Aku , Tidur dan Mimpi

Aku tersadar dari tidur panjangnya. Badannya sempoyongan, kepalanya pusing tak karuan. Bangkit dengan lemah, dia bahagia.

Adakah manusia selain Aku di dunia ini yang begitu mengagungkan tidur? Rasanya tak ada. Bukannya dia makhluk malas tanpa tujuan hidup. Bukannya dia tak punya kesibukan. Aku sibuk, tapi dia harus tidur walaupun dia sibuk. Abnormal kah Aku, jika dia berkomitmen untuk tidur belasan jam sehari? Aku sangat suka tidur dan hal ini bukannya tanpa alasan. Semua hal terjadi tentunya dengan alasan bukan? Termasuk juga alasannya untuk memuja tidur. Jawabannya hanya satu.

Aku telah jatuh cinta pada mimpi.

Ya, inilah kegilaan Aku yang lainnya. Mimpi adalah segalanya bagi Aku. Aku tak bisa hidup tanpanya. Aku tak bisa apa apa bila tak ada Mimpi. Maka itu, Aku tak pernah lepas dari Tidur, sebagai satu satunya jembatan yang menghubungkan dirinya nya dengan kekasihnya, Mimpi.

Jika dunia bertanya pada aku, apa yang membuat Aku begitu mencintai mimpi? Aku dapat menjawabnya dengan lantang! Mimpi telah menjadikan Aku merasakan segalanya. Aku terbang, Aku jatuh dari gedung ratusan lantai tanpa terluka, Aku dikejar-kejar setan alas, Aku bermandikan uang dan emas, Aku berjalan di sebuah dunia yang seluruhnya bernuansa hitam putih, Aku menderita karena diteror oleh ayam panggang tanpa kepala yang bisa berjalan, Aku meluncur dari seluncuran tanpa akhir, Aku menjadi peminta-minta, menjadi preman brewokan, Aku mengayuh gondola di Venesia, semuanya karena mimpi menjadikan Aku dan membawa Aku ke sana.

Mimpi membawanya tetap hidup, setiap harinya. Mimpi menjadikan Aku seperti apa yang dia inginkan, yang tak bisa didapatkan dalam kehidupan nyata, yang tragisnya, membosankan.

Aku kadang merasa benci kepada tidur. Tidur begitu egois. Hanya Ialah yang bisa membawa Aku pada Mimpi. Aku tak akan bisa bertemu dengan Mimpi jika tidur tak menghampiri Aku duluan. Kadang Aku berpikir untuk mencari jalan lain untuk menghubungkannya dengan mimpi, selain dengan tidur. Tapi hanya kekosongan yang ada.

Aku kadang juga berpikir mimpi terlalu mendominasi hubungan mereka. Bisakah Aku tetap menjumpai mimpi dalam alam  sadarnya? Dengan kata lain bisakah Aku tetap dalam kesadaran penuh ketika dia bertemu dengan mimpi? Karena Mimpi terus mengendalikannya. Dan ia tak ingin terus begini. Ia ingin sesekali berbalik mengendalikan mimpi, agar hubungan mereka seimbang. Agar tak berat sebelah. Lagi-lagi hanya kekosongan yang tersisa.

Dan Aku akan kecewa, sekaligus bahagia jika kesadaran telah merenggut mimpi darinya. Kecewa karena dia tak bisa bersama mimpi lagi, untuk beberapa saat. Bahagia karena mimpi, yang terlalu egois sekaligus yang terlau Aku cintai, akan kembali menjumpainya. Suatu saat dalam kesendiriannya, dalam keheningan jiwanya.

 

Faritz
Anggota Divisi Penerbitan BOE

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s