Kami (Tidak) Sama!

Bukan orang laki-laki yang kami lawan, melainkan pendapat kolot turun temurun, adat yang tidak terpakai lagi bagi tanah Jawa kami di masa depan.

Surat Kartini kepada Ny. MCE Ovink-Soer, 1900 –

Itulah penggalan mimpi dari seorang perempuan yang ingin meronta keluar dari kungkungan adat istiadat kolot yang membelenggu hak-hak perempuan untuk berpendapat, atau bahkan, berpikir, pada saat itu. Kini, penggalan mimpi tersebut sering dikenal dengan istilah emansipasi. Istilah yang masih kerap digaung-gaungkan atau diagung-agungkan oleh para perempuan zaman sekarang, karena katanya, tujuan Kartini belum tercapai. Benarkah, Bu?

Dalam sebuah gerbong kereta yang tengah melaju kencang menuju Jakarta, saya tertegun. Saya bagai terperangkap di kerumunan perempuan yang tengah asik melakukan kegiatannya masing-masing. Mengobrol dengan teman yang duduk di sebelahnya, memainkan gadget-­nya masing-masing, mengoleskan pewarna bibir sambil sekilas melihat ke cermin, atau bahkan tertidur dengan lelapnya di bangku kereta. Di ujung gerbong, ada seorang satpam berseragam lengkap yang bertugas menjaga gerbong ini. Dan ia juga seorang perempuan.

Lama saya memandang perempuan tersebut. Ia berdiri dengan tegaknya di ujung gerbong, siap mengusir para lelaki, yang dengan sengaja maupun tidak sengaja, berada dalam gerbong ini. Ia juga tak ragu untuk menegur para penumpang yang tidak membawa karcis yang benar. Hebat, pikir saya. Zaman memang telah banyak berubah. Saat ini telah banyak perempuan yang telah menduduki pekerjaan yang dulu hanya lazim dijalankan oleh para lelaki.

Inikah yang Anda inginkan, wahai Ibu Kartini?

Namun, pandangan saya kembali menjelajah sekitar. Kami, para perempuan duduk dalam sebuah gerbong yang memang dikhususkan untuk para perempuan. Sebuah gerbong spesial, untuk kami, yang katanya menuntut hak untuk disamakan.

Inilah kami, kaum yang menuntut persamaan hak, tapi kini justru mendapat gerbong khusus di kereta dan tempat khusus di bus Trans Jakarta.

Inilah kami, kaum yang katanya menuntut emansipasi, tapi tetap merutuk dalam hati ketika tak ada lelaki yang merelakan tempat duduknya dalam sesaknya kendaraan umum.

Inilah kami, kaum yang menuntut untuk disetarakan, tapi tetap mengagung-agungkan frase ‘ladies first.’

Saya pun tertawa dalam hati. Kontradiksi yang sangat lucu memang yang kini sering digembar-gemborkan. Emansipasi telah berkembang jauh dari yang dulu pernah Kartini impikan. Suatu hal yang absurd bagi saya ketika perempuan menuntut kuota di kursi dewan agar disetarakan dengan lelaki namun juga menuntut sebuah kursi khusus di bangku kereta dan bus Trans Jakarta untuk dibedakan dari para lelaki?

Perempuan yang hidup di zaman sekarang bukan lagi perempuan yang hidup di zaman Kartini, yang ditekan haknya dalam memperoleh pendidikan, ditekan haknya ketika ingin berhubungan dengan dunia luar, ditekan haknya ketika ingin membagi pemikirannya kepada para lelaki. Emansipasi kini bukanlah dengan menuntut bahwa perempuan harus disamakan dengan laki-laki. Emansipasi kini adalah dengan menunjukkan bahwa kami, para perempuan, bisa menunjukkan kemampuan dan kapabilitas yang sama dengan para lelaki ketika kami telah diberikan akses pendidikan yang setara dengan para lelaki.

Sama, bukan karena kami harus sama, tapi karena kami memang sama.

Namun, sebagai perempuan saya juga menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak bisa disamakan. Tuhan menciptakan lelaki dan perempuan berbeda juga karena memang kami memiliki kodrat yang berbeda, walaupun sama pentingnya. Jadi, apa lagi yang perlu dituntut? Secara pribadi, saya bangga menjadi seorang perempuan, yang kelak akan melahirkan bayi-bayi generasi penerus bangsa yang hebat. Saya bangga karena kami perempuan Indonesia kini telah mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan negeri ini, walaupun dengan cara kami sendiri.

Hidup perempuan Indonesia!

(Desti Maharani)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s