Peraturan Basket Indonesia yang Prematur

IBA (Fédération Internationale de Basket-ball) adalah organisasi basket Internasional yang menaungi organisasi basket nasional dari berbagai negara. Hingga kini, FIBA memiliki 213 negara anggota. Tugas FIBA adalah membuat peraturan basket, mendefinisikan peralatan dan sarana yang digunakan secara spesifik.

Namun, peraturan yang dibuat FIBA tersebut tidak mengikat pada kompetisi lokal di masing-masing negara. Organisasi tingkat nasional ataupun tingkat wilayah dapat memodifikasi peraturan sesuai dengan kebutuhan masing-masing, seperti liga basket Amerika Serikat (NBA) yang setiap babaknya berlangsung selama 12 menit. Pada peraturan FIBA, setiap babak lamanya 10 menit. Hal ini membuat peraturan dan regulasi pertandingan basket di tiap negara bisa berbeda-beda.

Perbedaan peraturan dan regulasi basket juga terjadi pada liga basket antar mahasiswa di Indonesia dan di Amerika Serikat. Di Indonesia, liga basket mahasiswa dikenal dengan nama campus league sementara di Amerika Serikat disebut dengan NCAA. Ada tiga peraturan yang akan penulis soroti dalam tulisan ini, diantaranya banyaknya babak yang dimainkan, lamanya shot clock dan jarak garis three point beserta tingginya rim basket. Campus League Indonesia menyamakan peraturan tersebut dengan kompetisi profesional mereka (NBL) sementara di Amerika ketiga peraturan yang digunakan NCAA berbeda dengan yang mereka gunakan dalam NBA

  1. Banyaknya babak yang dimainkan

Campus league di Indonesia menggunakan peraturan FIBA yaitu setiap pertandingan terdiri dari 4 babak, masing-masing babak terdiri dari 10 menit. Sementara, NCAA memodifikasi peraturan FIBA setiap pertandingan basket di NCAA terdiri dari 2 babak setiap babaknya berlangsung 20 menit.

Sisi positif dari peraturan yang digunakan oleh Campus League Indonesia dibandingkan dengan NCAA Amerika adalah para mahasiswa Indonesia sudah terbiasa apabila mereka nanti bermain di tingkat profesional mereka (NBL). Sisi negatifnya (dibandingkan NCAA) dengan banyaknya babak yang dimainkan, tekanan semakin berat. Tekanan ini dirasakan belum cukup untuk mahasiswa sehingga membuat energi pemain berkurang dan daya kreativitas dalam permainan berkurang.

  1. 2.       Lamanya shot clock

Shot clock adalah batasan waktu dimana tim yang sedang menyerang harus melemparkan bola ke ring (harus mengenai ring atau masuk ke dalam keranjang). Apabila hal ini tidak terpenuhi maka dihitung sebagai pelanggaran dan bola berpindah ke tim lawan. Campus league menggunakan shot clock selama 24 detik sementara NCAA (putra) selama 35 detik.

Keuntungan campus league dibandingkan NCAA adalah para atlet yang akan melanjutkan karir basket di NBL tidak akan kesulitan untuk beradaptasi. Selain itu waktu yang lebih sedikit ini membuat tim-tim di campus league mengembangkan teknik-teknik penyerangan yang baru.

Namun, sisi negatifnya adalah mahasiswa belum sehebat dan sepandai pemain profesional. Waktu 24 detik dirasa terlalu cepat bagi para mahasiswa untuk mengaplikasikan pola-pola penyerangan secara efektif karena skill-skill permainan mahasiswa belumlah profesional. Pada akhirnya, pola penyerangan yang diterapkan tidak tuntas sehingga ketika shot clock hampir habis, para pemain memaksakan diri melakukan lemparan bola ke ranjang. Hal negatif seperti diatas diminimalisir oleh NCAA dengan memberikan shot clock sebanyak 35 detik para mahasiswa dapat menerapkan teknik penyerangan dengan efektif karena memang mahasiswa memerlukan lebih banyak waktu dibandingkan dengan profesional dalam menerapkan suatu teknik penyerangan.

  1. Jarak garis three point dan tinggi rim basket

Dalam peraturan campus league, jarak garis three point dan tinggi rim basket ukurannya sesuai dengan peraturan FIBA untuk tingkat profesional. NCAA memodifikasi peraturan tersebut dengan mengurangi jarak garis three point dan memperpendek tingginya rim basket. Menggunakan peraturan yang sama dengan peraturan FIBA untuk tingkat profesional memiliki dampak buruk tersendiri bagi atlet mahasiswa Indonesia. Atlet yang masih menempuh pendidikan di bangku kuliah – lagi-lagi – tidaklah sekuat pemain profesional. Otot-otot mereka belum tumbuh sebesar pemain profesional. Alhasil dengan jarak dan tinggi yang tidak dikurangi mereka mengeluarkan tenaga yang lebih besar dibanding pemain profesional.

Dalam olahraga baskset ada istilah yang disebut shooting from. Shooting from adalah kuda-kuda sebelum melakukan lemparan. Karena para atlet mahasiswa membutuhkan banyak energi agar lemparannya masuk ke dalam rim, shooting form yang dilakukan oleh para atlet banyak yang salah. Hal ini akan menjadi kebiasaan yang akan membuat shooting form mereka salah selamanya. Shooting form yang salah membuat lemparan menjadi tidak efisien. Berbeda dengan atlet mahasiswa Amerika, mereka tidak mengalami hal demikian karena jarak garis three point mereka lebih kecil dan tinggi rim basketnya lebih pendek.

               M. Dwi Nugraha

Staf Divisi Penerbitan BOE 2013/2013

@dwi__nugraha

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s