Menjadi Bebas

Aku gemetar. Tak pernah sekalipun terbayang olehku untuk memiliki sebuah pilihan seperti ini. Pernah aku berfikir, ”beginilah hidupku sampai ajal menjemput, tak mungkin berubah apalagi berputar balik!” Sampai aku merasa nyaman.

1.

“Kiswo, ayo bangun sudah pagi, bantu bapak disawah!” teriak ayah membangunkanku. Aku yang sudah hafal dengan nada tinggi itu bergegas bangun dan menuju gudang perkakas yang merangkap dapur. Disana bapakku sudah menunggu dengan wajah merah padam. Bapak marah.

“Jadi bujang itu harus bangun pagi-pagi. Jangan jadi pemalas. Bantu bapak kalo mau makan!” bentak bapak. Aku hanya menunduk dan mengangguk. Bapak tak suka kalau aku tak bangun lebih awal dari kumandang adzan subuh. Padahal dari pagi hingga magrib aku bekerja disawah. Tak tahukah bapak bahwa aku lelah? Aku terlalu kecil untuk pekerjaan ini.

Setiap harinya aku dieksploitasi oleh bapak. Membantu bapak menggarap sawah Tuan Gohn, juragan tanah dari negeri belanda. Dari subuh hingga magrib. Hanya istirahat siang hari untuk makan. Makanan disediakan si tuan tanah. Bapak dan aku hanya bermodal tenaga. Namun, bayaran tak seberapa.

Aku lelah dengan hidup seperti ini, tapi apa daya, aku hanya anak seorang buruh tani. Aku terpenjara. Dalam keadaan yang serba tak enak.

2.

Enam orang datang kerumahku pagi itu. Lima diantaranya bertubuh besar, berotot. Satu orang berdiri paling depan. Anak Tuan Gohn datang mencari bapak.

“Kau berutang banyak, kembalikan uang ayahku!” anak Tuan Gohn bicara bahasa Indonesia dengan payah. “Maaf tuanku, aku belum punya uang untuk membayar” jawab bapak ketakutan. “Tak punya uang rajin berjudi, zoon van een teef!” Ayahku diam. Tak tahu takut atau tak mengerti arti ucapan terakhirnya.

“Aku punya anak laki-laki, dia kuat dia sering membantuku disawah, ambilah dan lunas utangku!” celetuk ayah. Rumahku kecil, bisikan didepan rumah saja bisa terdengar dari kamar satu-satunya dirumahku. Aku tak menyangka bapak sampai hati menjualku. Celakalah aku.

3.

Begitulah kisahku. Itu kenapa akhirnya aku bisa pergi jauh dari desaku. Tinggal dinegara yang menjajah negeriku. Dan menjadi budak dari Tuan Roy, anak Tuan Gohn. Tuan Roy bukanlah orang yang ramah dan baik. Tak jauhlah bedanya dengan bapak.

Eksploitasi terhadap tenaga kerjaku sudah tak menyakitkan lagi rasanya. Sudah kebal. Sejak umur 10 tahun sudah ditempa oleh bapak bekerja kasar di sawah , bukan masalah ketika harus menuruti mau majikanku sekarang. Angkat ini, angkat itu. Bersih ini, bersih itu.

Setidaknya aku masih bisa makan enak disini. Tak perlu berpusing mau makan apa besok karena majikanku yang menjamin keberlangsungan hidupku. Pakianku pun diberi oleh majikan. Meski tak baru, aku tak perlu menabung sekian lama untuk membeli sehelai baju seperti waktu di desa dulu. Setelah 10 tahun diperbudak, akhirnya aku bisa merasa nyaman. Aku mulai menikmati keadaanku yang seperti ini. Perintah-perintah majikanku sudah tak lagi terdengar menginjak-injak harga diriku. Aku rasa aku tak perlu harga diri. Aku perlu makan dan pakaian juga tempat tinggal. Dan lagi, tak banyak orang desa seperti aku bisa tinggal dinegeri Batavia ini. Pasti banyak tetanggaku yang iri denganku.

4.

“Kamu boleh pulang. Kamu bebas.” ucap Tuan Roy dengan wajah datar. Perkataan diwaktu senja itu menggetarkan seluruh tubuhku. Kalau Ia mengucapkan itu sembilan tahun yang lalu, mungkin aku akan langsung mengepak barang-barang dan pulang ke Indonesia entah bagaimana caranya. Tapi tidak sekarang. Tidak ketika aku sudah keluar dari penjara yang selalu membelengguku. Tidak!

“Dengan menjadi pekerja yang bebas, tidak membudak, kamu pasti lebih produktif. tenang saja. VOC bangkrut, aku dituntut karena mengambil uang mereka!” sanggah Tuan Roy ketika aku membujuk agar terus menjadikanku sebagai budaknya. Aku tidak ingin merdeka. Apa arti merdeka ketika aku merasa terpenjara oleh kesengsaraan? Apa arti merdeka ketika aku merasa terpenjara? Aku mau menjadi budak. Karena seperti itulah keadaan yang aku rasa sebagai bebas, keadaan dimana aku tak terpenjara.

Di benakku terbayang samar kebahagiaan yang mungkin aku nikmati sekaligus kengerian yang mungkin juga bisa memabantingku dari angan yang indah itu. Gemetarku semakin tak karuan ketika malam berganti subuh. Angin sepoi yang menyusupi ventilasi kamarku yang kecil dan suram akhirnya berhasil mengantarkanku untuk sejenak terlelap dipagi yang bisu. “Perbudak aku 100 tahun lagi…”

 

( Bayu Tegar Perkasa)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s