Tentang Pemilu Legislatif dan Golongan Putih

Pesta demokrasi tidak lama lagi akan berlangsung di negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia. Calon-calon pemimpin negeri ini sudah mulai bergerilya melobi calon-calon pemilih dengan iklan yang memenuhi media cetak dan eletronik, bahkan di jalan-jalan sekalipun. Namun, bagaimana kita, sebagai calon pemilih, harus menyikapinya?

Teringat dengan pepatah yang disampaikan Desmond Tutu, “If you are neutral in situations of injustice, you have chosen the side of the oppressor”. Lalu saya bertanya kepada teman-teman saya, apakah mereka akan menyumbangkan satu suara mereka dalam Pemilihan Umum (Pemilu) kali ini. Satu jawaban membuat saya sedikit menyernyitkan alis. Beberapa dari mereka berencana menjadi golongan putih dalam pemilu legislatif tahun ini. Mereka menyebutkan bahwa untuk apa memilih wakil rakyat yang tidak dikenal dan memiliki bibit bebet bobot yang tidak jelas.

Saya sedikit banyak setuju dengan alasan mereka untuk menjadi golongan putih. Kasarnya dapat dikatakan, siapa sih yang kenal mereka? Apa sih visi dan misi yang akan mereka bawa semisalnya mereka maju? Apakah mereka dapat mengakomodasi suara rakyat dalam rapat-rapatnya nanti? Hal ini tidak hanya terjadi pada calon legislatif wajah baru saja, tetapi juga mereka yang sudah terpilih dan kembali mengikuti bursa pemilihan anggota legislatif nanti. Informasi-informasi mengenai mereka dapat dibilang agak sulit untuk didapat oleh calon pemilih. Meskipun riwayat hidup seluruh calon legislatif dipublikasikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di situs resminya, namun ini dapat dinilai kurang efektif melihat akses internet tidak dimiliki oleh mayoritas penduduk Indonesia. Tentu saja ini sangat men-discourage kita untuk menyumbangkan suara nantinya. Kendati demikian, apakah alasan diatas dapat membenarkan pilihan kita untuk menjadi apatis di pemilu ini?

Saya sendiri sangat tidak setuju dengan keputusan untuk menjadi golongan putih. Menurut saya, mereka yang memilih jalan ini dapat dibilang sebagai orang yang sangat tidak peduli dengan kemajuan negeri. Seharusnya mereka dapat memberikan support untuk memilih calon legislatif yang baik. Lagipula apa susahnya sih untuk membuka situs resmi KPU? Meskipun dari riwayat hidup calon legislatif tersebut tidak memberikan gambaran yang konkrit apakah mereka calon yang baik atau tidak, tapi mungkin kita dapat melihat dari sisi pendidikan si calon tersebut, apakah mumpuni untuk menjadi wakil rakyat atau tidak, atau mungkin dapat dilihat dari asal usul mereka, apakah representatif jika mereka menjadi wakil di daerah pilihannya.

Selain itu, saya sedikit kesal dengan orang-orang yang termasuk golongan putih ini apabila mereka mengkritik atau bahkan melakukan demonstrasi terkait dengan keberlangsungan pemerintahan. Menurut saya, mereka sangat tidak memiliki hak sama sekali untuk mengkritik, toh mereka juga tidak memilih. Bagi mereka yang memiliki, mereka memiliki hak untuk mengkritik apabila anggota legislatif nantinya keputusan dan kebiijakan yang mereka buat tidak mengakomodir kebutuhan rakyat. Mereka dapat meminta tanggung jawab dari pemimpin yang dipilihnya ini. Sedangkan konsekuensi dari pilihan mereka yang tidak memilih adalah mereka tidak memiliki hak untuk mengkritik apalagi mendemo pemerintahan yang sedang berlangusng. Secara tidak langsung, pilihan untuk menjadi golongan putih mengharuskan mereka untuk menerima apa adanya terkait dengan keputusan dan kebijakan yang dilaksanakan. Jadi akan sangat mengesalkan apabila ada orang yang termasuk golongan putih dan suka mengkritisi pemerintah.

Mengenai pepatah Desmond Tutu, saya seratus persen setuju dengan pepatah tersebut. Untung saja pemerintahan Indonesia adalah pemimpin Indonesia sekarang tidak berlandaskan otoriter atau sejenisnya. Jadi dengan pilihan mereka untuk menjadi golongan putih tidak terlalu merugikan orang lain. Coba bayangkan apabila Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang otoriter. Apakah tidak menyebalkan jika pada satu pemilu ada sekelompok orang yang tidak memilih sama sekali antara pilihan pemimpin yang otoriter dan tidak otoriter?

Yang terakhir, mungkin mereka berpikir satu suara mereka tidak akan mempengaruhi keputusan siapa pemenang pemilu ini. Mungkin kalau satu atau dua memang tidak berpengaruh, tapi apa mereka tidak tahu kalau tidak hanya mereka yang memiliki pemikiran yang sejenis dengan mereka. Bagaimana kalau ada seribu orang yang tidak memilih, atau mungkin sepuluh ribu, atau seratus ribu, atau bahkan satu juta.

Menjadi golongan putih memang merupakan pilihan dan konsekuensi dari proses demokrasi. Tapi saya sangat berharap kalian untuk mempertimbangkan pilihan kalian jika kalian memiliki pikiran untuk menjadi golongan putih di Pemilu kali ini.

 

Fikri Muhammad

Staff Divisi Penerbitan BOE 2014

@f_ik_ri

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s