Selamatkan Bank Nasional

Sejak diterpa oleh krisis ekonomi dunia tahun 2008, Indonesia boleh bangga karena berhasil mempertahankan kondisi ekonominya di posisi yang cukup aman dan stabil. Terlihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih mampu berada pada tingkat 6,1 persen, inflasi tahunan yang masih terjaga pada tingkat 5 persen, dan nilai tukar rupiah yang stabil di level 9500 per U$D pada kurun waktu 2008 hingga 2009. Kondisi baik ini menarik minat para investor baik domestik maupun asing untuk menanamkan investasinya di beberapa sektor ekonomi seperti bank-bank nasional. Namun pertumbuhan investasi ini lama kelamaan memiliki dampak buruk bagi ketahanan fundamental perekonomian Indonesia. Hal ini disebabkan oleh adanya kesenjangan besar terhadap kepemilikan berbagai bank nasional yang semakin didominasi oleh para investor asing.

Salah satu contoh isu terbaru mengenai dominasi kepemilikan bank nasional oleh pihak asing adalah rencana akuisisi saham Bank Danamon oleh DBS Group Holdings Singapura yang dimiliki oleh Temasek Holdings, salah satu BUMN milik negeri itu. Tepatnya 30 Maret 2012, DBS Group Holdings meneken perjanjian akuisisi 67,37% saham Bank Danamon dengan cara mengakuisisi Asia Financial Indonesia Pte. Ltd. yang memegang 67,37% saham bank tersebut. Pemilik lama Asia Financial sendiri yaitu Fullerton Financial Holdings Pte. Ltd. juga merupakan anak usaha Temasek Holdings. Di sisi lain, Temasek pun memegang 29% saham di DBS Holdings. Temasek melepas saham Bank Danamon kepada DBS Holdings seharga Rp 45,2 triliun atau setara Rp 7.000 per saham. Namun, DBS tidak membayar Temasek dengan uang tunai, tapi dengan penerbitan 439 juta saham baru DBS seharga S$ 14,07 per saham. Dengan begitu, kepemilikan Temasek di DBS Holdings akan naik menjadi 40%.

Rencana pengakuisisian Bank Danamon ini otomatis memberikan kekhawatiran kepada banyak kalangan mulai dari para bankir hingga jajaran Kementerian Keuangan. Mereka menilai rencana ini akan menggerus dominasi kontrol operasional dan arah pembiayaan bank nasional tersebut yang dapat berdampak terhadap stabilitas makro dan mikro, serta prospek pertumbuhan kredit bank dengan sendirinya. Data yang dikutip dari bisnis.com 17 April 2012, menunjukkan pada akhir triwulan I total kredit yang disalurkan oleh bank tersebut  mencapai Rp106 triliun, meningkat 23% dibandingkan dengan setahun sebelumnya sebesar Rp86 triliun. Total kredit ini disalurkan pada mass market dengan pertumbuhan sebesar 23%, wholeale 29% dan segmen usaha kecil dan menengah serta komersil 29% dari tahun sebelumnya.

Selain hal tersebut pihak lain yang juga tidak setuju terhadap rencana DBS Group mengambil alih saham milik Asia Financial (Indonesia) di Bank Danamon adalah Bank Indonesia karena rencana tersebut tidak masuk ke rencana bisnis baik Bank Danamon maupun DBS. Pihak manajemen Bank Danamon pun menanggapi  bahwa mereka tidak tahu menahu mengenai hal ini karena akuisisi itu terjadi di tingkat pemegang saham bukan di tingkat manajemen/korporasi. Komentar yang sama juga diberikan oleh pihak DBS yang menyatakan bahwa proses akuisisi ini  tidak melanggar satu pun aturan di Indonesia. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 28 tahun 1999 tentang Merger dan Akuisisi Bank, pihak asing boleh memiliki saham perbankan hingga 99 persen.

Aturan yang longgar dari pemerintah ini juga bukan sekali ini saja telah memuluskan rencana beberapa pihak asing untuk ‘membajak’ bank-bank nasional. Sebut saja OCBC Singapura yang melakukan merger dengan Bank NISP dan melakukan rebranding dan mengganti logo seluruh cabangnya. OCBC Singapura mengganti logo NISP dan seluruh cabangnya dengan logo OCBC. CIMB Malaysia juga melakukan hal yang sama setelah melakukan merger dengan Bank Lippo dan Bank Niaga. Mereka  kemudian mengubah cabang Bank Niaga dan Bank Lippo dengan logo CIMB. UOB Singapura melakukan hal yang sama dengan Bank Buana. Dalam kurun waktu kurang dari 10 tahun, ribuan cabang bank nasional berganti wajah menjadi cabang bank asing. Bahkan sampai ke pelosok kota kabupaten di seluruh Indonesia. Keadaan ini menguatkan fakta bahwa kepemilikan saham oleh asing di perbankan nasional mencapai 52 %.

Kenyataan miris ini sangat bertentangan dengan perlakuan pihak asing seperti Singapura terhadap bank-bank Indonesia di negaranya.  Singapura tidak memperhatikan asas resiprokal (kesetaraan) terhadap bank-bank Indonesia disana. Bank Sentral Singapura sangat ketat dalam urusan perizinan bank asing di negara tersebut. Contohnya, PT Bank Mandiri Tbk hingga kini belum mendapatkan izin membuka cabang. Seperti bank asing lainnya, Bank Mandiri hanya diperbolehkan membuka satu kantor. Selain itu, Bank Mandiri tidak boleh menerima simpanan dari warga lokal dan tidak boleh memasang ATM. Namun hal ini disanggah oleh Direktur Komunikasi Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) Angelina Fernandez. Seperti dikutip dari bisnis.com 24 April 2012, Ia mengungkapkan bahwa setiap bank dapat beraktifitas dengan maksimal di Singapura selama memenuhi aturan lisensi operasional yang ada di negara tersebut.

Beruntungnya kali ini pemerintah bertindak cepat untuk menyelamatkan bank nasional dari cengkraman pihak asing. Gubernur BI, Darmin Nasution pada 28 April 2012 menegaskan, DBS harus menghentikan sementara pengalihan saham Bank Danamon. Bank Indonesia tidak bisa memproses proposal akuisisi hingga aturan kepemilikan saham bank rampung. Nantinya DBS Group Holdings dan Bank Danamon harus melakukan divestasi (pelepasan) saham jika revisi Undang-Undang Perbankan Nomor 10 Tahun 1998 selesai pada tahun depan. Rencananya peraturan ini akan membatasi kepemilikan investor asing dari 99 persen menjadi 20-45 persen dalam saham perbankan nasional. Para pengamat pun menambahkan agar hasil dari revisi undang-undang tersebut dapat memberikan kekuatan bagi bank-bank nasional dalam menghadapi gempuran pihak asing, revisi undang-undang tersebut juga harus memperhitungkan kemampuan pemilik bank dalam negeri dalam menambah modal, dan daya serap investor lokal apabila ketentuan baru mengharuskan pemilik asing melakukan divestasi.

 

( Bories Parningotan)

Advertisements

One response to “Selamatkan Bank Nasional

  1. menarik nih bor, sering2 lah ikut diskusi informal di boe, kadang juga bahas gini2an
    ga bakal jauh2 dari moneter indonesia-singapura, gimana singapur bisa mainin pasar uang indonesia

    oh iya, tulisan igauannya decil di buku isu dan igauan “Balada Tuang Investor yang Terhormat dari Indopure” juga ngebahas ini nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s