Rasisme, Sudah Hilang?

 Jika saya lontarkan ke anda, masihkah ada rasisme? Jawaban anda akan beragam, saya yakin. Namun, saya juga yakin banyak dari anda merasa rasisme sudah sangat jauh berkurang, bahkan bisa dikatakan hampir tidak ada.  Saya dan anda, bersama, juga setuju bahwa  memang sudah tidak zamannya lagi memberikan perlakuan yang berbeda berdasarkan pertimbangan ras. Bersama-sama, anda dan saya juga tahu bahwa sejarah sudah lama lewat saat orang kulit hitam harus menjadi budak atau orang Timur identik dengan bangsa tertinggal. Zaman sudah berbalik, anda dan saya mahfum itu. Obama sudah dua kali menjabat presiden Amerika. Sudah lama juga India, Cina dan Jepang menciptakan teknologi yang lebih maju dari Barat.  Hal yang fatalnya, saya takut jangan-jangan sudah tidak zamannya lagi saya membahas  rasisme seperti ini. Masih layakkah menurut anda?

Mari sedikit beranjak. Saya bukan penonton setia televisi. Anda mungkin juga sama atau tidak sama dengan saya. Lalu, kenapa saya ingatkan anda dan juga diri saya pada hobi itu? Begini, izinkan saya menarasikan. Apa yang kita dengar, lihat dan baca akan sangat memengaruhi apa yang kita lakukan, apa yang kita percayai. Orang sekolahan menyebutnya lewat istilah doktrin. Penanaman nilai tertentu lewat apa yang kita dengar, lihat serta baca. Tentu media menjadi wadah yang ampuh untuk doktrin dan hobi menonton TV atau film sangat membantu.

Lalu, apa sangkut pautnya itu dengan rasisme? Mari mengambil ilustrasi sederhana. Di televisi tentu banyak iklan. Mulai dari iklan layanan masyarakat yang kelewat kreatif sampai iklan produk teknologi yang dibungkus apik.  Ambil satu, iklan produk kecantikan. Lewat iklannya itu, mereka menyampaikan niat baik untuk membantu anda, memberi solusi atas permasalahan anda. Entah  masalah anda karena rambut kurang lurus, kulit hitam legam, atau badan melebar kesamping. Tapi benarkah itu masalah? Bukankah tidak masalah jika kulit anda hitam, rambut anda muter-muter, atau badan kesusahan mencari ukuran baju? Setidaknya, itu tidak menjadi masalah jika memang dengan semua masalah itu anda merasa tetap sama dengan orang lain. Lebih lagi, produk-produk yang memberikan solusi atas masalah itu semakin berkembang. Teori ekonomi sederhana mengindikasikan, bahwa permintaan untuk hal seperti itu kini makin banyak, dan produk itu pun makin laku. Mungkin anda dan saya bisa berkelit. Tetapi, mari kita perjelas lagi. Ras mengandung pengertian golongan bangsa berdasarkan ciri-ciri fisik. Sementara, rasisme bermakna bahwa ada keyakinan  ras yang melekat pada manusia menentukan pencapaian budaya. Dalam rasisme, akan ada ras yang dianggap lebih superior, lebih sempurna. Lalu, tidakkah dalam “penerangan” yang dilakukan oleh produk-produk dalam iklan tersebut menyiratkan bahwa ada satu kondisi fisik yang lebih baik? Fisik yang beda dari standar adalah masalah. Fisik yang sempurna itu ya seperti yang produk mereka jargonkan. Tentu tidak salah jika saya melihat itu sebagai sebuah pemikiran rasisme. Jelas alasan saya, masih ada perbedaan perlakuan fisik dalam jargon mereka. Dan perbedaan perlakuan karena kondisi fisik yang melekat pada diri saya dan anda, apakah merupakan sebuah permulaan dari rasisme?

 

Riyan Hidayat Ali

Pemimpin Redaksi Majalah Economica

@riyanhidayat16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s