Melodi Dunia Tetangga

Aku adalah penikmat musik. Musik apa saja, asal tidak terlalu sulit dipahami. Pop suka, klasik juga suka. Jazz yang masih ringan-ringan saja juga tidak apa-apa. Tapi aku hanya sekedar penikmat. Bukan pemain, apalagi pembuat. Sejak kecil aku diajari menyanyi, menari, menggambar, yah, pelajaran kesenian biasa di sekolah dasar, tapi tidak pernah musik. Entah kenapa sekolah dulu tidak menyertakan musik dalam kurikulumnya. Mungkin karena instrumennya mahal.

Aku juga tidak terlalu menikmati olahraga, dan sama sekali tidak berbakat  dalam olahraga. Tapi halaman favoritku di koran adalah halaman olahraga. Alasan utamanya karena halamannya penuh dengan gambar-gambar atlet dalam berbagai pose. Entah kenapa, aku memperhatikan, foto-foto atlet itu memberi aura yang berbeda. Foto atlet yang dalam ekspresi terjeleknya pun ketika sedang berlari di lapangan selalu punya daya tarik dibandingkan foto, misalnya, seorang profesor yang sedang memberi kuliah umum di balai sidang, meskipun dua-duanya adalah foto yang sama-sama tergolong biasa.

Di keluargaku sendiri, darah seni maupun olahraga tidak terlalu mengalir. Paling banter, aku punya almarhum Paman yang bisa melukis. Dan cuma satu itu. Selebihnya di keluargaku adalah wiraswastawan yang lebih suka jualan atau akademisi yang lebih suka belajar.

Di masyarakat sendiri, profesi di dunia musik dan olahraga masih susah untuk jadi profesi yang top of mind. Jarang anak TK berkata cita-citanya adalah jadi musisi, atau penari (meskipun yang bercita-cita jadi pemain bola sudah lumayan banyak). Maka orang tuaku juga tidak pernah mendorong ataupun mencoba mengenalkan anak-anaknya pada musik dan sangat memaklumi ketidaktertarikan kedua anaknya pada dunia olahraga.

Lalu kemarin aku bertemu dan bercakap-cakap dengan seorang teman. Aku baru saja kenal dengannya. Tapi dia banyak bercerita. Tentang dirinya, dan tentang hidupnya. Dia seorang musisi, tapi kuliah di fakultas ekonomi.

“Kuliah di sini bikin gue merasa hidup di dua dunia,” kata dia. “Kumpulan orang-orang cerdas jenius dari penjuru Indonesia belajar bersama itu beda banget dengan dunia gue yang lain itu.”

“Bukannya di dunia musik juga ada yang jenius ya? Yang bisa main musik dengan sempurna meskipun latihannya nggak sekeras yang lain?” tanyaku.

“Ada sih. Dan gue juga sering frustasi kalo ketemu mereka. Gue kesel sama diri gue sendiri kalo gue udah berusaha keras tapi nggak bisa-bisa juga menyamai mereka. Demot gitu,” dia diam sebentar.

“Tapi terus ketika gue demot, gue akan main musik.”

“Dan di situ anehnya, atau mungkin justru charming-nya musik. Ketika gue kesel, ketika gue demotivasi karena kemampuan gue ga berkembang-berkembang, maka hal pertama yang akan gue lakukan ya main musik.

“Musik,” lanjut dia, “itu aneh. Gue mau menghabiskan waktu gue kira-kira 4 jam sehari cuma buat main musik, karena gue tahu satu-satunya cara untuk bisa lebih maju dari kemampuan gue sekarang adalah dengan main lebih banyak, latihan lebih banyak.”

“Itu menurut gue yang membedakan orang-orang musik – dan olahraga mungkin – dengan akademisi. Itu adalah dunia dimana kerja keras benar-benar terbukti bisa melebihi bakat,” tutupnya.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali setelah mendengar itu. Bukan karena mendengar jawabannya yang cukup panjang, tapi karena tiba-tiba aku sadar. Itulah jawabannya kenapa foto para olahragawan itu – dan mungkin juga musisi – ketika tengah berlatih, bersimbah keringat baik di lapangan ketika sedang berjuang atau saat di podium menerima medali, tampak begitu indah. 

 

Yuanita Intan

Staf Divisi Penerbitan 2013/2014

@yuanitais

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s