A Sense of Crisis: Belajar Melayani

“Indonesia negeriku. Orangnya ramah-ramah. Gemah ripah loh jinawi,” – sebuah lagu di masa kecil.

            

             Kalau kamu senang berpergian dengan pesawat, kamu tentu sepakat bahwa pramugari luar negeri jauh lebih ramah daripada pramugari Indonesia. Padahal, banyak bule beropini bahwa orang Indonesia ramah-ramah. Namun, di mana sisi ramah orang Indonesia? Jika orang Indonesia sangat ramah, mengapa pramugrami maskapai Indonesia tidak pernah se-oke pramugari Singapore Airlines (SQ) misalnya?

             Jawabannya sederhana. Pramugari-pramugari itu tidak sedang benar-benar melayani ketika bertugas. Alih-alih memberikan seratus persen hati dan diri untuk memuaskan pelanggan, seringkali yang mereka inginkan dari pekerjaannya adalah jalan-jalan gratis, mengunjungi berbagai tempat, atau mejeng dengan seragam yang licin dan dandanan yang menor.

             Pramugari Indonesia mungkin kebanyakan bukan orang yang senang melayani. Di rumahnya masing-masing, justru merekalah yang dilayani. Ada ibu mereka yang pasti luar biasa bangga karena punya putri seorang pramugari. Ibu-ibu itu selalu sibuk menyiapkan masakan favorit setiap mereka di rumah. Selain itu, tentu ada pembantu yang sigap menuntun koper-koper, mencuci baju kotor, bahkan memijat-mijat kaki mereka yang pegal karena terlalu sering memakai hak tinggi.

             Begitulah kasihannya bangsa kita. Tidak hanya perbedaan kasta ekonomi saja yang menjadikan perilaku manusianya menjadi sangat manja, luputnya pendidikan karakter di rumah juga membuat hubungan antara orang tua dan anak terbalik, di mana orang tua-lah yang seolah berkewajiban untuk melayani anak-anaknya. Hal kecil seperti menyikat kamar mandi misalnya, bukannya dijadikan kebiasaan, malah dijadikan hukuman jika sang anak berbuat nakal. Akibatnya, dalam benak anak-anak tadi, tertanam pola pikir bahwa melakukan pekerjaan sehari-hari (yang bisa dikerjakan oleh pembantu) adalah sebuah hukuman, sesuatu yang hina untuk dilakukan.

             Hal seperti ini jugalah yang mengakibatkan banyak orang Indonesia kehilangan sense of crisis terhadap lingkungan. Kalau naik kereta, mereka selalu berebut untuk dapat tempat duduk. Kalau sudah duduk, mereka berpura-pura tertidur supaya tidak diminta petugas untuk memberikannya kepada yang lebih membutuhkan. Kalau menyeberang jalan, mereka tidak mau jalan sedikit ke jembatan penyebrangan atau zebra cross. Selama merasa aman, nyelonong saja di tengah jalan. Jangan hitung masalah membuang sampah, meludah, juga membuang puntung rokok yang sembarangan. Tak usahlah rakyat biasa, mahasiswa juga kerap berbuat serupa.

             Bangsa kita memang betul-betul harus belajar menjadi pelayan, belajar menumbuhkan sense of crisis, belajar membuka mata serta hati untuk sekitar. Tidak perlu toh menjadi pembantu betulan untuk merasakan bagaimana letihnya merapikan rumah untuk sekadar mau mengembalikan segala sesuatu ke tempatnya setelah dipakai, atau mencuci piring setelah makan. Tidak perlu toh menjadi petugas kebersihan jalanan untuk mencicipi panasnya matahari sambil memunguti plastik-plastik permen, pembungkus sedotan, juga segel air mineral.

             Menyedekahkan diri untuk melakukan kebaikan, untuk melayani, memiliki definisi yang sangat jauh dari penjajahan. Tak usah muluk-muluk menjadi abdi, paling tidak keberadaan setiap kita, tidak boleh menjadi beban untuk lingkungan. Jika bisa memberi, itu nilai tambah yang lain. Sifat yang senang memberi justru dapat meninggikan derajat seseorang. Walaupun pada akhirnya, keikhlasan dalam bekerjalah yang menentukan. Jika pramugari saja demikian, bagaimana dengan pejabat negeri? Bagaimana dengan kamu, mahasiswa UI?

 

(Mutia Prawitasari)

Advertisements

One response to “A Sense of Crisis: Belajar Melayani

  1. ide tema nya bagus mute 🙂 saran aja, kalo ada istilah asing yang ga bisa diindonesiakan, dikasih definisi nya ya kaya “sense of crisis” 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s