Ketelanjangan

“Beberapa hal mungkin seperti koin; ketika tegak, kedua sisinya tidak dapat jelas terlihat. Ketika digulingkan, hanya sebelah sisinya yang nampak.  Padahal, semestinya dilihat secara utuh – merangkul seluruh dimensinya. Karena jika terpenggal, maknanya menjadi beda. Karena jika dipisahkan, pesan yang ingin disampaikan jadi lebur. Ketelanjangan, salah satunya. Bukan sekedar kevulgaran, tapi juga unsur kejujuran. Mungkin potret emansipasi, ada juga yang menyatakan wujud keindahan. Namun arwahnya harus bergentayangan di dalamnya, agar bisa menyampaikan maknanya. Jasmaninya harus menyiratkan ketelanjangan yang nyata, agar pesannya menjadi utuh. Ketelanjangan tidak bisa dilihat setengah-setengah, tidak bisa dilihat sebelah mata. Karena keabsenan indera yang lain merancukan ketelanjangan itu. Karena ketelanjangan sendiri sebenarnya sudah satu. Karena bumbu-bumbu yang menyebabkan ketelanjangan menjadi vulgar. Karena pengetahuan dan hasrat yang menyebabkan ketelanjangan menjadi kenistaan. Ketelanjangan tanpa tatapan menggoda begitu hambar, ketelanjangan dengan kurap di kaki membuat mual, ketelanjangan dengan warna-warni membuat fantasi. Sepertinya ketelanjangan adalah koin. Ketelanjangan akan selalu pipih. Akan selalu dilihat sebelah-belah, setengah-tengah. Tidak utuh, karena manusia sendiri sebenarnya malu akan ketelanjangan. Karena arti sebenarnya ketelanjangan adalah ketelanjangan.”

 

Salihara, 2012 

 

 

Sabrina Nurul Afiyani

Kepala Divisi Penerbitan 2013/2014

@sabrinanurul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s