Hati ≠ Uang

assalamuallaikum .wr.wb ……………… selama menjadi adik asuh diprokadisu sangat menyenangkan dan sangat membantu …………….. menjadi motivasi saya untuk terus semangat dan berjuang keras dalam belajar………………tapi ingin kakak-kakak sekalian agar lebih dekat lagi dengan kami ……………. agar kami lebih semangat ………………. semoga tali silaturahmi kita ini tidak putus sampai disini.

salam

Ririn Nurchoiriyah

SMA YPPD

 

Saya cuma bisa tersenyum membaca email tersebut. Ririn adalah salah satu siswa SMA di daerah Depok yang menerima bantuan dana pendidikan Program Kakak Adik Asuh (Prokadisu) dari BEM FEUI. Saya yang kebetulan adalah staff di Prokadisu tahu betul mengenai bantuan yang diberikan pada Ririn dan teman-temannya sesama penerima bantuan pendidikan: bebas biaya SPP bulanan selama satu tahun, dan bila tetap bisa mempertahankan peringkatnya, bebas lagi tahun ke depannya, dan seterusnya. Ada juga beasiswa prestasi bagi siswa yang berhasil menjadi ranking 1 paralel di sekolahnya. Kadang-kadang, saat menjalankan tugas di Prokadisu, ada rasa bangga yang terselip. Bantuan ini mungkin tidak besar untuk perseorangan, tapi kami menangani puluhan siswa! Bukan hal yang mudah, mengingat jumlah uang yang kami kelola cukup besar. Tapi ketika kami telah berhasil, tentunya hati ini rasanya sangat gembira dan muncul semangat untuk bekerja lebih baik lagi dari sebelumnya. Kami menggiatkan pencarian dana, baik dari kakak asuh, donatur, maupun sponsor. Kami ingin memberi lebih banyak, kami ingin program ini lebih berhasil. Publikasi digencarkan, event-event digiatkan.

Betapa naifnya kami, karena hanya itu yang kami gunakan sebagai parameter keberhasilan. Kenyataannya, ada hal lain yang luput di dalamnya. Sesuatu yang kecil tapi tanpa itu program ini sesungguhnya tidak akan bisa sesukses yang kami harapkan.

Email Ririn terselip di antara email-email lain yang berisi dokumen-dokumen yang tampak penting dan urgen. Kecil, dan kalau tidak kita perhatikan mungkin tidak akan terlihat oleh mata. Luput, seperti kami melupakan unsur penting dalam keberhasilan program kami.

  ……… tapi ingin kakak-kakak sekalian agar lebih dekat lagi dengan kami …… tulis Ririn. Kalimat itulah yang membuat saya tersenyum. Tersenyum malu, menyadari kebodohan saya selama ini. Kami terlalu ingin memberi lebih banyak uang pada mereka, terlalu gencar berpromosi ke pihak luar: donatur dan sponsor, tapi melupakan tujuan utama kami sendiri: adik-adik asuh tersebut. Bukan cuma uang yang bisa diberikan, bukan cuma uang yang mereka inginkan, tapi juga sesuatu yang kecil dari hati kita: perhatian.

Selama ini kami menyangka kami sudah membantu mereka, dengan datang ke sekolah mereka tiga atau empat bulan sekali, itupun hanya ke kantor kepala sekolahnya, untuk membayarkan uang SPP mereka. Secara rutin kami memang mengadakan gathering, tapi mungkin itu tidak cukup. Saat kami pergi ke sekolah, mereka akan melambai gembira pada kami, mengajak bermain mungkin, tapi kami tak pernah punya waktu, hanya bisa balas melambai sambil berlalu.

Banyak orang tua punya pola pikir yang sama. Tujuan mereka baik dan sama, untuk membahagiakan anak, memfasilitasi mereka agar bisa tumbuh sebaik mungkin dan sebisa mungkin terhindar dari bahaya dan kesulitan. Karena itu mereka bekerja keras, pagi sampai malam, untuk bisa menyekolahkan anaknya di sekolah favorit terbaik, menyediakan fasilitas lengkap untuk kenyamanan anaknya, juga membelikan macam-macam hal yang bisa membuat mereka senang. Namun ada beberapa dari mereka yang lupa bahwa yang bisa lebih membahagiakan anaknya daripada itu semua adalah perhatian dari orang tua. Tanda bahwa orang tua peduli pada sang anak, menganggap anaknya tersebut sebagai salah satu manusia terpenting dalam hidupnya yang harus selalu dilihat, dikasihi, dan dijaga, adalah perhatian. Mungkin sebenarnya yang menyukseskan seorang anak bukanlah kelengkapan fasilitas dan kualitas pendidikan yang dia terima, tapi adanya perhatian dari orang tuanya.

Mungkin negara kita juga berpikir sama. Pemerintah punya keinginan yang baik dan mulia, agar rakyat Indonesia hidup makmur dan sentosa. Tapi apa daya, uangnya tak ada. Pemerintah pun berusaha tetap mencukupi kebutuhan masyarakat. Meski terengah-engah, Pemerintah tetap memberi subsidi pada BBM dan listrik. Askes (asuransi kesehatan) dan raskin (beras untuk rakyat miskin) tetap diadakan. Anggaran pendidikan dibuat besar, dan beasiswa digalakkan. Semua itu memang perlu, namun andai saja Pemerintah tahu, rakyat tidak cuma butuh itu. Mungkin rakyat juga ingin Pemerintah sesekali turun mendatangi mereka, bercengkrama dengan mereka. Agar lebih kenal dan paham bagaimana mereka hidup. Bukan cuma melemparkan program-program pengentasan kemiskinan, tapi sendirinya tidak paham bagaimana rasanya miskin. Agar tidak merasa sudah menunaikan tugas setelah membuat program-program tersebut, tapi juga melihat bagaimana tugas tersebut diimplementasi hingga sampai menyentuh rakyat bawah. Dengan begitu rakyat bisa merasa lebih dipedulikan. Saat mereka dipedulikan, akan muncul motivasi dalam diri sendiri untuk membahagiakan orang yang telah mempedulikan mereka. Akan muncul motivasi diri untuk sukses. Akan tercipta rumah tangga, atau dalam hal ini negara, yang harmonis antara Pemerintah dan rakyat. Sederhananya, negara ini bisa sukses.

Ada banyak rumus untuk keberhasilan, baik itu keberhasilan bagi anak-anak kita, atau bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Tapi dari sekian banyak rumus itu, satu yang saya tahu pasti adalah bahwa hatiuang.

 

Oleh : Yuanita Intan

Staff Penerbitan Badan Otonom Economica

Advertisements

One response to “Hati ≠ Uang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s