Malam Pertama di Bulan Mei

Menjadi nomor dua itu tak enak. Terlebih jika sudah merasakan nomor satu. Ada rasa cemburu yang suram menghujam, juga dendam membara di dada. Kau bisa melakukan apapun untuk kembali ke nomor satu. Sadar ataupun tidak.

       Sepuluh tahun yang lalu aku pergi dari desa ini. Cerita dan kenangan selama18 tahun tak sanggup menahan kepergianku. Aku pergi bukan untuk mencari ilmu di kota, aku juga tak pergi untuk mengais rezeki di pulau seberang. Aku kecewa, sangat kecewa. Aku pergi untuk menghindar. Aku pergi untuk membunuh rasa itu, agar tak ada yang celaka.

       Kini aku kembali di sini, di desa kelahiranku. Serpihan kenangan masa lalu merangsek kedalam pikiran ketika pertama melihat tugu batas desa ini. Di tugu perbatasan ini aku sering bermain dengan teman-temanku. Sering kami bermimpi untuk pergi bermain lebih jauh dari batas ini. Melihat dunia di luar sana. Tapi tak pernah jadi.

       Bapakku selalu berkata, “dunia diluar terlalu mengerikan. Jangan pernah pergi melewati perbatasan itu, mang.” Sampai umurku 16 tahun aku selalu percaya itu. Sampai pada suatu hari aku sadar bahwaa itu hanya karangan agar aku tak bermain terlalu jauh.

       Bapak dan Ibu dulu pernah sayang padaku. Mereka tak pernah marah meski aku kadang nakal dan tak menurut. Kalau dipikir sekarang, rasa sayang mereka kepadaku sepertinya berlebihan: tak normal. Jarang sekali aku mendengar orang tua tak marah lebih parah lagi membiarkan saja ketika si buah hati bertindak tak mengenakkan.

       Semua berubah ketika ibu melahirkan seorang bayi laki-laki waktu umurku 10 tahun. Secara dramatis kasih sayang dan perhatian mereka teralihkan kepada si bayi. Awalnya tak menjadi masalah untukku. Tapi semakin hari kecemburuanku semakin menjadi.

       Mungkin kau fikir aku berlebihan. Tapi pernah kau tak diajak bicara selama empat hari berturut oleh kedua orang tuamu? Pernah ketika kau sakit, kedua orang tuamu tak tahu sama sekali? Aku merasakannya, dan banyak lagi yang lainnya.

       Rasanya Tuhan suka yang seimbang. Tak lebih dan tak kurang. Sembilan tahun aku merasakan surplus kasih sayang dari bapak dan ibu, Sembilan tahun kemudian aku deficit. Seimbang.

       Bukannya aku hanya diam, tapi aku telah lelah mencoba. Delapan tahun aku mencari perhatian. Mulai dengan menjadi rajin membersihkan rumah, hingga berprestasi di sekolah. Tapi tak ada hasilnya: nihil. Semakin besar adikku, makin besar pula perhatian bapak dan ibu kepadanya.

       Hingga suatu malam aku terfikir untuk menyingkirkan pesaingku. Ya, menyingkirkan adikku untuk memenangkan kasih sayang dan perhatian dari bapak dan ibu. Entah setan apa yang merasuk. Aku masuk kamar adikku. Mengambil bantal yang tak digunakan. Ingin kubungkam adikku dengan bantal itu dan mengakhiri kompetisi ini dengan aku sebagai pemenang. Kembali menjadi pemenang.

       Semakin dekat bantal itu dengan kepala adikku, semakin bergetar kedua tanganku. Di saat terakhir, aku berhenti. Lalu aku berlari keluar rumah seperti kesetanan, entah aku keluar melalui jendela atau pintu. Aku pergi dan tak pernah kembali, sampai hari ini.

       “Komang?” suara seorang wanita membuyarkan nostalgiaku dengan kenangan. “Iya, siapa ya?” tanyaku sembari melihat wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Mencoba mengingat. Hening.

       “Tantri!” teriakku antusias sebelum ia sempat menjawab. Tantri ketakutan dan berlari menjauh. Sebelum jauh, aku tangkap pergelangan tangannya, “tunggu!” kataku, “kenapa kau takut dan lari, Tan?” aku bertanya. Wajah Tantri pucat. Hening kembali.

