukan tidak mungkin akan terus menerus berjaya. Kita berhasil selamat dari dua krisis global sebelumnya. Namun, siapkah kita dengan berbagai faktor yang akan terus menghambat kejayaan itu seperti keadaan politik bangsa yang terus naik turun, keberadaan media yang sering dinilai ‘timpang sebelah’ serta penyakit yang tidak pernah sembuh dari bangsa ini: korupsi. Jawabannya ada di antara hati dan pikiran kita masing-masing.

(Jombang Santani Khairen)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s