Tamasya

Manusia punya berbagai cara untuk memuaskan diri. Beberapa suka baju bermerk. Yang lain menyenangkan nafsu dengan makanan mewah. Ada juga yang pergi bertamasya. Mungkin karena makin canggihnya teknologi dan kemudahan di berbagai hal, tamasya menjadi cara memuaskan diri yang semakin lazim dilakukan, bahkan konon oleh kaum muda.

Berbeda dari barang yang fana karena habis digunakan, tamasya adalah sesuatu yang lebih dari sekadar pemuasan diri. Ini adalah pengalaman yang mampu memperkaya hidup seseorang—apabila mau diperkaya. Tidak peduli seberapa baiknya rancangan, orang yang hendak bertamasya dihadapkan pada keterbatasan untuk mengetahui apapun yang terjadi selama perjalanan. Apakah perjalanan akan menyenangkan? Akankah pulang? Maukah kembali untuk menjadi manusia yang sama?

Mereka yang berkenan diperkaya harus mau mengakui keterbatasannya dan menyerahkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sepenuhnya kepada perjalanan itu sendiri. Hambatan, terprediksi atau tidak, terkendali atau tidak, akan terjadi. Perjalanan mungkin akan menyisakan pilihan untuk mengandalkan kebaikan hati orang-orang yang takdirnya dipertemukan untuk membantu dan kemudian pergi,mungkin tanpa pernah bertemu lagi. Ajaibnya terkadang, pertolongan datang dari orang asing tanpa diminta dan tanpa meminta izin.

Momen seperti itu mungkin jarang dinikmati mereka yang pekerjaannya telah mengendalikan jiwanya dan matanya dikaburkan oleh dunia. Karena itu, tamasya adalah kesempatan berharga untuk membersihkan mata dari segala kotoran jiwa dan debu di mata yang membuat kita melihat segala sesuatu hanya tentang kita. Bahwa pada saatnya, ada orang-orang asing yang bersedia memberikan sebagian waktu yang tersisa dalam hidupnya untuk menolong orang asing baginya.

Kalau begitu, bukankah kita membutuhkan momen seperti itu untuk sering terjadi? Mengakui keterbatasan diri dan menyaksikan mekanisme dunia mengulurkan tangan? Bila ya, mungkin kita perlu lebih banyak merancang ‘tamasya-tamasya’ lain dalam kehidupan. Mungkin dalam skala yang lebih besar seperti ketika memilih pekerjaan atau kesempatan-kesempatan lain.  Sesekali perlu juga menyempatkan diri menolong orang lain di tamasyanya yang sedang kacau.

Akhirnya, puaskah sekarang?

Nadya Priscilya Hutajulu

Redaktur Eksekutif Divisi Penerbitan BOE 2013/2014

@nadyaprisclya

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s