Celoteh Malamku

Ketika sendiri, ketika jauh dari hiruk pikuk perkuliahan yang terkadang masih terasa asing, agak gatal kalo tidak ada yang menangkring di pikiranku. Mungkin khayalan ataupun renungan bahkan diskusi internal antara otak dan hati boleh saja, tapi yang jelas dorongan kuat akan itu begitu luar biasa. Takut kesepian? Bisa jadi. Aku terlalu takut akan sepi hingga pikiran mengasihani dan terbujuk bersuara untuk menemani. Namun justru dalam keramaian mereka semua tersipu malu untuk unjuk gigi kalau tidak dipancing. “Pantaskah aku bicara soal nilai-nilai dikala aku sendiri belum dewasa soal itu?”, resahku berlaga seperti jaksa penuntut. ” Hey bung, ini hanya sekedar opini. Tidak usah terlalu tradisionalis, bukankah parameter makna kebenaran itu tidak ada? apa jadinya sebuah fakta tanpa opini? “, pembelaanku memaksa.

Udara di tengah malam ini begitu dingin, pintu sudah tertutup rapat padahal, tapi memang lihai sungguh angin-angin ini mencari celah. Badan bergoyang memaksa bersetubuh dengan kopi hitam walau perut meronta. “Ahh.. perut ini juga bagian dari badan, jadi cukup menurut sajalah”, pikirku konservatif. Adukan kopiku begitu cepat, namun mata masih saja bandel melirik sekitar hingga stiker band klasik ternama itu terekam. Ya, entah mengapa aku jadi ingat kembali pada seorang teman unikku. Baru saja tadi sore kami terlibat obrolan panjang, hujan dikala itu bersekongkol dengan waktu mengerjai kami. Tapi perbincangan secara personal selalu saja membekasiku dengan sudut pandang.

Kami obrolkan soal bisnis di garis start, merembet ke tujuan hidup, menyodok soal organisasi kampus bahkan negara ini juga tidak mau ketinggalan. Oh iya, maaf kalau aku malas mengubah apa yang kutulis, tapi aku baru ingat bahwa sekularisme pula ada dalam ocehan kami. Seperti biasa daya khayal ini mulai nakal, dibuatnya sebuah dunia dimana di dalamnya muncul manusia-manusia tanpa identitas. Identitas politik, ekonomi, ras, suku, maupun agama. Manusia yang tidak mengeneralisasi suatu kelompok karena seseorang dalam kelompok tersebut. Manusia yang ngotot tidak mau tunduk terhadap logika globalisasi.

Caranya? Lagi-lagi kenakalan pikiranku bahkan hinggap ke dunia kartun. Meminjam Doraemon sebentar lalu minta dihadirkan mesin pencuci otak rasanya boleh menjadi pilihan. Ahh.. jangan sampai aku harus menangis seperti nobita untuk memohonnya mengeluarkan alat tersebut. Kemudian kita semua akan terlahir dengan pikiran baru bahwa kita tidak memiliki identitas, tidak ada yang di bawah ataupun atas, karena sesuatu yang semestinya horizontal biarlah horizontal. Tapi kemuakan akan khayalan semacam ini kadang bisa juga hadir.

Tegukkan pertamaku sudah cukup menghangatkan, ditemani lagu The Wild Ones dari “suede” menambah kebugaran kembali. Dahulu, band asal London ini pernah berada di puncak chart seleraku. Tapi penyakit kebosanan manusia rupanya tidak ada obatnya. Aku kembali terdiam, dan kali ini rasanya benar-benar sepi. Aku begitu takut, takut kalau-kalau mata ini ketakutan selama berjam-jam.

Sebenarnya Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie masih menanti untuk kubaca, kangen karena sudah berbulan-bulan kudiamkan.tergeletak. Tapi mata ini tak mau berkompromi. Beruntung aku mendapat izin untuk tenang sejenak mengingat kata-kata si cina kecil itu (julukannya di UI), “Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung”. Aku begitu kangen mendaki gunung, aku rindu akan alam bebas yang mampu memberiku jutaan inspirasi, aku rindu akan kelelahanku, keringatku, bahkan eranganku bersama mahkluk-mahkluk sana. Semoga mimpi malam ini boleh menjadi tim surveiku.

 

Oleh : Ivan Indrawan

Staff Penerbitan Badan Otonom Economica

Advertisements

One response to “Celoteh Malamku

  1. “Manusia yang tidak mengeneralisasi suatu kelompok karena seseorang dalam kelompok tersebut”

    berarti kalau lo ga ganteng, trus ada di kelompok2 orang ganteng, belum bisa ditarik kesimpulan kalau elo jg ganteng dong?? HAHA peace gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s