Kidung Lingsir Wengi

Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
Awas jo ngetoro
Aku lagi bang wingo wingo
Jin setan kang tak utusi
Dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet


Menjelang malam, dirimu akan lenyap
Jangan bangun dari tempat tidurmu
Awas jangan menampakkan diri
Aku sedang dalam kemarahan besar
Jin dan setan yang kuperintah
Menjadi perantara
Untuk mencabut nyawamu

 

            Lagu itu terus terdengar. Suketi terus menari. Langkahnya tidak terhenti. Tubuh sintalnya meliuk mengikuti irama. Semakin malam, penonton semakin ramai. Semakin banyak gumaman, teriakan, uang yang berhamburan. Makin lama makin liar.

            Malam itu Pak Lurah juga datang. Tidak dipedulikannya omelan istrinya di rumah. Wajar saja mengingat Suketi adalah kembangnya Desa Puluasih. Pria satu desa seakan tersihir akan pesonanya. Istri-istri sudah senewen, ibu-ibu takut anak perjakanya juga ikut berbuat maksiat. Belum lagi, lagu wajib yang dilantunkan penuh dengan kesan magis, tapi dibarengi tindakan tidak pantas dilihat mata, dipakai bersenang-senang, seakan menghina jin dan setan.

            Tayub itu berlangsung sampai pagi, jam dua baru selesai. Di panggung dia memang seperti wanita jalang, tapi Suketi punya prinsip. Mau menjaga tetap perawan sampai ada pria tepat yang meminangnya. Jadi ditolaknya ajakan Pak Lurah yang mau mengantar pulang dan tawaran belasan lelaki hidung belang lainnya. Walaupun jelas dari situ uang akan mengalir lebih deras lagi, jauh melebihi yang masuk ke kembennya tadi.

            Malangnya Suketi, malam itu Darso terlambat datang. Biasanya kakaknya itu yang dengan setia menjemputnya pulang dari tayub. Tidak pernah tega menonton adiknya yang harus bertingkah seperti itu untuk menyambung hidup keluarga mereka. Sering juga panas kupingnya mendengar omongan nakal teman-temannya tentang adik perempuannya, tapi selalu ditahan kepalan tangannya, tidak mau memancing masalah.

            Sudah lewat satu jam. Tempat itu mulai sepi, Suketi duduk di sisa-sisa panggung yang belum sempat dibereskan.  Akhirnya, ia tinggal sendirian. Diputuskan untuk jalan kaki saja, toh rumahnya hanya lima belas menit dari sini. Tapi, Suketi tidak tahu. Pak Lurah dan tiga orang pemuda sudah menunggunya di simpang jalan. Darso sudah dibuat mabuk, tertidur lelap di pos ronda. Mereka geram selalu ditolak kembang desa itu, dianggapnya Suketi sok suci.

            Jadilah tiba-tiba ia disergap, ia berontak, berteriak, tapi sia-sia. Mulutnya langsung dibekap, badannya digotong, dibawa ke dekat rawa. Disana pakaiannya dilecuti satu-satu. Suketi diperkosa, bergiliran. Tangisan dan kata ampun darinya tidak mampu meredam berahi mereka. Setelah itu, dia ditinggalkan.

            Besoknya warga geger. Suketi ditemukan pingsan dalam keadaan telanjang. Riasaannya sudah tidak karuan. Ia diantar pulang. Ibunya yang sakit-sakitan, perih dan hanya bisa menangis melihat anak gadisnya. Darso merutuk, menyesali kebodohannya. Sedang Suketi hanya diam, ketika ditanya siapa pelakunya, ia bungkam. Suketi sudah seperti orang mati. Suara yang keluar dari bibirnya hanya lantunan pelan kidung lingsir wengi yang sering didengarnya.

            Warga yang menganut agama mulai marah. Mereka tidak suka acara tayub itu, tapi lebih tidak suka lagi melihat ada wanita yang begini dilecehkan martabatnya. Pak Lurah dituntut mencari pelakunya. Tentu saja itu membuatnya berkeringat dingin, tidak sudi menyerahkan diri sendiri. Dicoba ditenangkannya warganya, disuruh pulang. Tapi besok paginya, dipanggilnya tiga pemuda itu, dibayar untuk membereskan Suketi dan keluarganya.

            Malam itu, ada kebakaran, tak ayal lagi rumah Suketi jadi sasarannya. Desa Puluasih kembali geger, warga heboh, mencoba memadamkan api yang menyala. Tapi usaha itu sia-sia, jadilah satu kelurga mati malam itu juga. Sejak itu, warga yang marah mulai hilang nyalinya. Takut bernasib sama. Mereka diam, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.

            Tepat satu suro setelah kematian Suketi, Pak Lurah mengadakan pesta. Pesta pernikahannya yang kedua. Istirnya meninggal dua bulan lalu, terkena sakit aneh, tepat dibarengi dengan kedatangan Warsih, gadis muda nan cantik di desa itu, sontak ia menjadi kembang baru. Satu bulan setelah itu, tiga pemuda yang dulu terlibat pembunuhan Suketi mati, katanya karena kecelakaan, mabuk lalu jatuh ke jurang. Tapi tidak ada yang curiga atau mencoba mengkaitkan semuanya.

            Malam itu Pak Lurah tampak sumringah, bangga dengan istri barunya. Siapa sangka bandot tua sepertinya masih bisa mendapat pendamping muda secantik ini. Jadilah satu desa diajaknya berpesta meriah. Selesainya, ia tidak sabar membawa Warsih untuk malam pertama mereka. Dibawanya ia ke kamar, dikunci pintunya. Tapi sayang, lurah yang dipenuhi nafsu malam itu tidak mendengar sayup-sayup Kidung Lingsir Wengi dan mata istri barunya yang perlahan memutih.

 

( Dina Amalia Puspa ) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s