Payung Hitammu dan Aku

Bajumu yang merah, basah, tersiram hujan deras hari itu. Payung hitammu yang waktu itu aku pinjam, belum sempat aku kembalikan.

 

Bukan, bukan untuk membiarkanmu basah.

Bukan, bukan untuk membiarkanmu kedinginan .

 

Aku, aku, telah lama terpesona pada sayap-sayap rapuh yang tak pernah kau keluarkan. Terpesona pada lingkaran malaikat diatas kepalamu yang tak pernah kau pancarkan. Maka kubiarkan hujan hari itu membasahi dirimu, dan izinkanlah sekali lagi kuintip pesonamu yang hanya muncul ketika hujan.

 

Kuharap hujan turun tiap hari.

 

Kamu menggumam, na..na.. lalu la.. takjelas, nada-nada berantakan yang berlarian, lantas aku tersenyum. Kamu seperti Lucifer, kamu tahu?

Lucifer yang membisikkan aku sebaris nada dasar, tapi lantas kuanggap Cavatina. Pantas kamu dibuang dari surga, aku bicara dalam hati. Lalu kamu menatapku, tatapan itu, ahhh… kamu seperti Medusa, dengan ular-ular kasat mata, yang tak pernah bisa kulihat. Aku membeku, tapi tak pernah jadi batu.

 

Hanya saja hatiku.

Ia beku, batu, sudah sejak lama, sejak hujan pertama membasahi baju merahmu.

 

Kamu menatap tanganmu yang gemetar dingin, aku hanya berani menatapnya dari jauh, sambil sesekali melempar pandanganku pada entah siapa, mungkin Poseidon atau Zeus, atau ahh… aku lupa. Kenapa tak kau satukan jari-jari gemetar itu, buat mereka memeluk satu dengan lainnya? Biarkan mereka jadi kawan yang membagi dingginya dunia, tapi ahh… aku lupa, aku memang insomnia.

 

Kamu punya ia, yang  tak perlu kau pinta, hangatkan jari, hentikan gemeletuk gigi, dan keringkan rambut hitam basahmu yang mempesona. Akutertunduk, lalu melempar pandanganku jauh, menatapkaudandia, satu-satu bergantian.

Kalian seperti Romeo dan Juliet yang tidak mati, seperti Mughal danMumtaz yang juga tidak mati. Aku paham. Maka hanya kutatap kalian dari kejauahan.

 

Tidak, tidak dengan benci. Karena sejak hujan pertama, ia sudah lama membawa pergi benciku, membawanya turun ke anak-anak sungai, hingga jauh ke samudera-samudera besar. Ia sudah lama tenggelam, atau dimakan hiu, atau terjebak di Segitiga Bermuda dan tidak mungkin kembali, jelas tak perlu kau risaukan.

***

Hari ini hujan belum juga berhenti, kuberanikan diriku. Kudekati kamu perlahan, tanganku gemetar, tapi biar. Kusodorkan payung hitam yang kupinjam waktu itu, kamu menatapku bingung, lalu tersenyum. Buru-buru aku, tak sempat membalas senyum yang entah mirip siapa, aku tak bisa lagi menyamakannya.

 

Hujan kini membasahiku, seperti biasanya. Aku tak pernah memakai payung hitammu, kamu tahu?

 

Payung itu, payungmu, tidak akan pernah bisa menghalangi hujan membasahi rambut hitamku, tapi tetap saja ku pinjam. Karena aku tahu, payung itu mampu, mampu menghalangi akudari pesonamu yang tak pernah pudar rasanya.

 

Aku menghela nafas panjang, memandangi jari-jari kakiku yang gempal dan genangan air yang sejak tadi membasahinya.

 

Teruntuk Lucifer, Medusa, Romeo, dan Mughal dalamcerita. Tak akan pernah ada jembatan yang cukup panjang yang bisa menghubungkan aku dengan kalian, jadiku bangun saja tembok sebesar Tembok Cina dan kuibaratkan kamu sebagai musuh Qin, Han, atau Ming.

 

Teruntuk musuh Qin, Han, atau Ming, kuharap hujan turun tiap hari. Membasahi kamu, dan mengalirkan pesonamu, mungkin kelak akan sampai pada sumur di belakang rumahku, yang airnya ku pakai membasuh wajahku, atau yang kupakai untuk menghilangkan dahagaku.

 

Teruntuk baju merahmu yang basah dan payung hitammu yang tak pernah aku pakai. Aku harap hujan turun tiap hari, menyampaikan rinduku, padamu. Padamu yang tak bisa kueja namanya.

 

Dan teruntuk insomniaku yang parah, terima kasih sudah menurunkan hujan tiap hari yang membawa pergi kenanganku hingga ke ujung samudera yang tak pernah kuketahui tempatnya.

 

Sampai jumpa Lucifer, Medusa, Romeo, Mughal, musuh Qin, Han, atau Ming.

Sampai jumpa di ujung samudera kelak.

***

Bajumu yang merah, basah, tersiram hujan deras hari itu. Payung hitammu yang waktu itu aku pinjam, belum sempat aku kembalikan.

Aku memandangimu dari jauh,

Memperhatikanmu dalam remang kabut hujan,

Menganggumi dari sisi tembok besar, tak terlihat,

Mencintaimu dalam diam.

 

 

Syapira Surya

Staf Divisi Penerbitan BOE 2013/2014

@syapirasry

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s