Olahraga: Tidak Mahal, Tidak Susah

Pernahkah anda melakukan lari pagi di sekitar area UI? Atau justru, mungkin anda lebih memilih untuk menghabiskan waktu lebih lama di tempat tidur setiap pagi? Banyak masyarakat yang berpikir bahwa olahraga merupakan sesuatu yang mahal serta membutuhkan waktu dan perhatian khusus dalam melakukannya? Benarkah?

Men Sana In Corporesano, di dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Ungkapan latin yang mendunia ini memang tidak salah. Olahraga memiliki manfaat umum yaitu melancarkan metabolisme tubuh sehingga distribusi dan penyerapan nutrisi dalam tubuh menjadi lebih efektif dan efisien. Selain itu, olahraga bisa meningkatkan jumlah oksigen dalam darah dan mempercepat aliran darah menuju otak. Para ahli percaya bahwa hal-hal ini dapat mendorong reaksi fisik dan mental yang lebih baik.

Pola Pikir yang Salah

Pola pikir bahwa olahraga rutin hanya dilakukan oleh para atlet atau alasan bahwa untuk melakukan olahraga rutin akan membutuhkan biaya yang besar merupakan pola pikir yang keliru. Tim Economica Papers dan Divisi Penelitian BO Economica melakukan penelitian dengan membagikan kuesioner seputar olahraga di area Gelora Bung Karno dan Universitas Indonesia kepada 82 orang responden dengan metode convenience sampling. Sebanyak 38% responden hanya mengeluarkan kurang dari Rp50.000,00 per bulan untuk kegiatan olahraganya. Terlebih lagi, sejumlah 32% responden menyatakan bahwa mereka tidak mengeluarkan biaya apapun.

Ya, sebenarnya memang tidak perlu mengeluarkan uang untuk rutin berolahraga. Tengok saja kampus kita, Universitas Indonesia, sebetulnya telah menyediakan fasilitas olahraga gratis berupa sepeda kuning berikut track-nya, di mana track tersebut juga dapat digunakan untuk berjalan kaki. Belum lagi fasilitas-fasilitas lain seperti lapangan olahraga yang terdapat di beberapa fakultas dan Stadion UI. Namun, tampaknya bagi sebagian besar mahasiswa, bus kuning masih merupakan pilihan utama sebagai alat transportasi di dalam UI. Dengan suguhan berupa kursi empuk, alunan lagu, dan AC yang sejuk, bus kuning telah menarik hati banyak penumpang setianya.

Yang lebih menarik lagi ialah bahwa dari hasil penelitian, sebanyak 70% responden mengatakan bahwa alasan tidak melakukan olahraga rutin adalah kesibukan, di mana sejumlah 76% dari responden merupakan pelajar dan mahasiswa.

Jadi, mari kita telaah lagi pola pikir yang telah tertanam. Jika alasan tidak melakukan olahraga adalah kesibukan dan rute yang dilalui cukup dekat untuk ditempuh dengan jalan kaki atau bersepeda, apakah kita masih memilih transportasi yang hanya memberikan kenyamanan (namun tidak memberikan solusi terhadap tidak adanya waktu olahraga) ataukah transportasi yang dapat “mengakali” kesibukan kita untuk berolahraga sekaligus sampai ke tempat tujuan?

Menurut Ganda Upaya, Guru Besar Sosiologi UI, bagaimana keadaan masyarakat dari suatu lingkup sosial akan tercermin dari aktivitas berolahraganya. Begitupun sebaliknya, bagaimana cara suatu masyarakat berolahraga akan tercermin lewat kehidupan di masyarakat. Olahraga yang disukai oleh sebagian besar masyarakat di suatu wilayah tertentu ini dikenal sebagai olahraga populer. Dengan demikian, saat budaya fairness, kerjasama, dan toleransi digalakkan dalam kegiatan berolahraga, akan terlihat bahwa masyarakatnya adalah masyarakat yang mampu membangun nilai sosial yang baik.

Keberadaan olahraga populer memang suatu hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Apalagi dengan semakin tingginya tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan, olahraga menjadi pilihan. Terlihat dengan mulai maraknya komunitas-komunitas yang dibentuk atas dasar ketertarikan pada suatu olahraga. Katakanlah, komunitas futsal, bersepeda, atau komunitas maraton yang menjadi komunitas aktif di wilayah perkotaan.

Komunitas Sepeda Kaskus

Terkait dengan maraknya komunitas-komunitas olahraga yang ada sekaligus dengan boomingnya olahraga sepeda belakangan ini, Tim Economica Papers menemui sebuah komunitas sepeda KOSKAS Depok (Komunitas Sepeda Kaskus Depok). Dari namanya saja sudah dapat ditebak bahwa komunitas ini adalah ajang berkumpul bagi mereka yang memiliki hobi bersepeda.

Pada awalnya, komunitas ini terbentuk secara virtual di dunia maya melalui perbincangan di Kaskus. Setelah perbincangan antar sesama anggota Kaskus penghobi olahraga bersepada maka munculah ide untuk membentuk suatu komunitas bersepeda yang pada akhirnya resmi dibentuk pada Januari 2011. Menurut Dika, salah satu anggota KOSKAS Depok, aktivitas bersepeda rutin dilaksanakan setiap minggu pada hari rabu, dimulai dengan acara berkumpul di suatu tempat. Biasanya, aktivitas bersepeda ini dilakukan pada malam hari karena lalu lalang lebih sepi. Komunitas ini tidak hanya “menjelajah” Depok dan sekitarnya, bahkan pernah bersepeda hingga Bogor.

Kebersamaan memang erat di antara anggota komunitas ini. Seperti yang dituturkan oleh Machadi, salah satu anggota Koskas depok, rasa keakraban sangat kental dirasakan di dalam komunitas ini. Selain sebagai sarana untuk meyalurkan kegemarannya bersepeda, komunitas semacam ini juga memfasilitasinya untuk bersosialisasi dengan banyak orang dari berbagai kalangan karena pada dasarnya tidak ada persyaratan khusus untuk masuk ke dalam komunitas ini.

Kurangnya Fasilitas Olahraga Umum yang Memadai

Ganda Upaya menyebutkan beberapa faktor yang menyebabkan kegiatan olahraga sulit berkembang, di antaranya ialah krisis fasilitas. Hal ini sungguh disayangkan karena animo masyarakat untuk berolahraga yang tinggi tidak didukung dengan fasilitas yang memadai. Sejalan dengan hal tersebut, Ganda pun mengusulkan untuk melakukan perbaikan fasilitas olahraga. “Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang menyenangi olahraga. Selain itu, perlu adanya scouting. Olahraga populer bisa dimanfaatkan dalam mencari bakat-bakat yang bisa mengharumkan nama Indonesia. Terakhir, perlu diadakan kompetisi secara rutin agar ketertarikan masyarakat Indonesia untuk berolahraga semakin bertambah.” tuturnya.

Usulan untuk membangun fasilitas-fasilitas olahraga umum, scouting, dan kompetisi rutin merupakan usulan realistis sekaligus optimistis. Karena siapa sangka jika beberapa tahun mendatang justru muncul bibit-bibit atlet yang berkualitas dari masyarakat atau komunitas olahraga.

(Afin Afini, Edo Yuliandra, dan Desi Sri Wahyu Utami)

*tulisan dimuat dalam rubrik Dialektika pada Economica Papers 54
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s