Kebijakan Ekonomi, Apa Semua Efektif?

Pada tahun 2011, penduduk Indonesia  telah mencapai angka  ±241 juta jiwa. Dalam kurun waktu sepuluh tahun, Indonesia setidaknya menyumbang ±3,5 juta jiwa setiap tahunnya. Berita ini tentunya menjadi sangat miris ketika kita melihat aspek perekonomian masyarakat kita yang semakin memburuk. Penduduk yang semakin banyak jumlahnya bukannya makin membawa kita semakin kaya akan sumber daya manusia yang berkualitas yang akan memajukan kondisi kesejahteraan negara. Tetapi, keadaan tersebut malah makin mengurangi tingkat kesejahteraan per jiwa dari masyarakat Indonesia karena kesejahteraan itu semakin terbagi-bagi menjadi bagian-bagian kecil. Pertambahan penduduk memang akan meningkatkan jumlah angkatan kerja Indonesia. Tetapi, pertambahan angkatan kerja di Indonesia tidak diimbangi dengan pertambahan lapangan kerja sehingga terjadi ketimpangan antara angkatan kerja yang sudah bekerja dengan angkatan kerja yang masih menganggur.

            Salah satu kebijakan pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraaan para pekerja di Indonesia yakni dengan memberlakukan kebijakan Upah Minimum Regional (UMR), Upah Minimum Kota (UMK) atau Upah Minimum Provinsi (UMP). Setiap daerah di Indonesia memperlakukan tingkat upah minimum yang berbeda-beda disesuaikan dengan keadaan daerah itu. Upah minimum diusulkan oleh DPD dan disahkan oleh gubernur berdasarkan survey yang telah dilakukan di daerah tersebut. Tetapi, menurut saya, penetapan upah minimum kurang efektif. Jika kita perhatikan, penetapan upah minimum akan menyebabkan perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan menggaji karyawan dibawah upah minimum, mengurangi jumlah pekerjanya. Hal ini dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk mencegah kerugian karena  pengeluaran besar-besaran untuk menggaji karyawan. Pada keadaan ini, upah minimum malah akan meningkatkan pengangguran karena terjadi pengurangan karyawan. Memang di satu sisi, beberapa angkatan kerja mendapatkan kesejahteraan, tetapi, disisi lain, sebagian angkatan kerja mendapatkan kesengsaraan karena kehilangan pekerjaan.

      Dalam pembahasan sebelumnya, saya tidak menyetujui adanya upah minimum. Tetapi, saya akan menyetujui kebijakan tersebut jika ada sedikit tambahan. Tambahan itu yakni upah minimum di setiap daerah di klasifikasikan berdasarkan bidang yang ditekuni oleh sebuh perusahaan. Jadi, upah minimum untuk perusahaan tekstil berbeda dengan upah perusahaan makanan. Sebab, telah kita ketahui, pendapatan dari kedua perusahaan itu berbeda. Sehingga, penggajian untuk tiap perusahaan pun berbeda. Hal ini nantinya akan berujung pada penggunaan angkatan kerja semaksimal mungkin.

      Kebijakan pemerintah yang lainnya adalah dengan memberikan BLT (Bantuan Langsung Tunai) atau pembaharuannya yang disebut PKH (Program Keluarga Harapan) Menurut saya, hal ini nantinya akan menjadikan rakyat Indonesia makin betah untuk menganggur. Di kalangan umum, sering disebutkan bahwa” rakyat Indonesia terlalu senang menerima bantuan. Berbeda dengan masyarakat asing yang malu ketika menerima hal seperti itu.” Kalimat ini sepertinya ada benarnya juga, Oleh karena itu, sudah saatnya masyarakat diberi “kail” bukan “ikan”. Pemerintah seharusnya menggalakkan program yang berbasis pemberian modal seperti transmigrasi, pemberian lahan pertanian untuk digarap bagi petani yang tidak memiliki sawah sendiri ataupun KUR (Kredit Usaha Rakyat). Mari kita membangkitkan semangat kewirausahaan dan merencakan secara matang-matang.  Jangan hanya sekedar berwirausaha sebagai  sebuah “kecelakaan”.

      Menurut saya, yang terpenting dari pelaksanaan dari sebuah kebijakan adalah partisipasi positif dari pemerintah dan masyarakat. Namun, yang sering terjadi adalah kerja sama negatif antara oknum pemerintah ataupun antara pemerintah dengan pemilik modal. Masyarakat umum hanya dijadikan korban dari kerja sama mereka.

 

(Insani Arif Situmorang)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s