TOPENG

Aku tak pernah suka pada topeng.

Meski ibu rasanya sudah seperti maniak benda tersebut, meski banyak topeng-topeng yang ibu koleksi dan pamerkan di banyak penjuru rumah. Aku tak pernah nyaman akan kehadiran benda-benda kayu dengan motif wajah tersebut. Terlalu kaku, terlalu palsu, terlalu pongah.

“Ini topeng Arjuna! Topeng pendekarnya pandawa! Lambang ksatria dan kebijaksanaan,” tukas Ibu.

Namun tak kugubris, tak kudengarkan. Memangnya kenapa kalau Arjuna? Dia kira dia sempurna? Bagiku ia hanya seorang tokoh dalam Mahabharata yang punya istri banyak dan karena kesalahannya, para putra pandawa tewas di perang Bharatayudha.

Mirisnya, ternyata topeng banyak jumlahnya, ada dimana-mana, tak hanya banyak di rumahku. Aku pernah melihat topeng dalam wujud sahabat, ketika Ia menikamku dari belakang demi kejayaan pribadinya. Aku juga pernah melihat topeng dalam bentuk alim ulama, yang berkoar-koar menyerukan kebaikan, namun aslinya juga seorang pendosa, sama saja seperti manusia kebanyakan. Aku pernah melihat topeng dalam bentuk wakil rakyat, yang besar mulut dan banyak janji saat kampanye, namun ternyata hanya makhluk pemakan harta rakyat. Bahkan aku juga pernah melihat topeng dalam bentuk pencinta, yang terlalu berusaha terlihat sempurna pada pasangannya, namun ternyata setelah menikah tak seindah dikira. Munafik.

Banyaknya topeng di dunia ini membuatku jadi berpikir, apakah sebegitu pentingnya pencitraan bagi setiap orang? Apakah sebegitu sakralnya menampilkan muka yang polos, anggun, nan ayu ke depan publik dan menutupi kebusukan dalamnya? Banggakah orang-orang dengan topengnya yang indah namun aslinya hanya sampah? Sama saja seperti topeng-topeng ibu di rumah, yang selalu ibu banggakan keantikan dan kemahalannya, walaupun tak bisa apa-apa selain berdiam dengan muka liciknya. Bahagiakah hidup seperti itu?

Kadang aku sampai ke sisi bijak, yang mengerti bahwa topeng itu memang perlu. Manusia mana yang tak mau semua hal yang diinginkannya mulus? Manusia mana yang tak mau mereguk keuntungan sebanyak-banyaknya? Memang mungkin dibutuhkan topeng untuk meraih itu semua.

Tetapi, hari ini aku tak tahan lagi. Kutemui lagi topeng yang sudah terlalu. Kali ini dalam bentuk orang kaya. Pengusaha, majikan para pekerja, yang tersenyum pada penguasa, yang tersenyum pada media. Namun hinanya, tak ia hiraukan kesejahteraan bawahannya. Gaji yang tak seberapa, jam kerja terlalu panjang, tak ada benefit apapun, bahkan kikirnya bukan main, tak mau beri pinjaman padahal untuk biaya berobat.

Sadar, Bung! Walau kau orang kaya, tak selamanya akan menjadi kaya! Tak selamanya kau punya kuasa untuk menindas! Tak selamanya topengmu bisa jadi alat penutup busukmu! Tuhan maha adil, dan karma selalu ada. Para topeng yang terlalu pun suatu saat akan terbuka kedoknya!

Kuambil topeng Arjuna yang tergantung di tembok rumah, kugenggam kencang dengan amarah, kubuang keras ke lantai. Si topeng Arjuna jatuh berkeping-keping. Hancur. Aku Tertawa, rasakan kau topeng! Inilah takdirmu karena terlalu munafik.

Namun, sejenak kemudian aku hening. Kutatap kepingan-kepingan Arjuna, lalu kutatap diriku di cermin.

Apakah sebenarnya diriku ini juga topeng?

 

(Fajar Sulistyaningsih)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s