       Tantri terus merengek. Karena tak tega akhirnya kulepaskan cengkraman tanganku. Tantri berlari. Aku berlari mengikutinya. Bukan hal yang sulit karena kecepatan Tantri tak kencang. Selalu seperti itu sejak kami kecil. Ya, Tantri teman bermainku. Teman yang pernah punya mimpi sama: bermain hingga jauh.

       Tantri terus berlari masuk ke desa. Tiap langkah kaki yang aku ambil, membawa semakin masuk kebagian desa yang sangat aku kenal. Tawa senang saat bermain balap lari dengan Tantri dengan yang lainnya seolah terdengar nyata dikedua telinga. Tapi ada yang menghentakkanku sampai tercekat ketika Tanti berbelok ke kanan dipertigaan gadu listrik: rumahku tak ada.

       Tantri masuk ke rumahnya, tepat di depan rumahku ketika masih berdiri. Tersisa hanya sisa puing bangunan yang ditemani semak belukar yang tumbuh tinggi. “Apa yang terjadi?” batinku.

       “Ibu, Komang! Arwah Komang!” teriak Tantri panik seperti melihat setan. Arwah Komang? Ia fikir aku arwah? Ketika aku bingung, keluar seorang wanita tua dari rumah Tantri, membuka pintu. Langsung dipeluknya wanita itu oleh Tantri. Aku kenal wanita tua itu. Ia Bu Minah, Ibu kandung Tantri.

       Bu Minah terkenal tak berperasaan waktu aku masih kecil. Perkataanya pedas. Pernah suatu ketika dia memaki teman bermain Tantri selain aku, katanya, “jangan bermain dengan gembel satu itu. Bisa ketularan nakal nanti kamu, Tan!” banyak penduduk desa yang tak suka dengannya. Tapi banyak juga yang suka, entah apa yang disuka dari nenek sihir ini. Mungkin ketegasan, kharisma, atau ketenangannya. Entahlah.

       “Assalamualaikum, Bu Minah” sapaku mencoba ramah.

       “Waalaikumsalam, mang. Kenapa kau disini? Kemana saja kau?” jawab Bu Minah dengan sangat tenang. Kontras dengan sikap Tantri yang ketakutan.

       “Aku pergi ke kota, bu. Rumah saya kenapa?” Tanyaku tanpa memerdulikan Tantri yang ketakutan.

       “Pantas mayatmu tak ditemukan.” Jawabnya singkat. Aku semakin bingung dibuat pasangan Ibu-Anak ini. “Hah? Mayat?” lanjutku.

       “Rumahmu terbakar sepuluh tahun yang lalu, dimalam pertama bulan Mei. Kau kabur dari rumah? Kapan?” jawab bu Minah ketus.

       Rasanya seperti tertimpah batu besar mendengar ucapan Bu Minah. Aku lemas. Kejadian itu persis ketika aku pergi meninggalkan desa ini. Malam itu—malam pertama di bulan Mei 10 tahun yang lalu—listrik padam. Desa ku punya tradisi menonton layar tancap bersama ditiap malam pertama di bulan Mei. Orang kampung tak pernah menjawab ketika aku tanya kenapa, “masih kecil kau. Nanti kalau sudah dewasa, kau pasti tahu kenapa” kata salah satu Hansip yang aku kenal. Aku selalu ingat tepat waktu aku pergi meninggalkan desa ini, karena tradisi itu.

       Karena listrik padam seluruh desa dilanda kegelapan. Untuk menerangi kamar, aku menyalakan lampu minyak. Lampu tersebut aku bawa ketika masuk kamar adikku. Pasti tanpa sadar terjatuh ketika aku berlari keluar rumah. Aku terus berlari, berlari dan berlari. Tanpa tahu rumah terbakar karena lampu tersebut.

       “Bapak, Ibu, dan Adikku. Semuanya?” suaraku bergetar, air mata tanpa sadar mengalir. Aku menyesal.

       “Mereka mati. Kenapa harus menangis? Mereka bukan keluargamu. Kau hanya anak haram yang mereka pungut.” 

 

(Bayu Tegar Perkasa)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s